Showing posts with label Ngaleut. Show all posts
Showing posts with label Ngaleut. Show all posts

Sunday, April 25, 2010

NI Hou Ma, Petjinan Bandung?

Minggu (4/4) lalu, Komunitas Aleut kembali mengadakan tur jalan kaki (ngaleut) untuk menyingkap sisi lain sejarah Kota Bandung. Tema ngaleut kali ini adalah “Menelusuri Kawasan Pecinan”. Tema yang menarik membuat orang penasaran. Maka tak heran jika peserta yang mengikuti kegiatan tersebut cukup banyak. Ada sekitar 30 orang yang menjadi peserta tur, dari mulai mahasiswa, karyawan, guru, wartawan, bahkan sampai murid SMP.

Pukul 07.30 para peserta berkumpul di depan Gedung Merdeka jdi alan Asia Afrika. Sambil menunggu peserta lain datang, mereka pun melakukan sesi perkenalan. Setelah semua peserta berkumpul, Bang Ridwan (selanjutnya disebut BR) memberikan arahan singkat mengenai rute plesiran. Ia juga menjelaskan sejarah kedatangan etnis Tionghoa di Paris van Java.

BR memaparkan bahwa ada dua versi sejarah yang menceritakan kedatangan etnis Tionghoa di Kota Bandung. Pertama, ketika Deandles membuat post weg di Bandung. Deandles mendatangkan etnis Tionghoa dari Cirebon dan memperkerjakan mereka sebagai tukang kayu di sini. Versi kedua menjelaskan bahwa warga Tionghoa yang berada di kota kembang dulunya adalah korban Perang Dipenogoro. Mereka yang merasa terancam keselamatannya sengaja pindah ke Bandung demi mendapatkan hidup yang lebih aman dan nyaman. Saya sendiri tidak tahu versi sejarah mana yang mendekati kebenaran. Namun yang pasti, warga etnis Tionghoa sudah hidup berdampingan dengan warga Bandung asli sejak sekian lama.

BR kemudian menjelaskan bahwa Pecinan yang ada di Kota Bandung memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pecinan di kota lain. Pecinan Bandung merupakan satu-satunya perkampungan China di Indonesia yang tidak dibatasi oleh tembok. Biasanya, perkampungan China di Indonesia selalu dibatasi oleh tembok besar sehingga ada batasan yang jelas antara pemukiman pribumi dan pemukiman etnis Tionghoa. Ini merupakan kebijakan yang dibuat pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1826. Kebijakan itu menyatakan bahwa setiap etnik yang ada di satu kota harus disatukan dalam sebuah wilayah. Selain tidak ditembok, warga Tionghoa di Bandung pada zaman itu juga tidak harus memiliki surat izin ketika keluar dari perkampungan.

Setelah diberi uraian singkat mengenai asal mula kedatangan etnis TionghoA di Kota Bandung, para pegiat Aleut kemudian menelusuri jalan Asia Afrika. Mereka sempat berhenti di sebuah tempat di dekat kantor Pos (saya lupa nama jalannya). Di tempat itu terdapat sebuah lapangan dan beberapa garasi tua. BR megatakan bahwa pada saat pembuatan post weg, garasi ini dijadikan pos pergantian transportasi-yang ketika itu menggunakan kuda. Pos garasi ini bukan satu-satunya tempat pergantian transportasi. Pos garasi tersebut menyebar sepanjang rute pos weg. Jarak antara satu pos dengan pos lainnya sekitar 15 KM. Di sekitar pos juga selalu dibangun instal air dan penginapan (pasanggrahan) untuk peristirahatan pemerintah Hindia Belanda.

Setelah mengamati pos garasi tua, para pegiat pun melanjutkan perjalanan ke arah jalan Alkateri. BR kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah toko tua bernama Dezon NV. Dezon (dalam bahasa Belanda berarti Matahari) merupakan toko milik seorang berkebangsaan Jepang. Bila dilihat dari arsitekturnya yang bergaya art deco geometri, toko ini di bangun sekitar tahun 1925. Toko ini sudah berdiri sebelum Jepang menduduki nusantara. Konon kabarnya, toko Dezon NV berisi mata-mata dari Jepang. Entah benar atau tidak.

