Showing posts with label Cakra dan Lysa. Show all posts
Showing posts with label Cakra dan Lysa. Show all posts

Saturday, July 17, 2010

Cakra dan Lysa: I Remember (edisi 3)

Akhir Desember, satu tahun yang lalu

PUTUS

P-U-T-U-S

Satu kata yang mungkin paling dihindari oleh mereka yang sedang memadu romansa. Atau sebaliknya, mungkin kata itulah yang paling ingin diucapkan ketika dua sejoli sedang dalam nelangsa. However, Breaking up with your oh-so-called-beloved-boyfriend/girlfriend is sucks, rite? Apalagi ketika kamu masih cinta padanya. Apalagi ketika kamu (sialnya) diputuskan karena alasan-alasan yang klise.

“Satu tahun bukan waktu yang sebentar, Lysa …aku takut kita nggak berhasil melewati ini,”

“Seingatku,selama hampir dua tahun pacaran, kita long distance. Lalu apa bedanya?”

“Aku akan ke Jepang Lysa, bukan di Depok!”

“ Apa gunanya manusia menciptakan teknologi bernama telepon dan internet? Kita kan masih bisa telepon, chatting, video call…kok kamu jadi ragu gini sih? Bukannya selama ini kamu yang selalu meyakinkanku kalau jarak bukan penghalang? ”

“Aku sedang fokus dengan kuliahku, Lysa…justru aku nggak mau nyakitin kamu. Kamu tau kan aku sibuk, banyak kegiatan. Aku takut nggak bisa menjadi pacar yang baik karena nggak bisa membagi waktu… ”

“Dan kamu baru bilang itu sekarang, setelah dua tahun kita pacaran? What a cliché! Is there any logic reason, Rahyang Sadewa??? You know what, You’re such a selfish person!”

“Yeah, I am. Sorry,”

“Ok, I got the point then…it’s over now. ”

“Am sorry, we’re still a friend, aren’t we?”

“Hmm,yeah, of course…”

Kenapa lelaki sering sekali memberi alasan klise ketika akan memutuskan pacarnya? Kalau memang sudah jenuh, bosan, jengah, tak cinta, atau suka sama perempuan lain, ya katakan saja! Apa susahnya sih? I know that most of women love white lies. But for me, knowing the truth is better. Even it will kills me.

Tapi ya sudahlah. Saya bukan tipe pemaksa. Saya tidak akan memaksa dia untuk tetap disini. Sebuah hubungan harus didasari atas kemauan dua orang. Kalau salah satu sudah tidak mau, ya mau apalagi?

Moreover, plenty of fish in the sea.

He’ll replacable.

I’ll fine without him.

Tidak percaya?

Hmm,oke, tidak semudah itu juga sih menggantikan posisi Rahyang.

Hmm baiklah, saya mengaku. Saya tidak baik-baik saja.

My two years relationship is over.

And the worst part is,

I’m still loving him.

ARGH!

Hari-hari berikutnya saya habiskan dengan mengurung diri di kamar. Terbukti, saya memang gadis sok kuat dengan tingkat kegengsian di atas rata-rata.

Januari

“ Welcome, new year! It’s time to forget the past and start a new life. What’s your resolutions then?”

“None.”

“Ayolah Licong...masa kamu nggak punya resolusi sih?”

“Memang harus punya resolusi? Memang ada peraturan yang mewajibkan manusia membuat resolusi tiap awal tahun?”

“Widih, galak amat Bu! Ya nggak ada peraturannya sih. Tapi kan dengan punya resolusi, kamu jadi punya target. Hal-hal apa saja yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki diri dari tahun sebelumnya. It’ll be motivating you though…” jelas Teh Jingga sambil menyalakan rokok di tangannya.

“Jadi, apa resolusi kamu?” lanjut Teh Jingga.

“Tidak akan jatuh cinta untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. There’s no such thing as love , “

Teh Jingga kemudian menatap wajah saya lekat-lekat.

“Masih keingetan Rahyang?”

“…”

“Hhh…Licong Sayang…kamu kayak nggak pernah ngerasain patah hati aja sebelumnya. Bukankah itu konsekuensi dari mencintai? Jadi jangan bilang nggak akan jatuh cinta lagi…Pamali lho!”

“Hhh..kenapa saya kemaren mau-maunya mengantarkan Rahyang ke bandara? Argh…bodohnya!”

“Itu membuktikan kalau kamu masih peduli sama dia,”

“Ya tapi buat apa peduli sama orang yang jelas-jelas tidak memedulikan kita lagi? Lagian kok saya mau-maunya ngikutin permintaan dia! Toh itu tidak akan membuat dia kembali sama saya… ”

“Hmm, kalau bagi teteh sih, kepedulian yang didasari oleh ketulusan sudah lebih dari cukup ketimbang terus memikirkan bagaimana cara agar orang itu peduli pada kita. Terkadang memang kita harus puas dengan memberi,tanpa pernah diberi. Tapi ya kamu juga benar. Kadang-kadang segala sesuatu harus seimbang. What we usually called: take and give…ribet ya? Hahaha… udah ah Cong, jangan sedih terus. Kita nongkrong-nongkrong aja mendingan, yuk!”

“lagi nggak mood,”

“ayolaaaahhhh….kita ngopi-ngopi di daerah Dago atas”

“kan saya nggak suka kopi,”

“Heuh kamu mah meuni sagala nggak suka. Coklat, es krim, kopi…pantes aja badan kamu kurus gitu. Ya udah lah kita sightseeing di sana…”

“Hmm…ya udah, ”

***

Selasar Art Space selalu menjadi tempat favorit Teh Jingga. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengamati lukisan dan karya seni yang dipamerkan disana, menyaksikan pertunjukkan para seniman di amphitheatre, atau sekedar menikmati city view sambil menyeruput capucinno. Sepertinya Selasar Art Space juga akan menjadi tempat favorit saya. Jujur, saya langsung jatuh hati begitu pertama kali datang ke galeri tersebut.

“Serius baru pertama kali datang ke sini?” Tanya Teh Jingga dengan tatapan tak percaya. Saya mengangguk,

“You know that am not a café person…”

“it’s not just a café. . .it’s an art gallery! You ought to come to this place since a long long time ago,”

“Haha. Udah sejak lama ingin kemari. Tapi nggak pernah ada temen…I’m not that ‘’GAUL”, you know that…”

“That’s why I invite you to this place, ”

“Thanks for inviting me then ,such an honour for me, Mrs.Jingga .. “

“Wah, kayaknya lagi ada performance di amphiteathre…lihat ke sana yuk?” seru Teh
Jingga seraya mengajak saya ke tempat tersebut. Begitu sampai kesana, kami melihat seorang perempuan tengah membacakan puisi di atas panggung.

“Rame juga penontonnya. Ada acara apa sih Teh?”

“Nggak tau. Bentar Teteh Tanya dulu,” Teh Jingga kemudian bertanya kepada orang yang duduk disebelahnya.

“Anak FSRD lagi ngadain pameran seni rupa gitu katanya di tempat ini. Pertunjukkan disini juga salah satu rangkaian acara mereka katanya…”

“Oh…”

“Mau liat pamerannya nggak? Skalian ngeceng-ngeceng sama anak FSRD…ha ha ha,” seru
Teh Jingga

“Haha. Liat pamerannya sih mau. Tapi untuk ngeceng-ngecengnya nggak deh!”

“Duh, yang lagi patah hati…plenty of fish in the sea darling, believe me…!”
Saya Cuma tersenyum simpul sambil kembali memperhatikan jalannya acara. Tiba-tiba pandangan saya terhenti pada satu titik. Mata saya terfokus pada sesosok manusia yang sedang berdiri di pinggir panggung. Saya perhatikan sosok itu lekat-lekat. Sepertinya saya tak asing dengan sosok tersebut…
…
…
YA TUHAN!

“Eh, kita pesen makan yuk…Teteh udah laper nih,” Ujar Teh Jingga seraya beranjak dari tempat tersebut.

“Hmmm, Teh toilet dimana sih? Teteh duluan aja, saya mau ke toilet dulu. Nggak apa-apa kan?”

Teh Jingga mengangguk sambil menunjukkan arah toilet. Setelah Teh Jingga pergi, saya kemudian mendekati panggung.

“Cakra?”

Lelaki itu menoleh.

“Lysa! Wow, kita ketemu lagi! Lagi ngapain di sini?”

“Hahaha, such a coincidence again! Sepupu saya lagi ingin ngopi, jadi saya temenin deh. Kamu sendiri?”

“there’s no such thing as coincidence! Fakultas saya lagi ngadain pameran seni rupa gitu. Nah, saya jadi panitia sekaligus pengisi acara. Eh, saya udah disuruh tampil nih. Kamu jangan kemana-mana ya! Jangan ngilang kayak pas lomba foto waktu itu!”
Saya mengangguk.

“Eh, beneran! Jangan kemana-mana! Saya tampil Cuma 15 menit kok,”
Saya mengangguk lagi.

Cakra naik ke atas panggung sambil membawa gitar. Bersama dengan tiga temannya, ia membawakan beberapa buah lagu secara akustik. Well, I’m starting to believe that there’s no such thing as a coincidence! Tiga kali sudah kami bertemu di tempat yang tak terduga. There must be something behind our rendezvous. Something called destiny, maybe?

Anyway, lelaki bernama Cakra itu, selain jago memotret juga ternyata mahir bermain gitar. Saya sedang terhanyut dengan penampilan Cakra dan bandnya ketika tiba-tiba ponsel saya berdering.

“Heh, kamu lagi ngapain sih? Kok ke toilet lama banget??? ”

Ya ampun, Teh Jingga!

“Eh, teteh maaafff…..saya ketemu temen disini. Dia minta saya untuk liat performance nya. Ya udah bentar lagi saya ke sana ya selesai dia manggung. Atau teteh mau kesini?”

“Oh ya udah kamu liat aja dulu. Teteh juga lagi hotspotan kok…”

“Ok Teh, makasih ya. Nanti kalau udah selesai saya langsung ke sana ya…”

Klik.

Cakra baru saja menyelesaikan lagu terakhirnya. Tak lama kemudian dia turun dari panggung dan menghampiri saya.

“Ternyata kamu anak band juga?”

“Haha. Ya begitulah. Mengisi waktu luang. Sama kayak fotografi, iseng-iseng aja. Daripada nggak ada kegiatan,”

“Kenapa nggak diseriusin aja? Seems like you’re potential in those fields”

“ Saya sama anak-anak juga lagi mau buat EP. Kalau untuk fotografi sendiri, jujur aja, saya mulai berpikir untuk menggelutinya secara serius. Apalagi setelah ikut lomba kemarin,”

“Baguslah kalau begitu! Ohya, hadiahnya dipakai buat apa? Secara dapet lima juta….hahahaha”

“Sebagian saya tabung buat beli lensa. Sebagian lagi saya kasih buat Bu Ratna,”

“Bu Ratna? Ibu kamu?”

“Bukan, bukan. Ibu Ratna itu objek yang ada di foto saya. Kamu masih inget kan foto saya? Setelah peristiwa KDRT itu, saya membawa beliau ke sebuah LSM. Beliau nggak punya saudara di Bandung. Nggak punya tempat tinggal, nggak punya kerjaan… Saya emang nggak bisa ngasih banyak. Tapi setidaknya beliau bisa menyambung hidupnya. Kadang saya ngerasa bersalah. Saya motret seseorang yang lagi kena musibah, trus saya dapet juara lagi. Seperti mendapat keuntungan di atas penderitaan orang lain, ”

“Tapi kan kamu nggak sengaja ketemu Bu Ratna? Lagian bagi Bu Ratna, mungkin kamu adalah penyelamat hidupnya…Trus gimana keadaan Bu Ratna dan anak-anaknya? Beliau tinggal dimana sekarang?”

“Bu Ratna masih tinggal di Rumah Pelangi. Dari hari itu saya belum sempat mengunjungi Bu Ratna lagi. Malah saya baru mau ngasih uang itu besok…Kamu mau ikut? Ya kali aja kamu nggak ada kegiatan. Kalau nggak salah, besok juga akan ada gathering… kamu bisa cari tau soal KDRT dan sebagainya. Nyambung juga kan sama kuliah kamu?”

“Liconnngg, udah selesai belum urusannya? Teteh sendirian nih di sana…” tiba-tiba terdengar suara Teh Jingga memanggil nama saya.

“Udah kok Teh…eh iya, kenalin ini temen saya, Cakra. Cakra, kenalin ini Jingga, sepupu saya.”

Mereka pun berkenalan.

“Hmm…ohya, Cakra, sepertinya menarik. Tapi lihat besok deh ya! Kalau gitu saya duluan ya. Terima kasih atas tawarannya,“

“Oke. Saya minta nomer handphone kamu deh,biar besok gampang kabar-kabarinya.”
Kami bertukar nomor ponsel. Setelah itu saya beranjak dari tempat tersebut. Teh Jingga langsung menginterogasi saya dengan berbagai pertanyaan.

“Kok kamu nggak cerita punya temen sekeren itu?”

“Orang baru kenal juga kok Teh…”

“Kenal dimana? ”

“Wah bingung juga nyeritainnya…” saya kemudian menjelaskan asal mula mengenal Cakra.

“Aneh bangeeet!!! Terus dia minta nomer hape kamu buat apa? Cieeeeeeeee…”

“Cie kenapa lagi ini? Dia mau ngajakin saya ke LSM besok. Ah,tapi saya nggak akan terima tawaran dia. Kenal aja belum, ”

***

Akhirnya saya menerima ajakan Cakra. He’s stranger, I know. Tapi tawarannya memang menarik. Dia mengajak saya ke tempat yang selalu saya ingin kunjungi. Dia juga terlihat seperti orang baik-baik. Selain pintar, multitalenta…

Oke,oke. Cukup!

Sebenarnya, keputusan ini juga tidak diambil sembarangan. Saya telah berkonsultasi dengan Madam Jingga mengenai hal ini. Dia malah mendukung saya dengan kata-kata mujarabnya:

“ Kapan lagi kamu jalan bareng sama lelaki keren kayak gitu! Kalau Teteh jadi kamu, udah teteh terima ajakannya langsung…”

“Terus gimana kalau sebenarnya dia adalah agen penjualan organ tubuh illegal? Gimana kalau Saya diculik terus dimutilasi? Gimana kalau jantung dan mata saya dicongkel?”

“Hush, kamu kebanyakan nonton sinetron! jangan berpikiran negatif gitu ah! Kamu tetep terima tawaran dia. Kalau ada apa-apa langsung hubungi teteh ya! Kalau dia mulai bertindak aneh-aneh, langsung teriak aja! Lari sekencang-kencangnya!”
Keesokan harinya, saya bertemu Cakra di daerah Dipati Ukur. Ia sedang menunggu di halte bis ketika saya datang. Ia mengenakan kaos hitam berlapiskan kemeja flannel, celana jeans yang bagian lututnya sobek, serta sepatu converse classic. Sambil mengucir rambut sebahunya, dia menyapa saya.

“Hei, apa kabar Lysa?” ujarnya ramah. Matanya membentuk garis horizontal ketika tertawa. Semilir wangi parfum lelaki langsung tercium begitu saya mendekatinya. Well, saya baru sadar kalau dia (ternyata) memang ganteng. Tipe lelaki sejati; manly, cuek, tapi tetap terlihat keren.

“Baik. Berangkat sekarang?”

“Boleh. Yuk!” jawab Cakra sambil mematikan rokoknya. Ia kemudian mengajak saya ke parkiran motor yang tak jauh dari halte bis.

“Perkenalkan, ini Annelis. Annelis ini pacar pertama saya,” kata Cakra sambil menunjukkan motornya.

“Hahaha”

“Kok ketawa sih? Perkenalkan diri dulu dong ke pacar saya. Kalau nggak memperkenalkan diri nanti dia ngambek lho! Kalau dia mogok kan kita yang repot… ” seru Cakra dengan tampang serius.

“Masa? Oh, oke kalau begitu. Halo Annelis, saya Lysa. Salam kenal! ”
Saya kemudian mengambil helm dari tangan Cakra dan naik ke atas motornya.

Tiba-tiba Cakra memekik,

“Haduh…siaaaaallll!!!”

“Kenapa Cakra? Ada masalah?”

“Annelis nggak mau nyala. Tuh, benar kan dugaan saya. Dia pasti ngambek!”

“Ya ampun, terus kita mesti gimana nih?”

“Kita mesti melakukan ritual supaya Annelis nggak ngambek!’

“Ritual apa?”

“Ritual Annelis. Gini nih,” Cakra lalu turun dan berjalan ke depan motornya. “Nona Annelis, Lysa ini Cuma teman hamba. Makanya nyala dong! Terima kasih Nona, kecup sayang dari hamba. Mmuaaaaccchh,” Ia kemudian membungkukan badannya dan memberi
semacam penghormatan kepada Annelis.

Saya hanya terpaku. Lebih tepatnya melongo tak percaya. Dasar kelakuan seniman. Senang berimajinasi.

“Ayo giliran kamu sekarang!”

“Jangan bercanda ah kamu! ”

“Saya nggak becanda. Kamu mau ke Rumah Pelangi sambil jalan kaki?” jawabnya dengan
tampang serius.

Akhirnya saya menuruti kata Cakra. Saya turun dari motor dan mulai melakukan Ritual Annelis.

“Jangan lupa kata kunci: Nona Annelis, hamba, dan kecup sayang!”

“Halo Nona Annelis…Hamba, Lysa…hmmm…ayo nyala dong Nona, saya…eh, Hamba janji nggak akan apa-apain pacar Nona…hmm…Kecup sayang dari…dari Lysabrina Alveriza…mmuuaaahh,” ujar saya sambil membungkukan badan.

Cakra kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Tuhkaaaaannn, saya dikerjain ya???”

“Hahahahahahahahaha,”

“Gini ya perlakuan kamu sama orang yang baru dikenal?”

“Maaafff……duuuh, saya kan Cuma becanda…lagian kok mau-maunya dikerjain gitu? Salah
gue? Salah temen-temen gue? Hahahaha…”

“Siaaaal!”

“Ayo ah kita berangkat, cukup becandanya.”

“Grrr…..Awas aja pembalasan saya nanti!”

***

Rumah Pelangi adalah sebuah LSM yang memfokuskan kegiatannya pada para korban KDRT. Rumah Pelangi merupakan tempat mengadu, berbagi, dan berlindung bagi para perempuan dan anak-anak yang mengalami KDRT. Di sini juga terdapat healing process bagi mereka yang mengalami trauma pasca KDRT. Setiap satu bulan sekali, Rumah Pelangi mengadakan gathering. Selain sesi sharing, gathering ini juga biasanya dimeriahkan oleh pameran dan pertunjukkan seni.

“Pamerannya macem-macem…ada pameran makanan, handycraft, macem-macem deh. Biasanya yang bikin anggota LSM. Yang beli juga mereka-mereka lagi. Meskipun Rumah Pelangi tergolong LSM kecil, tapi perkembangannya sangat masif. Bahkan Mbak Lastri pernah mengundang Menteri Pemberdayaan Wanita ke gathering lho, ”papar Cakra.

“Wow…! Mbak Lastri pemilik LSM ini?”

“Ya. Nanti saya kenalin. Kamu pasti suka ngobrol sama dia. Orangnya asyik dan inspiring,”

“Kamu kok tau banyak soal Rumah Pelangi? Kamu aktivis disini juga? Jujur, saya baru tau ada tempat seperti ini di Bandung.”

“Nggak, saya bukan aktivis Rumah Pelangi kok. Saya juga tau tempat ini dari seorang teman. Kebetulan dia pernah jadi aktivis di sini.”

“Oh memang sekarang teman kamu kemana?”

“Dia sudah pindah ke luar kota. Eh, itu Mbak Lastri. Kita kesana yuk!” kata Cakra seraya menghampiri Mbak Lastri yang sedang sibuk mendekorasi ruangan. Mbak Lastri adalah seorang wanita berusia sekitar akhir 20-an. Wajahnya ayu, rambutnya tergerai lurus sebahu, kulitnya kuning langsat, tubuhnya sintal, fashionable, dan terlihat sangat well educated. Jika bertemu Mbak Lastri di tempat lain, saya mungkin akan mengira ia seorang CEO di sebuah perusahaan besar dengan gaji puluhan juta rupiah. Bukan seorang aktivis di sebuah LSM kecil seperti ini.

“Mbak Lastri, apa kabar? ”

“Eh Cakra…sudah lama ya nggak ketemu. Baik banget, kamu sendiri gimana?”

“Baik juga…Mbak, kenalin ini temen saya, Lysa.”

Saya pun mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri.

“Lysa,”

Bukannya membalas uluran tangan saya, Mbak Lastri malah terpaku. Dia mengamati saya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Ada apa Mbak?” Tanya saya hati-hati.

“Eh, maaf...Nggak kenapa-kenapa. Halo Lysa, saya Lastri. Salam kenal ya…kamu teman sekampus Cakra?” kata Mbak Lastri sambil membalas uluran tangan saya.

“Bukan Mbak, saya kuliah di Fakultas Hukum.”

“Lysa, kalau kamu ingin tau seputar KDRT atau hak perempuan, bisa Tanya-tanya ke Mbak Lastri lho…” terang Cakra.

“Kamu tertarik juga dengan isu KDRT, Lysa?”

“Ya, Mbak. Tapi saya masih awam. Nggak tau apa-apa soal hak perempuan, isu KDRT, dan sebagainya.”

“Ya udah, kalau kamu mau diskusi mengenai hal itu, langsung aja datang kesini…nanti kita bisa sharing. Kalau kamu mau aktif di Rumah Pelangi juga boleh banget…” kata Mbak Lastri sambil tersenyum ramah.

“Makasih, Mbak. Dengan senang hati,” jawab saya sambil membalas senyuman Mbak Lastri.

“Kalian mau ikut gathering hari ini kan?” Tanya Mbak Lastri.

“Iya, Mbak. Ohya, gimana keadaan Bu Ratna?” jawab Cakra.

“Bu Ratna baik…Lukanya udah sembuh. Bahkan beliau bikin kue kering untuk dipamerkan hari ini. Galih juga baik-baik aja. Tapi Jaka masih belum mau bicara sama orang lain. Dia suka sekali menyendiri. Takut bertemu dengan orang lain. Jaka juga dipukuli oleh ayahnya, makanya dia terlihat sangat trauma. Saya dan pengurus lain juga sudah melakukan berbagai healing. Kami juga sudah konsultasi dengan psikolog anak mengenai masalah ini. Trauma pasca KDRT memang butuh penanganan khusus…Hhh, sekali lagi, saya tak habis pikir dengan para lelaki. Kok mereka tega menyakiti anak dan istrinya sendiri?”

“Terus suaminya sendiri sekarang dimana?” Tanya Cakra lagi.

“Tak lama setelah kamu membawa Bu Ratna kesini, seorang tetangganya datang. Dia berkata kalau suami Bu Ratna marah-marah waktu tau anak dan istrinya kabur…bahkan sampai mengancam akan membunuh siapa saja yang menyembunyikan keberadaan Bu Ratna,”

“Tapi tetangganya nggak bilang kan kalau Bu Ratna disini?”

“Nggak, kok. Setelah itu suami Bu Ratna menghilang. Terakhir saya dapat kabar kalau suaminya dipenjara karena melakukan pencurian,”

“Tindak KDRT-nya sendiri tidak dipidana?”

“Tidak. Bu Ratna sendiri yang meminta kami untuk tidak memperpanjang masalah ini. Padahal, saya dan pengurus Rumah Pelangi akan melaporkan masalah ini ke pihak berwajib. Sama seperti korban KDRT lainnya, kebanyakan mereka takut melaporkan suaminya ke polisi. Mereka takut suaminya akan balas dendam ketika keluar dari penjara. Mereka berani datang ke LSM untuk mengadu saja sudah terbilang bagus. Di luar sana, masih banyak para korban KDRT yang bungkam suara. Mereka lebih baik disiksa ketimbang harus kehilangan cinta dan nafkah. Padahal KDRT adalah tindak pidana. Para korban KDRT juga sebenarnya mendapatkan perlindungan. Inilah yang terus saya sosialisasikan kepada para korban KDRT.”

Mendangar penjelasan Mbak Lastri, pikiran saya langsung melayang-layang. Melesat cepat ke alam bawah sadar. Tiba-tiba penglihatan saya kabur. Dada saya sesak. Kepala saya mendadak pusing. Saya kemudian tak sadarkan diri.

Tuesday, February 9, 2010

Cakra dan Lysa: I Remember (Edisi 2)

Pacar saya selalu bilang, jadi anak kuliahan jangan cuma kupu-kupu alias kuliah-pulang, kuliah-pulang. Dia selalu bilang kalau teori-teori, tugas-tugas, dan nilai-nilai hanya akan membantu kita sebesar dua puluh persen di kehidupan nyata. Selebihnya, nilai IPK tidak akan membantu banyak. Aktif berorganisasi, selalu memperbanyak teman, menambah wawasan di luar mata kuliah, dan terjun ke masyarakat akan membuat mata kita terbuka. Kita akan sadar kalau hidup tak akan terselesaikan hanya dengan nilai akademis sempurna di tangan.

“Percuma nilai IPK kamu 4 tapi tidak tahu cara bekerja sama, tidak punya link, dan tidak tahu seperti apa kondisi masyarakat yang sebenarnya…begitu keluar dari kampus, kamu akan kaget karena ternyata banyak hal berbeda yang tidak kamu pelajari ketika kuliah…” katanya.

“Tapi bukan berarti kamu menyepelekan nilai, Lysa…Seperti yang aku bilang, nilai memang hanya akan membantu kita sebesar 20 persen. Sisanya, kita harus cari di luar kampus.Hmm, katakanlah kamu mau mencari harta karun di hutan. Kamu nggak mau kan masuk hutan tanpa perbekalan sama sekali? Anggaplah 20 persen itu bekal sebelum kamu berusaha mencari sisanya…” lanjutnya.

Kadang saya heran. Tercipta dari apakah pacar saya itu? Di tengah kesibukannya sebagai presiden BEM di Fakultas Ekonomi, anggota aktif UKM sepak bola di kampusnya, belum lagi aktivitasnya di sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan, oh dan jangan lupa bisnis game online dan warung makan yang ia jalani bersama teman-temannya di Depok sana, Rahyang masih bisa mendapat IPK di atas 3,5! Tahun depan dia akan berangkat ke Jepang selama satu tahun untuk student exchange.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Seringnya sih gigit jari dengan semua aktivitas yang dilakukan Rahyang.

“Mumpung masih muda. Ambil kesempatan sebanyak mungkin… ” begitu katanya.

Anyway, apa yang dikatakan Rahyang memang benar. Jangan cuma jadi kupu-kupu. Apalagi kunang-kunang (kuliah-nangkring, kuliah-nangkring). Saya pun mengikuti nasihatnya. Maka, saya pun mulai aktif berorganisasi. Mengikuti kepanitiaan ini-itu. Saya juga terdaftar sebagai anggota aktif forum mahasiswa hukum se-Indonesia. Saya juga mati-matian mempertahankan IPK di atas 3,5. Saya tidak mau kalah dari Rahyang. Saya bangga punya pacar sehebat Rahyang. Dia pun harus bangga punya pacar seperti saya.

Desember, satu tahun yang lalu.

Saya selalu suka bulan Desember. Bukan, bukan karena bulan ini saya berulang tahun (for your information, I was born on May). Banyak hari penting di bulan ini. Dari mulai peringatan hari AIDS, hari anti korupsi, hari ibu, sampai peringatan Hak Asasi Manusia. Biasanya, fakultas saya mengadakan event yang berhubungan dengan hari-hari penting itu. Ya, inilah kesempatan saya untuk ikut andil dalam kegiatan tersebut. Dan kali ini saya menjadi panitia peringatan hari HAM. Saya suka sekali menjadi bagian dari kepanitiaan ini. Selain tujuan acaranya bagus, konten acaranya juga tidak membosankan. Bukan hanya berisi seminar, talkshow, dan diskusi yang bikin kepala mumet karena pelanggaran HAM yang makin sering terjadi di negara ini, melainkan juga berisi hal-hal yang digemari anak muda pada umumnya; ada pertunjukkan musik dari band indie yang sedang populer, musikalisasi puisi, tari-tarian, pertunjukkan teater, lomba fotografi, lomba menulis essay, serta lomba mendesain kaos.

Setelah persiapan selama kurang lebih dua bulan, event peringatan HAM pun digelar pada 10 Desember. Saya masuk divisi marketing yang memang sibuk sebelum hari H. Jadi hari ini, saya lebih banyak menikmati acara ketimbang bekerja. Sambil menunggu acara selanjutnya, saya pun berjalan keluar aula. Saya berjalan ke loby, bermaksud melihat-lihat karya para finalis lomba fotografi yang dipajang di sana.

Ada sepuluh foto yang dipajang di sana. Semuanya mengusung tema yang sama:Hak Asasi Manusia. Lalu sampailah saya pada sebuah foto yang dipajang di paling kiri ruangan. Saya mengamati foto itu dengan seksama.Dari semua foto yang terpajang, saya paling suka foto ini. Sepertinya foto ini paling “bernyawa”. Dalam foto itu terdapat seorang ibu, sepertinya berumur tiga puluhan, beserta dengan dua orang anak lelaki. Si ibu menggendong seorang balita yang tengah menangis. Anak satunya lagi,yang sepertinya berumur tak lebih dari sepuluh tahun, berjalan di sebelah ibunya sambil menguap. Mungkin si anak baru bangun tidur. Dahi si ibu terluka dan mengeluarkan darah. Sepertinya si ibu baru tersungkur atau kejeduk. Entahlah. Pipi kirinya lebam, seperti baru dipukuli.Melihat foto itu, pikiran saya langsung berkelebat tak tentu arah. Mata saya tiba-tiba berkaca-kaca. Dengan mata nanar, saya melihat sebuah kertas kecil yang tertempel di bawah foto tersebut.