Para pegiat kemudian memasuki jalan Alkateri. Jalan ini diambil dari nama tuan tanah berkebangsaan Arab yang hidup di awal abad 20-an. Saya sendiri agak heran mengapa di kawasan pecinan terdapat sebuah jalan yang namanya so Arabic. Seingat saya, BR menjelaskan tentang hal ini. Tapi saya tidak sedang memerhatikan jadi ada beberapa bagian sejarah yang terlewat.

Di jalan Alkateri terdapat sebuah gang kecil bernama Gang Al Jabri. Dulu, gang ini merupakan pusat penjualan Opium di Kota Bandung. Sekarang Gang Al Jabri menjadi kios barang antik. Sayang hari itu tidak ada satu kios pun yang buka.

Pegiat terus menelusuri Jalan Alkateri. Mereka langsung terpana ketika melihat sebuah kedai kopi kecil bernama “Purnama”. Sebagian besar dari mereka sepertinya baru tahu bahwa di Alkateri terdapat sebuah warung kopi yang sudah berdiri sejak tahun 1929 itu. Warga Tionghoa tempo dulu selalu menyempatkan diri datang ke kedai kopi di waktu-waktu tertentu agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan mereka. Inilah yang coba dihadirkan di warung kopi Purnama. Maka tak heran jika di waktu-waktu tertentu, warung ini ramai oleh pengunjung. Sayang para pegiat tidak sempat memasuki warung ini karena hari semakin siang.

Ketika menelusuri Jalan Alkateri, kita akan melihat sebuah gang kecil di samping kiri dan kanan blok (1 blok terdiri dari lima rumah). Gang kecil ini disebut branhang (dari bahasa Belanda yang berarti gang kabakaran). Ketika itu, kebanyakan rumah warga Tionghoa terbuat dari kayu yang rentan terbakar. Oleh karena itu, mereka membuat sebuah gang kecil yang berfungsi sebagai tempat menyelamatkan diri jika terjadi kebakaran. Sayang saat ini branhang tidak lagi berfungsi. Bahkan orang-orang yang tak bertanggung jawab sengaja melebarkan rumahnya sampai batas branghang tersebut.

Selain warung kopi Purnama, ternyata masih banyak objek kuliner yang terdapat di jalan Alkateri, yakni; lotek pincuk Alkateri, Rondo Jahe, serta Cendol Gentong. Sayang para pegiat tidak bisa menikmati panganan itu karena mereka tutup di hari Minggu.

Mereka terus melakukan perjalanan dan akhirnya melewati Pabrik Kopi paling terkenal di Kota Bandung;Kopi Aroma. Lagi-lagi para pegiat hanya bisa gigit jari karena pabrik dan kedai kopinya tutup. Padahal di hari biasa, pemilik Pabrik selalu memberikan kesempatan bagi pengunjung yang ingin melihat proses pembuatan kopi legendaris tersebut.

Pegiat melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan, mereka bisa melihat Pasar Baru yang menjulang tinggi. Mereka melewati bangunan tersebut, menyebrang di jembatan penyebrangan, lalu kemudian berjalan lagi. BR menghentikan perjalanan dan memperlihatkan foto-foto zaman dulu. Ia kemudian memperlihatkan foto Pasar Baru zaman dulu. Saya takjub sekali melihat bangunan Pasar Baroe tempo dulu. Menurut saya, bangunan Pasar Baroe tempo dulu lebih bagus dan elegan dibandingkan bangunan yang sekarang.

Ada fakta menarik soal Pasar Baru yang sayang untuk dilewatkan. Pasar Baroe didirikan sekitar tahun 1916. Pasar ini merupakan pindahan dari pasar Ciguriang yang terbakar. Pasar Baroe juga pernah menjadi pasar paling teratur dan terbersih di Hindia Belanda. Wah, kalau dibandingkan dengan pasar baru yang sekarang , rasanya jauh berbeda ya?

Setelah diberi penjelasan seputar Pasar Baru, mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka melewati kios obat-obatan China “Babah Kuya” dan sempat menikmati Es Goyobod Kuno 49. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun malanjutkan perjalanan. Panas yang menyengat membuat para pegiat kelelahan. Mereka akhirnya beristirahat lagi sambil menikmati Cakue Osin (berdiri sejak tahun 1920).