Judul: Escape

Karya: Cakrawala Madya Putra

“Wah, ada panitia yang lagi merhatiin foto saya. Lagi dinilai ya Mbak?” tanya sebuah suara di belakang saya.Saya kaget dan buru-buru menghapus air mata yang hampir jatuh ke pipi.

“Sayang jurinya bukan dari panitia Mas, tapi di datangkan langsung dari sekolah fotografi Darwis Triadi…” jelas saya sambil menoleh ke belakang. Saya terpaku ketika melihat sosok orang tersebut. Sepertinya orang ini tak asing. Sepertinya saya pernah melihat orang ini. Tapi dimana ya? Orang di depan saya pun sepertinya sedang mengingat-ingat. Dia mengernyitkan dahi dan menatap wajah saya lekat-lekat.

“Kayaknya saya pernah ketemu Mbak deh…Tapi dimana ya?”

“…”

“…”

Aha!

“Di travel! Novel Little Prince! Ingat?” seru saya sambil setengah berteriak.

“Oh,Iya! Benar! Mbak yang ketemu di travel! Wah, wah, wah…nggak nyangka ya bisa ketemu di sini! Mbak kuliah di Hukum ternyata?”

“Iya! Kebetulan sekali ya Mas…Iya, saya kuliah di sini. Mas sendiri di jurusan apa?”

“Oh, saya sih bukan kuliah di sini…saya kuliah di FSRD, ngambil DKV. Kebetulan saya tau ada lomba fotografi di sini, ya iseng aja ikutan. Kali menang kan lumayan hadiahnya…”

“OH, kamu suka fotografi ya?”

“Ya lumayan, mengisi kekosongan aja sih…”

“Ini…ini karya kamu?”

“Iya. Kenapa? Aneh ya?”

“Nggak, bagus kok. Bernyawa. Saya nggak terlalu ngerti fotografi sih…Tapi kalau saya jadi jurinya, saya pasti milih foto kamu sebagai juaranya.”

“Ah, kamu berlebihan…foto lain lebih bagus-bagus! Oh ya, saya Cakra.” ujar lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.

“Saya Lysabrina. Panggil aja Lysa,” jawab saya sambil membalas uluran tangannya.

“…”

“…”

“Eh,kok bisa dapet foto kaya gitu? Ini bukan rekayasa kan? Jangan-jangan kamu bayar orang untuk difoto kayak gitu.”

“Hahahaha, enak aja! Haram hukumnya merekayasa foto. Semua terjadi secara kebetulan. Hmm, tapi saya rasa itu bukan kebetulan juga sih. Saya percaya kalau everything happens for a reason. Saya berada di tempat itu, hari itu, pada jam itu, lalu melihat seorang ibu membawa anak-anaknya dengan keadaan terluka, kemudian memotretnya,apakah itu sebuah kebetulan? Saya rasa tidak…Bahkan, orang yang duduk di sebelah kita ketika naik angkot pun bukan kebetulan. Semua sudah ada yang mengatur… “

“Dan apa kabar dengan pertemuan tidak sengaja kita? Dua kali pula! Apakah itu kebetulan? Saya rasa juga tidak…”

“Hahahaha. Kamu betul. Kenapa dari semua foto yang terpajang,kamu memerhatikan foto saya?”

“Iya, betul! Dan kejadian di travel itu…hahahahaha. Aneh juga ya? Nggak masuk akal!”

“Iya…”

“Eh, eh, kayaknya si MC lagi mengumumkan pemenang lomba deh…”

“Oh ya? Ya udah kita masuk ke dalem aja yuk…”

Kami pun memasuki aula. Memang benar, sang MC sedang membacakan para pemenang lomba.

“Masih ngumumin pemenang desain nih…” seru Cakra.

“Iya. Eh, foto itu, hmmm, ibu itu…dia kenapa luka-luka gitu?”

“Dipukulin suaminya.Dan hari itu dia memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Mengakhiri penderitaannya. Makanya saya memberi judul ‘escape’ pada foto tersebut…”

“KDRT…Hhh…ya, tiap perempuan punya hak untuk dihargai. Hak kesetaraan gender…”

“Termasuk HAM juga kan?”

“Ya iya dong…eh, itu, si MC lagi ngumumin pemenang foto…”

“Wah…deg-degan nih saya…”

“Hahahaha…”

Dan juara satu untuk lomba fotografi adalah…Foto dengan judul…wah, pasti kalian udah nggak sabar ya…??? Pemenangnya adalah…Ohya, sebelumnya, pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar lima juta rupiah…wah, lumayan banget kan…pemenangnya adalah…foto dengan judul...ESCAPE karya Cakrawala Madya Putra…Tepuk tangan untuk pemenang…dan untuk Cakrawala silakan naik ke atas panggung…

“Wah! Apa kata saya! Kamu menang…Selamat ya…”

“Wow, saya menang!!! Saya naik ke atas panggung dulu ya…Kamu jangan kemana-mana!”

Lelaki bernama Cakra itu pun naik ke atas panggung.

“Lysa,lo kemana aja? Gue cariin dari tadi… Eh anter gue dulu ke rumah makan…” tiba-tiba Tasya, koor Marketing saya, muncul dari arah belakang.

“Hah, ngapain?”

“Iya nih ada sedikit masalah sama rumah makan itu. Waktu kemarin kan di MOU-nya mereka deal buat ngasih makan panitia dan pengisi acara sebanyak 100 dus. Eh nggak taunya cuma dikasih 85 dus! Makanya sekarang mau protes ke rumah makan itu…Ayo cepet, gue udah kesel banget nih…”

“Hmm…ya udah deh yuk…” jawab saya setengah hati. Ah, kenapa sih harus ada masalah di tengah acara begini!Saya pun membuntuti Tasya ke arah parkiran.

Dari kejauhan saya melihat Cakra menerima hadiah dan berfoto bersama.

Tak lama berselang, Cakra turun dari panggung. Ia kemudian berjalan ke tempat ia dan Lysa berdiri tadi. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan perempuan bernama Lysa itu. Namun ketika sampai ke tempat semula, orang yang dicari sudah tidak ada. “Oh, mungkin Lysa sedang ke toilet,” pikir Cakra. Semenit, dua menit, lima menit ia menunggu, tapi Lysa tidak juga kembali ke tempat itu. Ia pun mencari ke seluruh aula.Tapi perempuan itu benar-benar hilang. Entah pergi kemana.

Friday, February 5, 2010

Cakra dan Lysa : I Remember (edisi 1)

September, setahun yang lalu

Saya Lysabrina Alveriza. Usia saya hampir menginjak 20 tahun. Saya mahasiswi fakultas hukum di sebuah universitas negeri di daerah Dipati Ukur, Bandung. Semester ganjil baru saja dimulai. Dosen-dosen pun tak lagi memberikan kesempatan bagi kami untuk berleha-leha. The holiday is over, let’s back to the reality. Let’s face the world with those of assignments, exams, and blablabla. Welcome to the third semester. Some people say, this is the truly hell. Watch out, you’ll be burned!!! (and today I realized that third semester was just gate to the truly hell. Well, the next semester is 1000 times hotter than that)

“Semester satu-dua sih Cuma pemanasan aja. Kalian masih adaptasi dari masa SMA ke masa perkuliahan. Nggak ada apa-apanya itu mah…” begitu kata seorang senior.

Baru beberapa minggu kuliah, kami sudah disuguhi berbagai tugas. Dari mulai melihat dan melaporkan proses persidangan di pengadilan, mempelajari hukum-hukum yang berlaku secara internasional, menganalisis perbedaan hukum syariat islam dengan hukum positif, dan sebagainya.

Tugas pulalah yang menyebabkan saya berada di sini. Di sebuah travel agent. Bukan untuk jalan-jalan. Beberapa jam lagi saya akan pergi ke Jakarta. Saya harus mewawancarai seorang pengacara terkenal di sana. Saya juga harus meninjau sebuah law firm dan menganalisis kinerja perusahaan mereka.

Sama sekali bukan tugas yang menyenangkan. Tapi apa lacur, saya tetap harus melakukan ini. Demi nilai A (atau setidaknya B). Demi IPK. Demi liburan yang sebisa mungkin tak terganggu Semester Pendek. Demi lulus tak lebih dari lima tahun. Demi masa depan gemilang nan cemerlang.

Sialnya lagi, saya harus berangkat seorang diri dari Bandung. Sebenarnya tugas ini dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang. Tapi kedua teman saya tak bisa pergi bersama-sama. Satu orang datang belakangan karena harus menghadiri acara keluarga terlebih dahulu. Seorang lagi sedang pulang kampung ke rumahnya di Jakarta. Jadi kami akan langsung bertemu di sana.

Sambil menunggu mobil datang, saya membunuh waktu dengan membaca buku. Membaca telah menjadi hobi saya sejak kecil. Yes, maybe I’m sort of book worm. Saya membaca segala jenis buku. Dari mulai komik sampai buku filsafat. Dari mulai novel percintaan sampai novel bertemakan perang. Saya termasuk orang yang percaya pada pepatah klise, “buku adalah jendela dunia.” Lewat buku Tetralogi Bumi Manusia saya tahu kehidupan masyarakat Indonesia sebelum merdeka. Lewat buku Jakarta Undercover saya tahu bagaimana realita kehidupan metropolitan. Lewat komik Conan saya tahu bagaimana menyingkap misteri sebuah pembunuhan. Lewat novel Ayat-Ayat CInta saya belajar ketulusan cinta dan keikhlasan. Lewat buku Pengantar Ilmu Hukum saya banyak tahu soal hukum. Se-“kacangan” apapun bukunya, pasti ada pelajaran yang dapat diambil dari buku tersebut. Kita jadi tahu bagaimana membuat buku yang bagus karena sudah ada contoh yang kurang bagus. Hahahaha. Becanda!

Saya mengeluarkan Le Petite Prince dari dalam tas. Buku ini tampak lecek. Sampul plastiknya kusam. Begitu membuka halaman pertama, ada tanda tangan saya yang sudah tak jelas wujudnya di pojok kanan bawah halaman. Adik saya tanpa sengaja pernah menumpahkan susu ke buku tersebut. Alhasil, tanda tangan saya jadi luntur. Buku favorit saya pun jadi kumel. Saya kesal sekali waktu itu. Sampai menangis sejadi-jadinya. Akhirnya ibu membelikan saya buku yang sama. Buku itu sekarang berada di tempat yang aman dan tak kan pernah ketumpahan susu lagi.

Saya suka sekali buku ini. Sudah puluhan kali saya membacanya. Tapi saya tak pernah bosan. Buku ini sudah seperti sahabat saya sendiri. Setiap kali akan berpergian jauh, buku ini selalu menemani. Kadang saya merasa seperti Si Pangeran Kecil yang tinggal sendiri di sebuah planet dan hanya ditemani setangkai bunga mawar. Kadang saya merasa seperti si pilot yang terdampar di padang pasir.

“Mbak, Mbak?” seru sebuah suara. Saya cuek saja. Fokus membaca.

“Mbak, Mbak yang lagi baca buku!” panggil suara itu sekali lagi. Saya menoleh.

“Saya?” jawab saya sambil menunjuk ke diri sendiri.

“Iya, Mbak. Siapa lagi?” Kata lelaki yang duduk tak jauh dari saya. Saya mengedarkan pandangan. Hanya ada lima orang di ruangan ini. Saya, lelaki yang barusan memanggil saya, seorang bapak di seberang saya yang sedang sibuk menelpon, serta sepasang kekasih yang sedang ngobrol sambil cekikikan di pojok sana.

“Mbak lagi baca Little Prince ya?” ujarnya sopan sambil tersenyum. Little Prince merupakan judul versi inggris dari Le Pettite Prince yang dibuat oleh penulis asal Prancis.

“Iya, kenapa emangnya Mas?” tanya saya. Lelaki itu langsung mengangkat buku (saya baru ngeh dia juga sedang membaca buku) yang terletak di pahanya dan memperlihatkan sampul buku tersebut.

FOR GOD’S SAKE, HE ALSO READ LE PETITE PRINCE!!!

Kami saling berpandangan dan kemudian tertawa.

“Kok saya nggak sadar Mas lagi baca buku itu ya?”

“ Mungkin karena bukunya saya lipat. Jadi sampulnya nggak keliatan…”

“Hahaha, bisa jadi. Tapi memang kadang saya cuek dengan keadaan sekitar kalau lagi asyik sendiri. Mas suka buku itu juga?”

“Saya baru baca setengahnya nih. Jadi belum bisa memutuskan saya suka atau nggak sama buku ini. But so far, it’s quite good. Banyak pelajaran yang saya dapet. Kalo Mbak gimana? ”

“Wah kalau saya sih suka banget sama buku ini. Salah satu favorit saya!”

“Pantesan lecek gitu Mbak bukunya. Pasti karena keseringan dibaca ya? Hahahaha ”

“Ya gitu deh. Ditambah saya yang jorok, jadi beginilah keadaannya. Ahahaha,”

“Hahahaha,”

“Mas udah sampe mana bacanya?”

“Saya baru baca sampai ketika si pangeran kecil ketemu raja-raja yang aneh itu,”

“Emang sih aneh. Tapi itu merepresentasikan tipe manusia yang ada di bumi. Hehehehe, ”

“Iya sih,”

Tiba-tiba seorang petugas travel mendekati kami.

“Mas naik yang ke arah Cempaka Putih ya? Mobilnya sudah datang… ” terang petugas tersebut. Lelaki itu pun mengangguk. Memasukkan buku ke dalam tas ranselnya, mengikat rambut sebahunya, kemudian bamgkit dari kursi.

“Mbak saya duluan ya. Mobilnya udah dateng ternyata,”

“Oke. Hati-hati di jalan Mas. Selamat membaca buku Little Prince-nya ya…dijamin nggak akan menyesal! Hehehehe” ujar saya sambil terkekeh.

“Makasih Mbak. Mari,” jawabnya sambil keluar ruangan.

Kelak kami tahu bahwa pertemuan itu bukanlah kebetulan semata.

Cakra dan Lysa: I Remember

I remember the way you red your books

Yes I remember

The way you tied your shoes

Yes I remember

The cake you loved the most

Yes I remember

The way you drank your coffee

I remember-Mocca

Saya ingat.

Saya ingat semua peristiwa yang kami lalui.

Saya ingat setiap kata yang pernah ia ucapkan.

Saya ingat betul wanginya.

Saya ingat betul gerak-geriknya.

Saya ingat betul caranya berbicara.

Saya ingat caranya tertawa.

Saya ingat cara merokoknya yang khas.

Saya ingat mimiknya ketika ia sedang bermain gitar.

Saya ingat ekspresinya saat hunting foto.

Saya ingat betul dengan semua ejekan yang ia tujukan pada saya.