Di dekat Cakue Osin terdapat sebuah bioskop tua. Sebenarnya bioskop ini menghadap ke Kebon Jati sehingga para pegiat hanya bisa melihat bagian belakang bangunan tersebut. Bioskop ini dulu bernama Preanger, lalu berubah nama menjadi Luxor, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Roxy. Pada tahun 1926, bioskop tersebut menayangkan film berbicara untuk pertama kalinya. Saat ini, bioskop tersebut telah beralihfungsi menjadi sebuah kantor asuransi.

Hari semakin siang dan udara Kota Bandung semakin panas. Para pegiat Aleut kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian menyusuri jalan Kebon Jati. Di sana, mereka melihat Hotel Surabaya (berdiri sejak tahun 1886) yang tengah dibangun bagian belakangnya. Mereka kemudian berjalan ke arah Gardujati dan memasuki kawasan lokalisasi terkenal di Bnadung;Saritem.

Setelah berjalan menelusuri Saritem, mereka pun sampai di jalan Kelenteng. Mereka takjub ketika melihat sebuah kelenteng dengan ornamen dan warna khas etnis Tionghoa berdiri tegak dan kokoh. Kelenteng ini bernama Kelenteng Satya Budhi. Kelenteng ini sudah berdiri sejak tahun 1865. Semula kelenteng ini bernama Kelenteng Istana Para Dewa (Hiop). Pada tahun 1885, kelenteng ini berganti nama menjadi Than Ki Ong.

Di sebelah Kelenteng Satya Budi, terdapat sebuah Vihara bernama Budha Gaya. Dulu, sebelum Konghucu diakui, warga Tionghoa menggunakan vihara sebagai “kamuflase” peribadatan mereka. Biasanya warga Konghucu beribadat di dalam vihara supaya aman dan tidak diketahui oleh pemerintah. Setelah Konghucu diperbolehkan, maka vihara itu pun membuat bangunan baru.

Sebagian dari pegiat Aleut memasuki kelenteng Satya Budhi. Kebanyakan dari mereka baru pertama kali masuk ke kelenteng. Di sana mereka memerhatikan etnis Tionghoa yang sedang beribadah, sekaligus mengabadikan momen tersebut dalam sebuah gambar.

Kelenteng Satya Budhi merupakan tempat terakhir dari plesir edisi pecinan. Meskipun lelah terlihat dari wajah mereka, tapi hal itu terbayar oleh pengetahuan serta engalaman mengesankan yang mereka dapatkan melalui ngaleut ini. Sampai jumpa lagi di plesir berikutnya! xie-xie…