Saya ingat betul caranya menghibur saya ketika sedang sedih; melakukan senam aneh atau menyanyikan soundtrack Doraemon dengan suara dibuat seperti orang cadel.

Saya ingat caranya mengikat rambut sebahunya.

Saya ingat kebiasaanya mencubit hidung saya ketika ia merasa gemas.

Saya ingat ekspresi seriusnya ketika berbicara tentang hidup.

Saya ingat kebiasannya yang suka narsis.

Saya ingat warna favoritnya.

Saya ingat siapa gitaris dan fotografer kesukaanya.

Saya ingat apa makanan favoritnya.

Saya ingat betul kamar kosannya yang kecil tapi nyaman.

Saya ingat tatapan matanya.

Saya ingat kebiasaannya yang selalu membuat kejutan.

Saya ingat betul pertama kali kami bertemu. Bahkan, saya masih ingat pakaian yang dikenakannya ketika itu.

Saya ingat.

SAYA INGAT!

Kenapa saya harus ingat semuanya? Sampai detil-detilnya? Apa karena dia istimewa?

Yes, he is special. He is damn precious. But just like I’ve said, in a different way. And I am really sure that rational things can’t accept this. Irrational things neither. Don’t ask me why, coz I’m still figuring out what’s happening here, inside my heart.

Lagu milik Mocca diputar berulang kali. Sambil mendengarkan lagu itu, pikiran saya melayang. Melesat masuk ke zona kenangan. Saya pun asyik bermain di dalamnya. Berharap rasa sesak ini sedikit terobati lewat kenangan yang saya miliki bersama Cakra.

Cakra dan Lysa: Petuah Dari Morrie

Salah satu buku favorit saya adalah Tuesdays with Morrie karya Mitch Albom. Aha, siapa yang tidak menyukai buku penuh inspirasi ini? Namun jika ada di antara kalian yang belum pernah membacanya, I highly recommended this book. Buku ini bercerita tentang “perkuliahan” yang diikuti Albom (yeah, this book is based on true story) pada dosennya, Morrie. Namun ini bukan sekedar perkuliahan. Untuk mengikuti kelas tersebut, Albom harus datang tiap Selasa ke rumah Morrie. Sang dosen, yang sedang tergolek lemah akibat penyakit yang dideritanya, mengajarkan mata kuliah yang berbeda. Ia mengajarkan mata kuliah kehidupan. Maka tiap Selasa, Morrie selalu mengajarkan berbagai hal soal kehidupan dan memberikan tips-tips agar Albom (juga kita semua) dapat melewatinya dengan baik.

Semakin hari kondisi Morrie semakin memburuk. Albom tahu hidup dosennya tidak akan lama lagi. Maka ia pun menanyakan pertanyaan ini:

“Morrie, apakah kamu takut dengan kematian?”

Morrie menjawab pertanyaan Albom. Saya lupa bagaimana kalimat persisnya. Intinya dia tidak merasa takut. Ia justru menghadapi rasa takut itu. Meresapinya dengan baik. Ketika ia sudah meresapi dan menjadikan rasa takut itu sebagai bagian dari dirinya, maka ketakutan tersebut hilang dengan sendirinya. Ini tak hanya berlaku bagi rasa takut, tapi juga bagi berbagai rasa tak mengenakkan yang kita alami.

We always pretend that we’re OK when we’re in that sucks condition. Sebenarnya tak masalah. Itu hanyalah bentuk dari pertahanan diri kita. Namun ternyata, menghindari kenyataan pahit dengan bersikap (pura-pura) baik-baik saja justru akan menambah beban hidup kita. Kita membohongi diri sendiri. Jika terendap begitu lama, suatu saat semua itu akan meledak seperti bom waktu.

Saya pun mengikuti saran Morrie. Maka tiap kali merasa takut, sakit hati, kecewa, marah, dan lain sebagainya, saya justru menghadapinya. Saya meresapi tiap sakitnya. Saya rasakan tiap ketakutan. Saya jejaki tiap kekecewaan. Orang yang tak mengerti mungkin akan menganggap saya bodoh. Kok ada orang yang mau menenggelamkan diri ke dalam semua rasa tak menyenangkan itu? Tapi saya punya jawabannya. Sama seperti Morrie, ketika semua sudah merasuk ke dalam jiwa (dalam rentan waktu yang tidak sebentar tentunya), perasaan itu hilang tanpa bekas. Esoknya saya merasa baik-baik saja. Kali ini tidak pura-pura tentunya.

Akhirnya Morrie meninggal. Walaupun merasa kehilangan, Albom merasa beruntung karena mendapat pelajaran berarti dari perkuliahannya dengan Morrie. Ada satu kalimat yang selalu saya ingat dari buku tersebut. Albom mengatakan bahwa ketika kehilangan seseorang, kita akan berusaha mengingat semua hal yang mengingatkan kita akan orang itu. Itulah yang sedang saya lakukan. Berusaha membangkitkan semua kenangan yang mengingatkan saya kepada Cakra.

Sedih?

Tentu saja.

Merasa nelangsa?

Ya.

Menyakiti diri sendiri?

Bisa jadi.

Tapi saya justru ingin meresapinya. Merasukinya. Tenggelam bersama kenangan-kenangan tersebut. Sampai suatu hari saya terbangun dan menyadari kalau perasaan-perasaan tidak menyenangkan itu telah hilang dengan sendirinya. Tak ada lagi rasa yang menyesakkan di dalam dada. Semua sudah terhempas dan saya pun bisa tersenyum sembari berkata; yeah, I am OK.

Cakra dan Lysa:Percakapan Antara Si Licong dan Si Jinggo

Sesampainya di rumah, hal pertama yang saya lakukan adalah; TIDUR. Entah kenapa, saya selalu memilih tidur setiap kali merasa sedih, marah, kecewa, patah hati, dan tertekan. Tidur beberapa jam, kemudian, VOILA! Semua perasaan-perasaan itu menghilang dengan sendirinya.

“Jangan-jangan kamu mengidap narkolepsi,” ujar seorang sahabat suatu hari.

“Narkolepsi? Penyakit apaan tuh? ” Tanya saya sambil meringis ketakutan.

“Narkolepsi itu semacam sleeping disorder. Pengidapnya selalu tertidur ketika ia merasakan emosi yang berlebihan. Misalnya saja ketika ia merasa terlalu sedih, kecewa, bahkan terlalu bahagia. Kamu juga sering gitu kan? ”

Mendengar penjelasan sahabat tentang ciri-ciri pengidap narkolepsi, saya jadi semakin penasaran. Jujur saja, ciri-ciri penderita narkolepsi mirip dengan yang saya alami.

“Saya baru tahu ada penyakit seperti itu di dunia ini. Terus penyebabnya kenapa? Apa saya harus diopname, diterapi, dan disuntik selama bertahun-tahun biar sembuh dari penyakit semacam itu? Apa bisa berakibat pada kematian?”

“Hahahahaha. Mana mungkin si Lysa mengidap narkolepsi. Dia sih emang kebluk aja! Jangankan lagi sedih atau marah, lagi nggak ada kerjaan aja dia mah tidur!!! Kamu tuh mengidap ‘pelor-ngilerus’:nempel-molor-ngiler-terus!!! Ahahahahaha…ada kebakaran atau gempa juga dia sih nggak bakal kebangun,” timpal sahabat saya yang satu lagi.

“Hahahahaha. Saya nggak ikut-ikutan ya. Lagian tenang aja, Sa. Kebanyakan penderita narkolepsi itu pria, bukan wanita. Jadi kemungkinan kamu mengidap penyakit ini relatif kecil,” ujar sahabat saya menenangkan.

“Huh, dasar! Kalian nakutin saya aja. Asal kalian tahu, tidur itu banyak manfaatnya. Kalian belum pernah denger ya ada penelitian yang bilang bahwa tidur akan mengurangi beban dan tekanan dalam hidup? Saya sih cuma mengikuti saran para scientist aja,”

“Ya tapi kalau over sleeping kaya kamu juga nggak baik Lysa…Mungkin kamu dulu reinkarnasi dari tapir yang hobinya tidur….ahahahaha,”

“Dasar kalian menyebalkaaaaaaaaaaaaann…..!!!!”

Hoahm…zzzzzzzzzz

***

Setelah menghabisi Raja Bertopeng Muram beserta seluruh prajuritnya, Pangeran Nicholas langsung menaiki seribu tangga menuju Menara Pilu, tempat Putri Alveriza disekap. Begitu sampai di dalam menara, ia meliihat sang putri terkulai lemas di atas sebuah ranjang. Wajah sang putri pucat pasi. Matanya kosong, mencerminkan kesedihan yang begitu dalam. Tubuhnya tinggal tulang, kulit indahnya berubah jadi keriput, rambutnya rontok. Ternyata benar apa yang dikatakan Nenek Tua itu, ujar pangeran dalam hati. Menara ini menyedot semua kebahagiaan yang dimiliki Putri Alveriza.

“Hanya cinta sejati yang bisa mengembalikan Putri Alveriza ke wujud semula. Untuk itulah kau harus menciumnya sebelum matahari tenggelam. Jika tidak, bukan hanya sang putri yang kehilangan kebahagiaan. Kau juga akan terseret ke dalam kekuatan magis menara itu,” begitu pesan Nenek Tua.

Tanpa berlama-lama lagi, Pangeran Nicholas langsung mendekati Putri Alveriza. Ia sudah siap mencium bibir sang putri ketika sebuah kekuatan mengguncang-guncangkan tubuhnya dan tubuh sang putri. Sayup-sayup terdengar sebuah suara yang nyaring dan cempreng.

“Liconnnggg… banguuun!!! Pamali tau tidur pas Magrib,” seru sebuah suara. Saya membuka kedua mata dan mendapati seorang perempuan tengah mengguncang-guncangkan tubuh saya.

“Teh Jinggoooo…!!! Ih, sumpah ya, bangunin di saat yang nggak tepat! Saya baru aja mau kissing sama Nicholas Saputra di dalam mimpi…Eh, malah dibangunin,” timpal saya sambil menarik selimut ke ujung kepala. Berniat melanjutkan mimpi yang sempat terganggu oleh lengkingan suara sepupu saya itu.

“Heh, Licong, banguuun! Tidur wae ih,” serunya sambil menyibakkan selimut dari tubuh saya, menarik kedua tangan saya, kemudian mendorong saya dengan paksa ke kamar mandi.

“Mandi sana, terus ikut Teteh!” serunya galak seperti komandan memerintahkan prajuritnya.

Mendengar perintah sang komandan, si prajurit langsung menurut.

Lima belas menit kemudian.

“Tumben Teh Jinggo ke sini,” tanya saya heran sambil mengeringkan rambut dengan hair dryer.

“Licong, dari dulu kan Teteh selalu bilang kalau punya feeling yang kuat. Apalagi kalau ada hubungannya sama kamu. Masih nggak percaya juga? ”

“Yayaya…”

Ia kemudian mendekat dan mengamati wajah saya dengan seksama.

“ Ada apa Teh?” tanya saya sambil mengernyitkan dahi.

“Lain kali, kalau habis nangis, jangan langsung tidur! Lihat, mata kamu jadi sembab gitu…”

“Ya, habis gimana lagi. Tidur udah jadi obat mujarab saya kalau lagi emosi, ”

“Tapi kita kan mau jalan-jalan. Malu dong jalan-jalan sambil petet gitu matanya,”

“Tapi saya emang nggak pernah berniat jalan-jalan sehabis nangis dan tertidur,”

“Dasar calon pengacara! Setiap statement orang dibantaaaah terus. Meuni embung eleh. Btw, punya eyeliner?”

“Ada. Tapi udah dimasukkin ke kardus. Kardusnya ditaro di gudang. Sok aja ambil kalau mau,”

“oh, hmm, ya udah. Teteh bawa kok,” katanya seraya mengambil make up kit di dalam tasnya. Kemudian ia menyuruh saya memejamkan mata dan mulai membubuhkan eyeliner di kelopak mata saya.

“Beres! Yuk kita berangkat,”

***

Ohya, saya belum memperkenalkan sepupu saya yang satu itu. Namanya Jingga Maharani. Usia 23 tahun. Ibunya, Uwa Neni, adalah kakak ibu saya. Dia selalu menjadi primadona di setiap acara keluarga. Betapa tidak, dia dikaruniai fisik yang terbilang sempurna. Mata belo, alis tebal, hidung mancung, kulit putih, kaki jenjang, dan memiliki ukuran dada 34B.. Sekilas, dia mirip Aura Kasih (dan entah kenapa dia selalu protes jika disamakan dengan Aura Kasih). Hobinya? Nyalon dan shopping.

Dengan fisik yang sempurna, otomatis banyak lelaki yang mengejar Jingga. Dari mulai penjual bakso di depan rumah sampai anak pejabat, semua mengagumi Jingga. Dari dulu Jingga terkenal dengan sebutan “penakluk pria”. Pacarnya banyak, selingkuhannya tidak terhitung, TTM-an dimana-mana! Sampai akhirnya, ia memutuskan untuk menikah dengan seorang pria. Usianya baru menginjak 20 tahun ketika itu. Namun sayang, pernikahannya tak berhasil. Tak sampai genap setahun, Jingga sudah resmi menjanda.

Hubungan saya dan Jingga sangat dekat. Jingga bukan sekedar sepupu, tapi sudah seperti kakak, sahabat, musuh, dan terkadang seorang ibu bagi saya. Saya anak pertama dari tiga bersaudara dan satu-satunya perempuan di keluarga. Sedang dia anak tunggal. Saya ingin punya kakak, dia ingin punya adik. Mungkin itulah yang menyebabkan kami bisa sangat dekat.

Kedekatan kami pun bisa terlihat dari ‘panggilan sayang’ yang kami berikan pada masing-masing. Jingga memanggil saya ‘Licong’->Lysa-Conge (Conge berarti tuli dalam bahasa Sunda). Saya memanggil dia ‘Jinggo’-> Jingga-Goyobod (Goyobod adalah salah satu jenis minuman khas Bandung).

Julukan tersebut tentu tak datang begitu saja. Jingga yang lebih dulu menjuluki saya ‘Licong’. Ketika kecil, saya jarang mudeng ketika dipanggil oleh Jingga . Bukan karena saya benar-benar tuli. Tapi saya punya kebiasaan tidak mempedulikan keadaan sekitar jika sedang fokus pada satu hal. Sialnya, Jingga sering memanggil ketika saya sedang fokus menari atau main lompat tinggi. Otomatis saya tidak mempedulikan suaranya. Dari situlah ia memanggil saya ‘Licong’-Lysa conge.

Tak mau kalah, saya pun mencari kejelekan Jingga supaya dia juga diberi ‘panggilan sayang’. Tapi sialnya, kelakuan dia selalu manis dan beretika.

Suatu hari, saya dan Jingga berlibur ke rumah nenek di Tasikmalaya. Ketika tengah asyik bermain di pekarangan, tiba-tiba ada seorang penjual Es Goyobod berhenti di depan rumah. Penasaran dengan minuman yang baru pertama kali didengarnya itu, Jingga langsung minta dibelikan orang tuanya. Karena Jingga sedang terserang flu, Uwa Neni dan Uwa Jamal tak mengabulkan permintaanya. Ia marah dan menangis sejadi-jadinya. Kasihan melihat anak satu-satunya menangis, Uwa Neni dan Uwa Jamal pun luluh dan langsung mencari penjual Es Goyobod tersebut ke seantero kampung.

Menjelang sore hari, orang tua Jingga kembali ke rumah sambil membawa sebungkus Es Goyobod. Jingga tersenyum puas dan langsung menghabiskan minuman tersebut. Anehnya, keesokan harinya, penyakit yang sedang diderita Jingga langsung menghilang begitu saja. Dari situlah ia menganggap Es Goyobod adalah pahlawan hidupnya. Dari peristiwa itu juga saya memanggilnya Teh Jinggo. Sampai sekarang, jika ditanya apa minuman favoritnya, Jingga pasti selalu menjawab : Es Goyobod! Dalam hati, saya Cuma geleng-geleng kepala. Ternyata tuhan memang adil ya. Perempuan cantik, modern, dan fashionable begini ternyata tetap manusia biasa yang masih suka jajanan kampung.

“Cong, rambut kamu jangan keseringan dikucir atau dicepol. Bagusan digerai gini…” komentar Jingga sambil memperhatikan rambut sepinggang saya yang (tumben-tumbennya) digerai.

“Habis kalau digerai panas Teh…Udah tahu kemana-mana pake angkot… ”

“Ih, kamu tuh ya, dikasih tahu. Gimana mau dapet pacar kalau kamu kucel terus?”

“Saya nggak mau punya pacar yang cuma ngeliat saya dari kucel atau nggaknya. Kalau emang cinta, ya terima apa adanya dong…kalau cuma liat dari fisik, berarti pacar saya nggak tulus dong cinta sama saya?”

“Sayangnya, kebanyakan lelaki melihat perempuan dari fisiknya dulu sebelum ke hal lainnya. Lagian apa salahnya merawat diri dan tampil cantik? Toh juga buat kebaikan kamu sendiri…pacar kamu juga jadi nggak malu bawa kamu kemana-mana. Iya kan?”

“Saya sih mau didandanin kayak gimana juga nggak akan cantik-cantik Teh…terima aja nasib jadi orang jelek,”

“Ahahahaha. Tuhkan, kamu selalu gitu deh. Siapa bilang kamu jelek? You have the greatest smile, darling! Ketika tersenyum, kamu seperti memberikan semua kebahagiaan pada orang yang kamu ajak senyum. Senyuman kamu itu tulus dan cantik sekali. Ketika kamu tersenyum, aura kamu langsung keluar. Orang yang melihat kamu tersenyum pasti merasa nyaman dan tenang. Saya aja suka iri sama senyum kamu. Rambut kamu bagus. Kulit kamu juga pasti bikin iri orang-orang bule, coklat seksi gimanaaa…gitu. Jadi jangan pernah ngomong gitu lagi di depan saya!!! Eh, btw, dapet parkir nggak nih kita? Gila, mentang-mentang long weekend, PVJ penuh terus ya Cong!!! ”

***

Saya dan Jingga duduk berhadapan di sebuah kafe di PVJ. Lantunan musik Jazz , cahaya temaram, dan rintik hujan di luar sana membuat suasana kafe menjadi romantis. Sayang, romantisme ini harus saya lalui bersama Jingga. Coba saja saya bisa melaluinya bersama…ah, sudahlah!

“Sayang ya disini makanan dan minumannya khas Eropa semua. Coba aja ada Es Goyobod, pasti langsung saya pesen…hehehehe,” kata Jingga sambil membulak-balik daftar menu.

Beberapa menit kemudian, Jingga memanggil pelayan dan memesan makanan untuk kami berdua.

“Oke, then. Tell me, darl. What’s goin on with you? Why did you cry?” tanya JIngga sambil mengeluarkan sebungkus Dunhill dari dalam tasnya. Ia kemudian menyalakan lighter dan mulai menghisap rokoknya perlahan. Meskipun dekat, JIngga tak pernah sekalipun menawari saya rokok. Sebaliknya, saya pun tak pernah memaksa dia untuk berhenti merokok. Kami memang dekat, tapi kami tetap memberikan ruang untuk diri masing-masing. Jingga sudah dewasa. Dia sudah tahu konsekuensi ketika memilih sesuatu. Begitu pun dengan saya. Dia pasti tahu saya punya alasan tertentu ketika memilih sesuatu.

“Eh, kenapa? Tadi Teteh nanya apa?”

“Huh, anggeur!!! Dasar Congeee…… saya ingin tau kenapa mata kamu bisa sembab kaya gitu…”

“oh…”

Saya kemudian menceritakan semua yang terjadi pada JIngga.

“Kenapa juga saya mesti nangis ya Teh? Harusnya saya kan seneng karena Cakra akhirnya punya pacar…”

“Jangan-jangan kamu jatuh cinta sama dia,” jawab Jingga datar.

Deg!

“Jatuh cinta? Saya jatuh cinta sama Cakra? Itu nggak mungkin Teh… ”

“Sekarang Teteh mau tanya beberapa hal. Tapi kamu jawabnya ya atau tidak aja ya. Oke? ”

“Oke,”

“Kamu merasa sakit hati ketika tahu Cakra jadian?”

“Iya,”

“Kamu merasa kehilangan Cakra?”

“Iya,”

“Kamu ingin tahu siapa perempuan yang merebut Cakra dari kamu? Ingin tahu seperti apa perempuan yang bisa mendapatkan hati Cakra yang dingin dan misterius itu?”

“Tapi perempuan itu nggak merebut Cakra dari saya, Teh. Saya bukan siapa-siapanya Cakra… Tapi emang saya ingin tahu siapa perempuan itu. ”

“Hmm, yang penting semua sudah jelas. Kamu jatuh cinta sama dia…”

“Jelas darimana? Saya nggak melihat kejelasan apapun. Yang ada saya malah makin bingung. Karena kalaupun ya, saya nggak tahu konsepsi cinta itu kayak gimana,”

“ Kalau begitu, mari kita adakan sesi tanya jawab lagi. Jawab ya atau tidak aja. Oke?”

“Oke,”

“Kamu selalu deg-degan ketika ketemu dia?”

“Tidak,”

“Kamu selalu memikirkan Cakra ketika kamu nggak lagi bareng sama dia?”

“Tidak,”

“Tapi kamu selalu khawatir kalau dia nggak ngasih kabar?”

“Iya. Gimana nggak khawatir? Dia sering ngilang gitu aja…”

“Kamu peduli sama dia?”

“Iya,”

“Kalau tanpa sengaja dia menyentuh tangan kamu, apa ada perasaan hangat yang muncul?”

“Nggak,”

“Aneh! Dari semua tanda-tanda yang udah saya tanyain sama kamu, harusnya kamu itu jatuh cinta sama Cakra. Tapi kok begitu ditanya soal reaksi tubuh dan segala macamnya, kamu nggak ngerasain itu ya? Padahal tanda-tanda jatuh cinta itu bisa dideteksi lewat reaksi tubuh. Tiba-tiba deg-degan, tiba-tiba merasa hangat…”

“Teh, mau tau yang lebih aneh lagi? Saya pernah ciuman sama Cakra. French kiss. Tapi saya nggak merasakan apapun. Heart beating, butterflies in my stomach, something warm…I didn’t feel that. Saya tahu Cakra juga tidak merasakan itu, ”

“Lalu, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Cakra?”

“Saya juga nggak tahu, Teh. Mungkin memang tidak ada perasaaan apapun di antara kami. We’re just friend. Dan semua tangisan itu hanya luapan karena saya merasa kehilangan seorang sahabat. Selama ini, Cakra memang salah satu orang yang paling dekat dengan saya. Wajar kan saya merasa kehilangan? Wajar kan kalau saya nangis karena merasa kehilangan orang terdekat saya?”

“ Ya, sangat wajar. Terlepas dari ada tidaknya perasaan-perasaan tertentu di dalamnya, kehilangan seseorang memang sakit. Jadi wajar kalau kamu nangis seperti itu…” jawab Jingga sambil menerawang. Sepertinya dia sedang teringat akan sesuatu.

“But, Lysa, the fact is, nothing last forever…suatu hari, suka nggak suka, kamu akan kehilangan orang-orang terdekat kamu, orang-orang yang kamu sayangi. It’s called life, huh? People come around and go around in our life. All we can do is just prepare ourself before it’s comin to our life. Sometimes we’re too selfish and forget about their presence. So, before it’s too late, from now on, don’t belive the quote ‘you don’t know what you got till it’s gone.’ You have to know what you got before it’s gone. Got it?”

“Yes, ma’am…”

“Dan satu lagi, ikuti kata hati kamu. Jangan biarkan segala ketakutan mengalahkan hati kamu. Jangan mengabaikan apa yang sebenarnya ada di sana. Sebaliknya, jangan mengada-ada sesuatu yang sebenarnya tak ada. Jangan sampai kamu menyesal nantinya. Karena penyesalan akibat tak mengikuti kata hati sangatlah menyesakkan, ” ujar Jingga dengan tatapan nanar.Ia seperti sedang berbicara kepada sendiri ketimbang memberi masukkan pada saya.

“Kenapa Teteh bisa ngasih saran seperti itu sama saya?”

“Hmm…kenapa ya? Hmm…karena feeling Teteh mengatakan, mungkin, perasaan di antara kalian itu sebenarnya ada. Tapi kalian berusaha untuk menghilangkannya karena banyak ketakutan di sana. Ketakutan-ketakutan yang sangat besar dan tak sanggup kalian hadapi. “

Mendengar penjelasan itu saya hanya terpaku.

Cakra dan Lysa: Ayunan, Gula Kapas, dan Zebra Cross

Minggu Pagi.
Saya sedang asyik menonton Doraemon di televisi ketika sebuah sms masuk ke ponsel saya.

Drpd nonton Doraemon, mending temenin sy mkn bu2r Pak Amin.


sender: Cakra


Melihat sms itu saya langsung terkejut.

#! Cakra meng-sms saya lagi setelah menghilang akhir-akhr ini!
#2 Kok Cakra tahu saya sedang nonton kartun?
#3 Minta temenin makan bubur Pak Amin? Lho itu kan tukang bubur di depan jalan menuju rumah saya?

JANGAN-JANGAN!

Tanpa ba-bi-bu lagi saya langsung mematikan TV dan bergegas keluar rumah. Kemudian saya berjalan ke ujung jalan. Di sana, di samping sebuah gerobak tukang bubur, saya melihat dua manusia sedang menyantap bubur sambil asyik bercakap-cakap.

“Cakra, ngapain kamu di sini???” tanya saya heran.

“Makan buburlah. Ngapain lagi?” jawab Cakra asal.

“Ngapain makan bubur jauh-jauh segala? Emang di daerah kosan kamu nggak ada yang jualan bubur?”

” Habis bubur di sini katanya enak. Ibu kamu juga bilang gitu. Iya kan Tante?” ujar Cakra sambil meminta persetujuan dari seorang perempuan di samping Cakra. Ya, manusia yang sedari tadi asyik bercakap-cakap dengan Cakra adalah ibu saya. Huh, hampir saja saya menganggap Cakra adalah cenayang karena bisa mengetahui aktivitas orang lain. Tapi sekarang tidak. Rupa-rupanya ibulah yang memberi tahu Cakra kalau saya sedang menonton Doraemon.

“Waktu ibu lagi pesen bubur, tiba-tiba ada yang nyapa dari belakang. Eh, ternyata Cakra…Ya udah atuh , kalian lanjut lagi ngobrolnya ya…Ibu mau pulang dulu. Ntar main dulu ke rumah ya Cakra…” potong Ibu sambil bergegas meninggalkan kami berdua.

For your information, ini memang bukan kali pertama Cakra datang ke rumah saya. Dan dari kunjungan pertama itu, ibu saya langsung suka pada Cakra.

“Cakra pacar kamu?”

“Bukan. Cakra itu temen Lysa, Bu…”

“Ya… kenapa nggak jadi pacar aja? Ganteng ya Cakra…Udah gitu sopan banget. Tipikal anak baik-baik. Ibu suka deh sama Cakra. Kapan-kapan ajak lagi ya main ke rumah…”

Ya begitulah. Cakra, selain misterius dan aneh, juga punya karisma tersendiri. X factor yang membuat dia sangat mudah disukai orang.

“Heh, kok diem aja?” tanya Cakra.

“Ah,eh, apa, kenapa?”

“Nggak. Kamu udah sarapan? Sarapan dulu gih….Habis itu mandi dan langsung ikut saya!” seru Cakra sambil menyuruh saya duduk.

“Ikut kamu? Emang kamu mau kemana?”

” Ah, udah. Jangan banyak tanya. Mang, buburnya satu buat Lysa. Jangan pake kacang, trus sambelnya yang banyak!”


***

“Cakraaaaaaaaaa….kok kamu ngajak saya ke sini???”

“Lho, memang kenapa? Bukannya ini tempat favorit kamu?”

“Bukan, ini tempat kencan impian saya. Dan kamu sudah merusak impian saya, Cakra!”

“Lho kok merusak? Justru saya berusaha mewujudkan impian kamu,”

” Tapi kan saya cuma mau datang ke sini sama someone special! Sama pacar saya kelak,”

“Ya suruh siapa kamu jomblo terus, nggak punya pacar terus…”

“Huh…”

“Ya udah, anggep aja saya pacar kamu. Jadi kencan impian kamu tetap terwujud. Gimana?”

“Huh, dasar orang ini. Ya nggak segampang itulah…”

“Udah ah, bawel. Just enjoy it, Lysa… Yuk, kita masuk ke dalem,”


Setelah membeli tiket, kami langsung masuk ke dalam tempat itu. Dari kejauhan saya bisa melihat puluhan anak kecil sedang menikmati permainan yang ada. Sebagian ada yang asyik main ayunan dan perosotan. Sebagian lagi ada yang asyik naik kereta-keretaan. Begitu melihat ke arah kiri, beberapa anak sedang berfoto ria dengan badut-badut lucu. Ada juga yang sedang membeli gula kapas sambil ditemani ibu-bapaknya. Lagu anak-anak yang terdengar dari pengeras suara membuat suasana tempat ini semakin istimewa.

SELAMAT DATANG DI TAMAN LALU LINTAS !!!

“Aneh banget! Perempuan lain kalau ditanya tempat kencan impian pasti jawabnya; makan malam di resto romantislah, ngeliat sunset di pantailah, ini kok malah di Taman Lalu Lintas???” seru Cakra suatu hari begitu saya menceritakan dimana kencan impian saya.

“Ya itu kan perempuan lain, bukan saya.”

“Kenapa Taman Lalu Lintas?”

“Hmm…kenapa ya? Saya suka aja suasananya. Banyak anak kecil. You know that I really like children. When I was child, my parents used to take me to that place…everytime I go to that place, it recalls me to my childhood memories…”

“Chilldhood…when we just know two words: happiness and hapiness. Hahahahahaha. There’s no obligations, problems, and other shit things. We’re just playin and cryin… Jadi itu alasan kenapa kamu ingin mengajak pacar kamu ke Taman Lalu Lintas? Supaya kamu dan dia hanya merasakan ‘kebahagiaan’? “

“Kinda. Tapi itu bukan sekedar kebahagiaan, Cakra. Rasa bahagia ketika kamu masih kanak-kanak itu berbeda. And it’ll remains till you grow up. Even till you die. Itulah yang ingin saya bagi ke pacar saya. Perasaan-perasaan everlasting seperti itu, “




“Nih buat kamu,” ujar Cakra sembari menyodorkan gula kapas merah muda ke depan muka saya. Saya mengambil gula kapas tersebut dan langsung melahapnya.

“For god sake, i really like this…YUUMMY!!! “

“Hehe, dasar kamu kayak anak kecil. Kesukaanya makan lolipop sama gula kapas…Tapi sama sekali nggak suka es krim dan coklat ya? Aneh.”

“Biarin, suka-suka dong! Eh, ayo kita ke sana!” ujar saya sambil mengajak Cakra ke sebuah ayunan.

“Mana SLR kamu? Fotoin saya doong! Kan cakep tuh, makan gula kapas sambil maen ayunan. Hehehehe…”

“Iya,iya.. Siap bergaya Nona Lysa?”

“Siaaap Pak fotografeerrr!!!”

Hal yang kami lakukan selanjutnya adalah berfoto ria dan melakukan hal-hal kekanakan lainnya. Main ayunan, main perosotan, serta main petak umpet bersama anak-anak yang ada di sana. Tak terasa hari sudah semakin sore. Kami memutuskan untuk pulang. Karena tidak membawa kendaraan, kami pun harus berjalan kaki sampai menemukan angkutan umum yang searah dengan rumah saya.

” What a wonderful date, huh???” ujar Cakra sambil tersenyum.

“Ahahahahahaha…. Yeah. Walaupun kamu sudah merusak kencan impian saya. Tapi nggak apa-apalah. Kamu sudah membayarnya dengan gula kapas dan foto-foto yang keren,hehe… Makasih ya Cakra… “

“Sama-sama Lysa…”

“Cakra?”

“Ya?”

“Kamu kemana aja selama ini? Kok jarang ngehubungin saya? Saya telpon, sms, dan nge-wall nggak pernah dibales. Lagi sibuk ya?”

“Ya, biasa lah…”

“Maaf banget. Bukannya saya mau ikut campur urusan kamu atau apa. Tapi saya khawatir banget. Gimana kalau kamu ternyata tewas di kosan gara-gara kesetrum dan nggak ketauan sama orang-orang? Atau kamu ternyata tersesat di hutan, atau terseret ombak dan terdampar di pulau berhantu? Gimana orang bisa tau dimana kamu berada kalau kamu nggak ngabarin mereka sebelumnya kan?”

“Hahaha. Kamu terlalu banyak nonton sinetron!”

“Tapi bagian saya khawatir itu serius lho…”

“Iya, iya…”

“…”

” Lysa?”

“Ya?”

“Kita mesti nyebrang nih…angkot ke arah rumah kamu ada di sebrang jalan sana,”

“Iya. Saya tau. Terus kenapa?”

“Janga di sini nyebrangnya. Yuk kita ke sana,” kata Cakra sambil mengajak saya ke jalan yang ada tanda zebra crossnya.

“Kalau menyebrang itu harus di zebra cross. Kalau ketabrak, kamu akan dijamin undang-undang lalu lintas karena menyebrang di tempat yang seharusnya…” ujar saya dan Cakra berbarengan. Kami saling pandang dan langsung tertawa. Cakra memang selalu melontarkan kata-kata itu setiap kali kami menyebrang. Tak heran saya sampai hapal dengan kalimat tersebut.

“Lysa?”

“Ya? Mau nyuruh saya nyebrang di zebra cross lagi?? Ini kan kita udah nyebrang di zebra cross,”

” Saya udah jadian,” kata Cakra datar.

Saya terkejut. Saking terkejutnya sampai tidak bisa berkata-kata. Speechless. Untung Cakra buru-buru menggiring saya ke tepi jalan. Kalau tidak, saya mungkin sudah ketabrak.

“Lysa? Kamu bai-baik saja kan? Maaf baru ngasih tahu sekarang…”

“Eh,eh, baik kok. Wah, kamu udah jadiaaaan!!! Selamaaat yaaaa Cakra, ting ting ting!!! Akhirnya, setelah tiga tahun menjomblo, kamu dapat pacar juga!!! Berarti persepsi saya yang menganggap kamu homo itu salah! Hihihihiihi” cerocos saya panjang lebar. Pura-pura bahagia.

“Enak aja! Saya normal tau!”

“Heheheh. Anak mana emang? Hmmm, pantesan aja kamu ngilang belakangan ini. Rupa-rupanya ada yang lagi sibuk pedekate…lalalalala”

“Satu kampus juga kok sama kamu. Tapi dia di Jatinangor. Anak fikom.”

“Berarti mesti bulak-balik Jatinangor-Taman Sari dong? Wah, anak fikom ya. Pasti cantik deh. Kan anak fikom cantik-cantik. Nyambung juga sama kamu yang anak DKV. Kenalin dong sama saya!” demi tuhan saya tidak tahu apa yang sedang saya bicarakan. I’m out of control.

“Hahahaha. Ga apa-apalah. Cari suasana baru. Iya gampang ntar saya kenalin,”

“Eh, angkotnya udah ada tuh. Saya pulang dulu ya! Jangan lupa kenalin saya sama pacar baru kamu! Pajak jadiannya jangan lupa!!!” ujar saya sambil menyetop sebuah angkot.

“Saya anterin ya?”

“Aduh nggak usah, Cakra! Saya kan bisa pulang sendiri..oke,oke, dadaaaah…jangan lupa PJ! Salam buat pacar baru kamu ya…” jawab saya sambil menaiki angkot.

Tiba-tiba ada perasaan aneh dalam diri saya. Tak lama kemudian pandangan saya kabur. Sesuatu yang panas mengalir dari mata saya. Air mata.

Cakra dan Lysa:Ada Apa Dengan Cakra?

Cakra menghilang.
Untuk kesekian kalinya dia seperti ini.
DiSMS, nggak dibalas.
Akun YM, Facebook, dan Twitternya offline.
Ditelfon,nggak diangkat.
” Saya nggak terlalu suka nelpon atau ngangkat telefon orang. Kalau masih bisa SMS, buat apa nelpon? Buang-buang pulsa aja…” ujarnya suatu hari. Dasar lelaki ini, cuek banget sih orangnya! Kalau ada orang yang nelpon karena ada hal yang mendesak atau penting gimana?
“Ya SMS juga nyampenya paling berapa detik doang. Nggak selama ngirim surat lewat kantor pos kan?”
Oke.Saya menyerah. Dia selalu punya alasan untuk mempertahankan apa yang dia rasa benar. Haaaah, dia nggak tau sih kalau beberapa provider malah lebih memurahkan tarif nelpon ketimbang SMS.
Sudahlah. Toh orangnya juga nggak ada di sini.
YA.
Dimana dia?
Sebenarnya saya ingin datang ke kosannya. Namun saya urungkan niat itu. Kayaknya sih dia nggak ada di kosannya. Mungkin sedang kembali ke rumah orang tuanya? Entahlah. Maybe he just needs privacy.

Seperti yang saya bilang tadi,kisah menghilangnya Cakra bukan terjadi kali ini saja. Seingat saya, selama kita berteman, sudah beberapa kali dia menghilang seperti ini. Tiba-tiba susah dihubungi, tak lama kemudian dia kembali dengan wajah-polos-tak-berdosa khasnya. Setiap saya tanya kenapa dia susah dihubungi, dia selalu bilang:
“Biasalah, ada kerjaan. Hape di silence, jadi nggak kedengeran. Tenang, jangan khawatir.I’m Ok, Lysa….buktinya saya sekarang ada di depan kamu, iya kan?”

“Tenang?Tenang kamu bilang?Bagaimana saya bisa TENANG kalau kamu susah dihubungi? Gimana kalau kamu kenapa-kenapa?Kalau kamu tersesat di hutan dan dimakan binatang buas? Atau jatuh dari tebing? Apa saya masih bisa tenang?”

“Ahahahahaha. Kamu kebanyakan nonton sinetron! Lagian kamu kok udah kayak pacar saya aja sampai khawatir berlebih gitu?Kenapa, nggak bisa jauh-jauh dari saya ya??? Kangen sama saya? Ahahahahaha”

Iya juga ya? Kok saya mesti khawatir berlebih seperti itu? Saya kan bukan PACARNYA! Nanti dia ke-GR-an! Disangkanya saya SUKA sama dia! Argghhh….salah ngomong!
Ah, whatever.

Ini bukan tentang saya khawatir atau kangen atau apalah namanya itu. BUKAN. Sebenarnya saya penasaran! Kenapa dia sering menghilang tiba-tiba? Terlebih, kenapa dia tidak pernah mau cerita kemana dia pergi atau apa yang dia lakukan selama menghilang itu pada saya?

Jujur saja, selama ini saya merasa dia menyembunyikan sesuatu dari saya. Bahkan saya merasabanyak hal yang ia sembunyikan dari saya. Pada dasarnya, dia itu seorang introvert yang tidak terlalu suka menceritakan hidupnya pada orang lain. Meskipun pada teman dekatnya. Oke, itu hak dia. Tapi saya menangkap hal lain dari sikapnya itu. Dibalik sikapnya yang super baik, dia itu sebenarnya sangat misterius. Dia tak pernah memberikan kesempatan bagi orang lain untuk membaca isi hati dan pikirannya. Dia selalu memberi jarak, membatasi diri agar tak ada seorang pun yang bisa menyentuhnya. Orang bilang mata itu cerminan hati. Tapi ketika saya menatap matanya, saya tetap tak bisa memecahkan keganjilan itu. Saya tak tahu apa yang sedang dipikirkannya, apa yang ada dalam hatinya, apakah dia sedang bicara jujur atau tidak…

Oke, saya memang bukan cenanyang yang bisa membaca pikiran orang. Tapi saya terlahir dengan intuisi yang cukup tajam. Gini-gini, intuisi saya sering tepat sasaran. Nah, begitu dekat dengan Cakra, saya sudah menangkap sesuatu yang ganjil. Awalnya saya tidak menghiraukan intuisi tersebut. Tapi lama-kelamaan, intuisi itu semakin kuat. Dia menyembunyikan sesuatu dari saya. Terkadang, saya merasa dia memiliki kepribadian ganda.Entahlah. Kadang saya merasa dia itu aktor yang senang memainkan peran-peran orang lain, tanpa pernah menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya.

Ada Apa Dengan Cakra?

Cakra dan Lysa: Si Pohon dan Si Tanah

Cakra

Lysa, sungguh saya tidak bisa berkata-kata dengan manis, apalagi puitis. Tapi saya ingin mengatakan ini. Kapan lagi kamu mendengarkan saya memberikan testimoni tentang kamu tanpa kata-kata sarkastik dan menohok hati? Kamu tahu kan saya paling susah memberikan pujian?You Know me,Lysa. Hahaha, kalau nggak gengsian bukan saya kan namanya?

Oke, let’s start.

Lysabrina Alveriza di mata Cakrawala Madya Putra:


* Kamu itu manis, senyummu menarik (Kamu selalu iri dengan perempuan yang punya kulit putih, wajah indo, dan tinggi semampai. Kamu selalu menganggap diri kamu jelek dan tidak menarik. Tapi percayalah, kamu tidak sejelek itu! Lagian tidak semua lelaki suka tipe Barbie seperti itu. Saya salah satunya!)


* Multitalenta (with those of skills that amazed me…Why is god soooo NICE with you? Sayang, kamu kadang tidak menyadarinya…)


* Baik




KLISE ya? Nggak harus pake acara gini-ginian dan sok-sokan pakai kata-kata manis, romantis, apalagi puitis kalau cuma gitu doang. Pastinya kamu berharap saya mengomentari sesuatu yang lebih dalam dan bermakna, iya kan? Secara saya memang hobi berfilosofi dan hal itulah yang membuat saya terlihat tambah keren di mata kamu. Hahahahaha.

Oke, mari kita berfilosofi kalau begitu.

…
…
…

Hmm, sungguh, saya bingung harus memulainya darimana.
Aneh.
Padahal biasanya saya paling lancar urusan beginian.

Hmm…
Apakah kamu tahu jika ekspresi matamu yang meneduhkan itu selalu bisa membuat saya merasa tenang dan nyaman?
Kamu seperti pohon yang rindang. Saat saya merasa tertekan dengan kehidupan,kepanasan, atau ketika butuh teman bicara, saya akan selalu menemuimu. Bersandar di batangmu yang kokoh dan kuat, bercerita panjang lebar sambil menangis atau tertawa. Tak jarang saya ketiduran di sana. Tapi kamu tak merasa keberatan. Kamu tak menganggap saya benalu. Kamu justru melindungi saya dengan daun mu yang rindang dan tebal.

Kalau diibiratkan sebagai pohon, kamu jenis pohon apa ya? Mungkin kamu seperti pohon Ek yang kuat dan besar atau seperti pohon Cemara yang evergreen dan tahan dingin. Entahlah. Saya kurang paham soal dunia tanaman dan tumbuh-tumbuhan. Yang pasti di mata saya, kamu adalah pohon yang sempurna. Daunmu yang hijau dan rindang, bungamu yang cantik, akarmu yang kuat, serta batangmu yang besar dan tinggi. Bahkan terlalu tinggi hingga saya tak dapat
menyentuhnya.

Kamu terlalu sempurna. Sehingga kamu tak terjangkau. Tak tersentuh. Inikah yang membuatmu jadi tak terurus,sendiri dan kesepian? Orang-orang yang datang bersandar pergi satu-persatu saat hujan mengguyur karena takut kebasahan atau tersambar petir. Sebagian orang menuliskan nama mereka di batangmu,kenang-kenangan katanya, tapi mereka tidak pernah kembali untuk sekedar memberi pupuk atau mencabuti daunmu yang telah kering . Bahkan ulat pun hanya hinggap sesaat, dan pergi saat ia menjadi kupu-kupu.





Gimana?
Keren kan filosofi saya?
Cakra tea atuh jagoan!!! Hahahahaha.

Apakah kamu pernah menyadarinya, Lysa?
Apakah kamu pernah menyadari kalau kamu itu istimewa, terlebih bagi saya?
Kamu selalu bilang saya adalah orang yang paling sempurna sejagad raya ini. Iya, itu memang betul, tapi kamu juga sama sempurna dan kerennya seperti saya. Hahahaha.
Gapapa kan jadi orang terkeren kedua setelah saya?
hahahahaha.


Serius, Cakra, serius!


Oke, mari kita lanjutkan.

Kamu tahu? Sebenarnya saya ingin menjadi tanah, yang akan selalu menopangmu untuk berdiri tegak. Menjadi pijakan saat buahmu terjatuh. Menguraikanmu saat mati, dan menumbuhkanmu ke permukaan untuk dapat berdiri lagi…
Tetapi pohon dan tanah hanya sebatas “rantai alam”. Pohon tersebut tak dapat menguasai tanah seorang diri, dia harus rela berbagi dengan makhluk hidup dan tumbuhan lain. Mungkin kamu merasa ini tidak adil. Atau merasa si tanah sangat rakus. Tapi kita berbicara tentang realita. Suka tak suka, si pohon harus BERBAGI.


***

” Cakraaaaaa, kamu lagi apaaa? Saya boleh masuk ke dalem nggak?” Tiba-tiba dari arah luar terdengar sebuah suara yang sudah saya hapal betul. Sedetik kemudian si empunya suara muncul sambil membawa satu box J.Co.

” Kamu lagi apa? Lagi ngedit foto atau ngedesain sesuatukah? Ohya, selamat lebaraaaan. Nih saya bawain donat kesukaan kamu…” ujar Lysa sambil bergerak ke arah saya.

Saya buru-buru menutup Word dan langsung berdiri mendekati Lysa.

” Enggg, iya ni…lagi iseng aja ngeditin foto lamaa. Eh, kita jalan-jalan yuk? Tapi saya mau ganti baju dulu. Jadi kamu keluar dulu ya….oke, oke?” Ujar saya sambil mendorong Lysa keluar dari kamar kostan.

Detik berikutnya, saya menutup pintu sambil tak lupa menguncinya dan buru-buru menyimpan tulisan tadi di sebuah folder yang langsung saya hidden agar tidak ada seorang pun (baca: Lysa) yang dapat menemukannya.



Terima kasih untuk Mia yang telah memberikan filosofi tentang si pohon dan embel-embel lainnya. Ternyata chatting sampai malam buta ada hikmahnya juga ya? Nggak cuma bergosip, bergunjing,bermimpi, mengeluh, ngabodor, dan berserapah aja kan? Tapi juga bisa memaknai sesuatu.Belajar sesuatu. Saling transfer banyak hal.
i really Like This, love you…=)

Cakra dan Lysa: Cinta Platonik

Tiba-tiba Cakra masuk ke kamar dan langsung menarik tangan saya.

“Ikut saya sekarang!”

Saya yang sedang asyik membaca novel sambil tiduran terkaget-kaget melihat kedatangan Cakra dan langsung mencoba melepaskan pegangan tangannya.

“Heh, heh, Cakra, kamu apa-apaan! Datang-datang langsung narik saya paksa gini…Lepaaasiiin tangan sayaaaa!!!”

“Eh, sori, sori. Maaf…” Jawab Cakra sambil melepaskan tangan saya.

” Kita ngabuburit yuk!” Lanjut Cakra sambil tersenyum lebar. Mata sipitnya langsung membentuk satu garis ketika dia tersenyum. Huh, dasar wajah seribu mimik! Bagaimana saya bisa marah karena sudah diperlakukan semena-mena barusan kalau dia mengeluarkan ekspresi wajah lucu,kekanakan, tapi tetap ganteng seperti itu!

“Ngabuburit kemana?”

” Udah, nggak perlu tau. Yuk cepet, udah sore nih!”

“Heh, Cakra, kamu nggak lihat saya kucel gini? Saya siap-siap dulu ya!”

“Ya udah. Lima belas menit! Nggak perlu dandan!”

***


“Saya baru tahu kalau kamu bisa nyetir,” ujar saya ketika melihat sebuah Terios hitam terparkir di depan rumah.

“Emang saya harus cerita hal kecil kayak gitu juga sama kamu?”

“Ya nggak juga sih…Yuk ah, keburu macet!”


Kami berdua masuk ke dalam mobil. Dasar Cakra jorok! Mobilnya seperti kapal pecah!Berantakan! Baju-baju, tas, buku-buku, laptop,parfum, bungkus makanan,case gitar, semua tergeletak begitu saja di jok belakang.

“Saya memutuskan untuk memensiunkan si Dodot-motor kesayangannya. Lagian sekarang saya lagi banyak manggung dan harus kesana-kemari sambil bawa banyak barang. Jadi maklum saja kalau berantakan… ”

“Kita mau kemana sebenernya? It’s kinda of date or somethin? Hahahaha…”

” Enak aja! Saya cuma ngerasa kasihan aja sama kamu. Tiap kali ngabuburit,ngerem terus di kamar sambil baca novel. Tiap kali malam minggu, diem terus di rumah nonton TV..Lama-lama kamu jadi lumutan tuh di rumah, hahahaha…”

“Dasar kurang ajar! Heh,justru saya diem di rumah tiap weekend karena hari-hari biasa saya sibuk dan nggak pernah ada di rumah!”

“Ngeles sih kamu paling bisa! Udah jelas-jelas kamu nggak punya pacar dan rumahnya kejauhan dari pusat kota, makanya tiap malam minggu cuman nonton TV..hahahaha!!!”

” Biarin aja,Huh!”

” Yeee, ngambek. Kenyataan tau! Makanya saya mau ngajak kamu ngabuburit sekaligus buka puasa di luar. Haa, sudah pasti amal saya bertambah banyak karena menolong orang yang malang, kesusahan, dan teraniaya macam kamu”

“Heh, yang ada amal kamu nggak diterima karena pamrih gitu..”

“Hahaha. Iya juga yaa…”


***

“Cakraaaaaaa…Kamu menyebalkaaaaan!!!!! Kenapa kamu ngajak saya ke sini?” Protes saya begitu kami sampai di daerah Lodaya. Saya terkaget-kaget ketika Cakra memberhentikan mobilnya di depan lapangan softball Lodaya. Ternyata Cakra mengajak saya nonton latihan softball.

“Kok menyebalkan? Bukannya berterima kasih karena saya sudah mengajak kamu ke tempat ini…” Jawabnya santai.

“Tapi kan saya udah bilang kalau saya mau nonton pertandingan softball sama pacar saya nanti! Bukan sama kamu! Ini kan salah satu kencan impian sayaaaa…” Sungut saya kesal. Saya memang pernah cerita pada Cakra jika menonton pertandingan softball adalah salah satu kencan impian saya.

Saya kemudian mengikuti Cakra yang tengah berjalan ke arah tribun. Kami pun menduduki tribun paling atas.Di depan sana terlihat dua klub softball sedang melakukan pertandingan persahabatan. Tidak banyak orang yang menonton. Hanya beberapa kelompok orang yang sepertinya masih anggota klub olahraga tersebut. Mereka berteriak-teriak memberikan dukungan atau sorakan saat klubnya tak berhasil membuat home run.


” Maaf karena merusak kencan impian kamu…Tapi emang salah ya saya ngajak kamu ke sini?”

“Ya nggak sih. Saya hanya berharap bisa mewujudkan kencan impian saya dengan seseorang yang spesial,” Jawab saya jujur.

“Jadi saya tidak spesial bagi kamu?”

Saya diam. Bingung memberikan jawaban.

” You’re special, in a different way…Hmm, if I can describe our relationship, it’s kinda of platonic love…”

“Platonic love? What’s that?”

” Kamu belum pernah mendengarnya? Cinta Platonik, Amor Platonicus,or Platonic Love…is love without sexual attraction between opposite sexes…. Lelaki dan perempuan itu merasa senang, nyaman, tentram, saling terikat satu sama lain, and they’re just click together. Seolah mereka dapat memikirkan dan meneruskan apa yang pasangannya pikirkan atau bicarakan. Dan karena perasaan itu, sexual attraction between them dissapear… Tidak ada lagi “nafsu binatang” di antara mereka…Kasarnya, mereka sama sekali tidak ingin brhubungan badan, bahkan ketika mereka sama-sama telanjang… Ada perasaan—sulit dideskripsiikan—yang mungkin didapat baik dari si perempuan maupun lelaki yang tidak mereka dapat dari lelaki atau perempuan lain…”

“Itu sebabnya ketika kita berciuman kita tidak merasakan hasrat atau nafsu apapun?”

“Ya, bisa dikatakan begitu…”

” Tapi jujur saja, perasaan-perasaan sulit dideskripsikan itu hanya saya dapatkan ketika bersama kamu…Cinta jenis ini agak membingungkan juga ya?”

“Haha, kamu lihat kan? Cinta memang punya seribu wajah untuk mengamuflase kita! Ya sudahlah, lagi shaum juga. Saya lagi malas bertengkar dengan cinta…Hhh..”

” Makanya kamu cepat cari pacar, biar nggak marah-marah terus sama cinta! Terus wujudkanlah kencan impian kamu itu!Makan gula kapas sambil main ayunan di Taman Lalu Lintas, nonton pertandingan Persib di Jalak Harupat, wisata Museum, main PS bareng-bareng…terus apalagi?”

“Hahaha, kamu ingat juga ternyata! Hmm…Tapi untuk mewujudkan kencan impian saya itu butuh waktu yang agak lama…Lihat, nggak ada yang mau sama saya! Bahkan tidak ada yang meng-sms saya untuk melakukan pendekatan…memang nasib,”

“Iya, habis mana ada lelaki yang mau bertahan sama kamu? Udah menyebalkan, hobi marah-marah, lemot, moody-an, aneh,autis…hahahaha. Kalau pun ada yang mau, dia pasti mikir dua kali untuk mendekati kamu. Habis kamu dekat dengan lelaki ganteng,keren, multitalenta, dan baik hati seperti saya! Mereka langsung ngeper meureuuuunnn. Hahahahaha…”

Tanpa Ba-bi-bu, saya langsung mencubiti Cakra sampai dia meringis kesakitan.




Terimakasih untuk Dudung yang memberikan penjelasan tentang Cinta Platonik dan untuk Sahrul yang menjadi awal pengetahuan saya soal jenis cinta ini =)

Cakra dan Lysa: "Dasar Penggoda!"

Masih di tempat yang sama. Sebuah bukit di kawasan Lembang. Hari sudah semakin sore. Semburat matahari berubah kemerahan. Hangat dan indah. Inilah senja. Suasana yang paling saya suka. Rasanya nyaman dan sangat bersahabat. Seolah matahari memberikan senyum terbaiknya sebelum bergegas pulang. Apalagi saya berada di dataran tinggi. Sudah pasti saya bisa melihat pemandangan istimewa tersebut dengan jelas. Seolah senja hari ini khusus dihadiahi matahari pada saya seorang. Matahari mungkin tahu saya sedang berbahagia.Entahlah. Garis-garis kemerahan berwarna merah, jingga, putih, biru, hijau, dan ungu di ujung langit membuat nuansa sore itu semakin spektakuler. Sekali lagi saya acungkan dua jempol pada-Nya yang telah menciptakan. Sayang senja tidak selama siang atau malam. Dia datang lalu pergi dengan begitu cepat. Jadi saya tak bisa memandanginya sesuka hati. Dia sangat eksklusif. Tapi keberadaanya yang singkat membuat senja tidak bisa dilupakan begitu saja. Selalu berbekas di hati orang yang memandangi dan menyukainya.

Semua sangat sempurna, kecuali angin yang berhembus kencang. Saya yang tidak tahan dingin buru-buru memasang perlengkapan anti perang. Hoodie, scarf, dan sweater dipakai bertumpuk. Tak peduli pakaian saya Match atau tidak. In this situation, function is more important than fashion. Tadinya saya juga mau pakai gloves. Tapi rasanya kok terlalu berlebihan ya? Toh saya tidak sedang berada di sebuah tempat dengan temperatur di bawah nol derajat celsius. Tapi bayangan bronhitis dan alergi memang selalu menghantui. Jadi ya saya selalu jaga-jaga.

Cakra duduk di sebelah saya. Ikut memandangi senja. Euforia pertemuan setelah vakum memang masih terasa. Tapi dia memberikan kesempatan pada saya untuk menikmati momen sekejap ini.

“Cakra, I’m realizing somethin…”

“What’s that?”

“You never tell me about your life! Even, you never share your romance life to me! Oh, how dare you??? “

“Should I?”

“Not really actually, but I think i’m just too selfish!There’s always about ME. About Lysabrina Alveriza. And where’s your part? Oh, damn it! I’m not a good friend “

“It’s Ok. Actually, i prefer listening than talking… “

” But I think it’s just not fair! Ok, look,this is your turn. Tell me about your life…”

” My life is controlled”

“Then? “

“Then what? Nothing i can say to you, Lysa… “

Oke. skak mat. Kalau sudah begini dia berarti tidak mau berbicara banyak tentang hidupnya. Tapi bukan saya namanya kalau tidak bisa memancing dan menggali pribadi orang.

“Hmm… Cakra,Siapa pacar kamu skarang?”

” Tidak ada,”

“Lalu apa yang kamu lakukan ketika kita sedang vakum? Saya pikir kamu mencari perempuan, mendekati, dan berpacaran dengannya. Saya pikir kamu akan bertemu saya sambil mengenalkan pacar baru kamu itu…”

“Saya kan backpacking ke Lombok. Hunting foto dan diving di Bunaken. Ikan-ikan, terumbu karang, dan pantai lebih menarik perhatian saya ketimbang perempuan. Bahkan yang berbikini sekalipun “

“Jangan-jangan kamu tidak suka perempuan…”

“Enak saja! Saya masih normal tau… saya juga kan pernah beberapa kali pacaran. DAN SAMA PEREMPUAN!”

” Kalau masih normal, kenapa nggak cari pacar? Kok saya nggak pernah ngedenger kamu cerita tentang perempuan? Kamu nggak pernah bilang kalau kamu lagi tertarik, suka, atau jatuh cinta sama perempuan? Terus, kemarin-kemarin, ada yang naksir sama kamu. Hmm…satu jurusan sama kamu itu lho… Maya ya? Iya, Maya namanya. Yang sampai nanya-nanya kamu ke saya tiap hari. Oh, sebelumnya juga ada Lita, Ana, Kayla, Via…Mereka cantik-cantik kan? Kok nggak ada sih yang nyangkut di kamu?”

” Hmm,iya juga ya?”

” Ya udah, cari aja nomer mereka, trus kamu deketin dan cari yang paling cocok dengan kamu. Beres kan?”

” Tapi nggak ah. Males. Mereka cantik-cantik sih, tapi belum tentu kan cocok sama saya…Lagian saya nggak bisa deketin perempuan. Bukan gaya saya,”

” Bohong banget kamu nggak bisa deketin perempuan! Laki-laki macam kamu, yang ganteng, multitalenta, baik parah, dan sangat-sangat sempurna itu nggak bisa deketin perempuan? Bullshit!!!! Biasanya kan lelaki-lelaki seperti kamu hobinya mengincar perempuan-perempuan cantik … “

“Please, don’t be stereotype.. “

“Kamu kan cuma tinggal deketin mereka. Saya jamin semua perempuan nggak akan ada yang nolak dan megap-megap saking senangnya dideketin sama cowok sesempurna kamu!”

“Tapi kok kamu nggak? Kamu kok nggak megap-megap didekati cowok SE-SEMPURNA saya?”

“Hahahahahaha.Kamu ini lucu. Kamu mendekati saya bukan untuk PDKT! Saya tau itu, Cakra! “

“Sok tahu kamu,”

” Hahahaha. Dasar. I know you, Cakra…”

“No, you don’t. “

” Lagian saya tidak tertarik sama kamu. Oke, kamu memang sempurna. Tapi….” belum lagi saya melanjutkan perkataan, tiba-tiba Cakra mendekatkan wajahnya ke wajah saya. Dekat sekali. Mungkin hanya berjarak kurang dari sepuluh senti. Bau rokok campur wangi parfum begitu menusuk hidung. Menghasilkan sensasi yang sangat menggairahkan dan sexy.

dead air

“Benar kamu tidak tertarik pada saya?” kata Cakra. wajah kami masih berdekatan. Saya bahkan bisa melihat pantulan wajah saya di retina matanya.

“Tidak,” jawab saya mantap.

“Masa?” Tanya Cakra sambil mendekatkan wajahnya lagi. Sekarang ujung hidungnya menyentuh hidung saya.

” Tak percaya? Akan saya buktikan,” saya kemudian menempelkan bibir saya pada bibirnya. Tapi saya tidak merasakan apapun. Getaran-getaran, rasa hangat, atau apapun itu namanya.Saya juga tahu dia tidak merasakan apapun. Nafasnya tidak terengah-engah, wajahnya tak berkeringat. Semua dalam keadaaan normal. Seolah kami hanya sedang berbincang biasa, bukan berciuman. Kami memang sudah mati rasa. Atau karena sudah merasa satu jiwa?

Satu menit kemudian adegan ciuman itu terhenti. Kami saling berpandangan. Lalu kami tertawa terbahak-bahak.

” Lihat kan,saya bilang juga apa! Saya tidak tertarik sama kamu. Begitu pun sebaliknya…hahahahaha. Jahilan kamu tidak berhasil!!!”

” Kamu tahu darimana?”

” Lagi-lagi kamu tanya soal itu. Saya kan sudah pernah bilang, saya itu punya intuisi yang kuat. Lagian, saya tau siapa kamu, Cakra…!!! Salah kalau kamu menggoda saya dengan cara seperti ini. Nggak akan berhasil! Tidak elegan ah,”

“Hahahaha. Iya. Sial. Saya juga tahu kamu tidak akan tergoda dengan cara klise seperti ini. Padahal kalau saya berhasil menggoda kamu, saya punya kartu AS untuk ceng-cengin kamu di kemudian hari…Kamu memang sudah mati rasa, Lysa… “

” Begitu pun kamu, dasar penggoda kelas teri! Sekarang saya paham kenapa kamu bilang nggak bisa deketin cewek…hahaha”

Cakra dan Lysa: "Vakum"

Sudah lama saya tidak bertemu dengan Cakra. Rasanya sudah bertahun-tahun saya tidak berbicara dengannya. Padahal baru beberapa lama saja kami tidak saling menyapa. Saya sedang sibuk (jelas itu bohong, saya hanya sok sibuk). Mengisi liburan dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, meningkatkan kualitas hidup serta mengembangkan potensi diri yang sempat stagnan, serta relaksasi diri dengan berlibur bersama kawan-kawan lama. Lumayan, menghilangkan penat dan sakitnya patah hati. Otomatis Cakra menjadi prioritas saya yang kesekian. Hmm, bukannya saya melupakan dia. Tidak, sama sekali bukan. Belakangan kami justru terlalu sering bersama. Justru inilah satu-satunya kesempatan kami untuk “vakum”. “Izinkan saya untuk berkegiatan di luar hidup saya bersama kamu, Cakra! Dan saya akan membiarkan kamu menyelami duniamu, bahkan tertidur lelap bersamanya…” ujar saya. Cakra setuju. Lagipula dia nampak lelah menjadi “tong sampah” saya melulu. Lalu kami pun berjanji untuk tidak saling mengontak. Baik lewat telpon, sms, YM, Facebook, merpati pos, telegram,bahkan lewat telepati sekalipun.

Setelah berkubang dengan me time. saya tiba-tiba rindu padanya. Saya rindu berbincang dengannya. Mengeluarkan isi otak saya yang kadang penuh dengan hal remeh-temeh sampai hal-hal kompleks yang bahkan untuk mengungkapkannya saja membutuhkan tenaga ekstra. Berbicara tentang perasaan-perasaan. Saling mengejek. Saling melontarkan lelucon garing dan mengumpat dengan kata-kata sarkastik. Mencium harumnya. Terbatuk-batuk karena kepulan asap Amild yang dihembuskannya. Memandang wajahnya yang ganteng ketika sedang memainkan gitar, mengotak-atik EOS 450 D-nya, atau ketika serius mendesain dan mengedit sesuatu di depan laptopnya (yang kemudian berubah menjadi tampang bloon dan bodoh ketika mencoba menghibur saya dengan ber-lip sync dari mulai lagu-lagu lawas sampai lagu paling happening, menirukan aksi power rangers ketika berperang, serta melakukan gerakan-gerakan aneh yang dia sebut sebagai “Gerakan-Penggugah-Semanga t-dan-Tawa” yang merupakan campuran dari senam Poco-poco, SKJ, Capoeira, Jaipongan, Goyang dandut, dan balet). Atau bahkan hanya untuk bertemu,say hello, kemudian melanjutkan pekerjaan masing-masing.

Hari ini, kami bertemu lagi. Kami berjumpa sore hari di sebuah perbukitan di kawasan Lembang. Kenapa tempat itu? Alasannya simpel. Dia suka dataran tinggi yang dingin dan saya suka melihat suasana senja ketika matahari akan terbenam. Jadi tempat itu adalah tempat yang sangat cocok. Alasan lain, karena kami sedang tidak punya uang untuk tepang sono di kafe atau resto

Seperti dua orang yang telah dipisahkan beribu-ribu tahun lamanya, kami pun mulai melepas rindu. Menceritakan setiap kejadian yang kita alami ketika “vakum”. Tertawa sampai mata berair dan perut sakit. Saling mengumpat. Bersenandung lagu-lagu favorit. Cakra merokok dan minum soda. Saya mengulum lolipop dan minum teh hijau dalam kemasan.

Kadang-kadang kita memang perlu break. Vakum sejenak dari rutinitas. Dari kebiasaan. Vakum memang terjadi karena kita bosan dan jenuh dengan hal yang itu-itu saja. Tapi bukan berarti kita tidak akan kembali lagi pada hal itu. Vakum hanya sebuah strategi agar kita tidak hidup seperti bom waktu,yang meledak setelah terendap begitu lama. Vakum untuk me-recharge diri tak ada salahnya. Dianjurkan malah. Yang diharamkan adalah ketika sudah vakum, kita enggan untuk kembali ke tempat semula. Itu berarti kita tidak pernah mencoba mempertahankan apa yang sudah kita dapatkan. Atau kita hanya orang egois yang tidak pernah puas dengan apa yang sudah kita peroleh. Hah, tapi manusia memang seperti itu sih. Jadi ya susah juga.

Tapi dari “vakum” ini, justru saya mendapatkan pelajaran. Saya akan terus menjaga orang-orang yang sudah hadir di hidup saya,yang sudah menjadi bagian di sela-sela rutinitas saya. Karena ternyata mereka sangat berarti. Pada awalnya mungkin saya tak merasa, tapi setelah mereka “pergi”, saya merasa sangat kehilangan. Berarti memang benar pepatah yang mengatakan bahwa “you never know what you got till it’s gone”. Ah, Sungguh tepang sono yang sangat membahagiakan. Begitu sederhana, tapi melekat dalam hati.

Cakra dan Lysa: SAYA PROTES PADA TUHAN!

” Cakra, saya ingin berbincang dengan tuhan. Empat mata!”

” Ambil air wudhu, terus shalat malam” Jawab Cakra sambil terus menatap layar komputer di depannya. Sibuk mengedit lagu ciptaanya.

” Saya ragu cara itu akan efektif,”

” Kalau begitu, ambil silet, potong urat nadi kamu, saya jamin kamu akan bertemu langsung dengan tuhan!”

“Boro-boro bisa bertemu langsung! Yang ada saya langsung masuk neraka gara-gara bunuh diri!” Sungut saya kesal.

” Ya sudah, tunggu sampai Yaumul Ba’ats tiba!”

” Kelamaan!”

” Duh, habis saya tidak punya no telp atau YM tuhan…Eh, tuhan punya Facebook, Twitter, atau Skype tidak ya?” Ujar Cakra asal. Kalau sedang sibuk dengan dunianya, Cakra memang suka melantur kesana-kemari. Salah saya juga sih mengajak dia bicara di saat-saat seperti ini. Habis saya tidak tahu harus cerita sama siapa lagi selain dia…

” Cakraaaaaaaaa,saya serius!” jawab saya geram.

” Lho, kok jadi ngambek gitu? Tadi saya kan sudah memberikan alternatif jawaban paling benar dan masuk akal, eh… kamu malah ngeyel! Dikasih jawaban yang ngasal, kamu tambah ngeyel! Dasar kamu ini maunya apa sih…?” Kata Cakra sambil geleng-geleng kepala.

“Huh, dasar memang susah ngobrol serius sama kamu di saat-saat seperti ini!”

” Itu kamu tahu…Gimme 15 minutes, okay? Nanggung, lagi mixing…”

Saya kemudian menunggu. Lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, dua lima…akhirnya tiga puluh menit kemudian Cakra baru menyelesaikan urusannya.

” Maaf, maaf…finishing touch-nya membutuhkan waktu yang sedikit lama. Tapi hasilnya keren! Kamu pasti suka lagu ciptaan saya! Tenang, kamu akan menjadi first listenerskok…Atau kamu mau jadi groupis saya? Boleh banget….hahaha”

“…”

“Duh, jangan ditekuk gitu dong mukanya…Tambah jelek tau! Hahahahaha…” Ujar Cakra seraya mengambil bungkus A Mild dari atas komputernya dan langsung duduk di samping saya. Cakra menyalakan rokok dengan lighter dan mulai menghisapnya perlahan. Saya selalu suka cara dia merokok. Gayanya ketika menghisap batang rokok dan mengeluarkan asap dari mulutnya begitu khas. Dia memang sangat menikmati saat-saat merokok.Seolah hanya ada dia dan rokok. Rokok baginya adalah barang berharga yang tidak boleh dibiarkan habis begitu saja. Saya juga selalu suka melihatnya dari samping. Gambaran lelaki sempurna! Siluet kesempurnaan fisik dipadu sifat lelakinya yang kental membuat saya takjub sekaligus heran. Tuhan pasti baru menang lotere enam milyar ketika menciptakan dia!


“Cakra, saya ingin berbincang dengan tuhan. Tidak, tidak, saya mau protes pada-Nya!” Kata saya sambil memainkan Ibanez milik Cakra.

” Karena?” Selain semakin terlihat jantan, ternyata rokok juga bisa membuat kamu kembali bersikap normal.

” Saya lelah…Kenapa saya selalu dikasih cobaan? Kok kayanya saya tidak pernah dikasih kesempatan untuk bahagia ya?”

” Namanya juga manusia, pasti selalu dikasih cobaan…”

” Tapi kok saya dikasihnya berturut-turut gitu? Bahkan cobaan yang saya hadapi seringnya datang bersamaan. Sepertinya tuhan tidak mau memberikan kesempatan bagi saya untuk berbahagia. Bahkan menghela nafas sebentar pun tidak!”

“Saya lelah…Saya tidak sanggup! Masalah keluarga,masalah finansial, masalah di kampus, masalah percintaan, masalah eksistensi dan aktualitas diri…semua datang dalam waktu bersamaan! Saya tidak sanggup, Cakra…” Lanjut saya lemah.

” Tentu kamu pernah dengar salah satu ayat Al-Insyirah yang bunyinya: Bersamaan dengan kesulitan selalu ada kemudahan? Kalau tuhan memberi kamu ujian,sekalipun terus-terusan, berarti kamu memang sanggup untuk menghadapinya! Tidak ada masalah yang tidak bisa dihadapi manusia…Tuhan sudah menjamin itu kan? “

“Ah, tumben kamu insaf dan memberi nasihat dari sudut pandang agama! Biasanya kamu kan realis…”

” People changed , Lysa…I’v told that last nite …”

” Teman-teman saya kok terlihat bahagia-bahagia saja? Kalau pun mereka punya masalah, paling-paling seputaran kecengan, jerawatan, atau berat berat yang merangkak naik! Tidak sepelik saya…Kamu juga nampak tidak pernah mengalami masalah berat…Kenapa sih semua orang selalu diberi kebahagiaan sedang saya tidak? Saya kok malang terus? Kenapa harus saya? Apa salah saya? Saya bahkan sudah menjalankan kewajiban-Nya! Tapi kenapa saya terus dirundung masalah?” Nada bicara saya meninggi. Saya rasanya ingin memuntahkan semua saat itu juga.

” Kamu tahu alasannya kenapa? Karena kamu selalu melihat ke atas dan kurang bersyukur…Buktinya, kamu mengeluh seperti ini…”

” Tapi saya…” Air mata yang sedari tadi saya tahan akhirnya tak bisa dibendung lagi. Cakra memandang saya lekat-lekat. Rokoknya sengaja ia matikan.

” Kamu tahu, manusia dan tuhan itu ibarat sedang membuat film. Tuhan sutradaranya. kita, manusia, adalah aktornya. Kita harus menuruti apa kata sang sutradara, mengikuti semua arahan dan petunjuknya. Untuk apa? Agar akting kita bagus dan natural…Supaya kita bisa mendapatkan Oscar atau Citra karena akting kita yang bagus itu. Sang sutradara bisa saja membiarkan kita akting pas-pasan, kaku, dibuat-buat…Tapi dia tidak mau aktornya hanya jadi ejekan kritikus film…”

” Ah, analogi yang bagus Cakra! Tapi sayang skenario yang tuhan beri untuk saya buruk sekali…masa saya jadi orang malang melulu? Kenapa saya tidak jadi tokoh protagonis, antagonis, atau cameo saja sekalian?”

” Tapi kalau peran itu yang membuat kamu mendapatkan penghargaan? Tuhan tentu tidak memberikan peran ke sembarang orang, kan? Justru kamu adalah aktris kesayangannya… “

” Tapi saya lelah! Saya tidak sanggup menjadi aktris kesayanganya kalau harus begini terus! Persetan dengan semua!”

” Kamu sedang emosi, Lysa…Saya tahu kondisi kamu sekarang. Saya tahu kamu sedang berada di masa sulit…Tapi setelah semua ini berhasil kamu lewati, kamu akan mengerti kenapa tuhan memberikan peran ini.. .”

“Ah, sok bijak kamu!” jawab saya sambil melengos pergi..