Friday, February 5, 2010

Puntang-Panting di Puntang

Setelah berabad-abad lamanya tidak ngaleut, akhirnya saya diberi kesempatan lagi untuk bisa berkumpul dengan para pegiat Aleut. Maka Minggu (13/12) lalu, saya sengaja bangun pagi-pagi (padahal malamnya baru tidur jam empat subuh), mandi, dangdos, dan langsung berangkat ke Tegalega dengan menggunakan Elf.
Sampai di Tegalega, saya bertemu dengan para Pegiat Aleut yang saya cintai dan banggakan. Ada BR, Teh Cici, Teh Ana, A Yanto, Adi, Budhi, Bey, Eby, Icha, Dila, Ayan, Dimas, Cepy, Teh Yanstri, dan Elgy. Setelah semua pegiat datang, kami pun langsung menuju Wahana Gunung Puntang dengan menyewa angkot.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, akhirnya kami sampai diWahana Gunung Puntang. Gunung ini berada di daerah Bandung Selatan. Actually, I don’t know where it’s located. Pokoknya daerah Banjaran deh….
Gunung yang menjulang tinggi berselimutkan ribuan pepohonan hijau dan udara yang bersih langsung membuat saya takjub. Beruntunglah. Di zaman semua developer berlomba-lomba untuk mengubah kawasan hijau menjadi deretan villa mewah, masih ada orang yang peduli dengan eksistensi kawasan hijau seperti Wahana Gunung Puntang. Ya setidaknya sampai saat ini.
Setelah membayar karcis sebesar Rp.5000, kami pun mulai memasuki kawasan tersebut. Tak berapa lama kemudian, seorang pemandu datang dan mulai berbincang-bincang dengan BR. Saya tidak tahu persis apa yang mereka bicarakan. Tapi sepertinya BR meminta petunjuk dari si pemandu tentang jalur dan tempat mana yang akan kami kunjungi hari itu. Akhirnya, Gua Jepang dan Curug Gentong menjadi tujuan perjalanan kami.
Sebelum mendaki gunung, kami beristirahat sejenak di sebuah warung. Sebagian pegiat sibuk memesan makanan, sedangkan saya memilih berfoto ria di reruntuhan radio dorf yang letaknya tak jauh dari warung tersebut. Radio dorf adalah sebuah desa/perkampungan yang menjadi tempat tinggal para pekerja Radio Malabar. Radio Malabar adalah radio yang dibuat oleh kolonial Belanda. Radio ini digunakan untuk berkomunikasi langsung dengan pemerintahan Belanda. Penasaran dengan sejarah Radio Malabar, saya langsung googling. Seperti dikutip dari www.pikiran-rakyat.com, Radio Malabar dibuat oleh seorang berkebangsaan Belanda bernama Dr. de Groot. Ketika itu, Stasiun Pemancar Malabar sangat fenomenal karena antena yang digunakan untuk memancarkan sinyal radio memiliki panjang lebih dari 2 km. Antenna tersebut membentang di antara Gunung Malabar dan Halimun dengan ketinggian mencapai 500 meter dari dasar lembah. Hebatnya lagi, penerima sinyal ini sampai ke Padalarang (yang jaraknya 15 m ) dan bahkan ke Rancaekek (18 m). Selain mendapatkan informasi soal kehebatan Rado Malabar, saya juga mendapatkan foto bangunan pemancar radio Malabar. Ini dia fotonya (KEREN BANGET BANGUNANNYA…!!!)



[navigasi.net] Tempat Bersejarah - Gunung Puntang Foto tahun 1925 ,
bangunan pemancar radio Malabar, sayang sudah dibumi hangus,
karena dicurigai dipakai sarang mata-mata pada saat perang kemerdekaan.

Tak hanya bangunan pemancar radio Malabar yang dibumihanguskan, radio dorf juga bernasib sama. Katanya sih, radio dorf dibumihanguskan oleh pribumi pada saat peristiwa Bandung Lautan Api. Saya sendiri belum sempat memferivikasi informasi tersebut. Jadi kalau ada teman-teman yang tahu tentang hal ini, tolong diinformasikan ya kebenarannya….
Karena perut sudah minta diisi, saya pun bergegas ke warung dan memesan semangkuk bakso. Sambil makan bakso, saya dan para pegiat Aleut pun bercengkrama. Setelah melahap habis semua makanan, kami pun memulai perjalanan. Tujuan pertama kami adalah gua peninggalan Belanda. Di depan gua, seorang pemandu sudah menunggu sambi membawa sebuah petromak. Kemudian kami pun memasuki gua tersebut. Gua ini sama seperti gua pada umumnya. Gelap, pengap, becek, dan banyak kelelawarnya. Di dalam gua terdapat sebuah lapisan yang terbuat dari beton. Si pemandu berkata bahwa dulu gua tersebut menjadi tempat penyimpanan alat-alat pemancar. Makanya dibuat lapisan beton agar tidak terkena tetesan air.
Setelah puas melihat gua, kami pun mulai mendaki. Ditemani tiga orang pemandu, selama perjalanan menuju Curug Gentong, kami menemukan berbagai hal unik. Kami melewati sebuah kolam yang diberi nama “Kolam Cinta” karena bentuknya yang seperti hati. Kami juga harus menaiki anak tangga tua, beberapa kali menyusuri sungai, menyebrangi jembatana gantung, dan melewati padang rumput yang sangat cantik. Dasar narsis, setiap menemukan tempat yang unik, kami pasti langsung ambil pose untuk berfoto.
Banyak tanjakan atau turunan terjal yang sulit untuk dilewati ketika melakukan perjalanan ini. Kami juga diingatkan pemandu untuk berhati-hati terhadap beberapa jenis pohon dan tanaman. Salah satunya adalah tanaman Tereuptep. Tanaman ini berbentuk seperti hati dan terdapat banyak duri di daunnya. Jika kita terkena durinya, maka tubuh kita akan gatal dan terasa perih. Beberapa orang dari kami sempat terkena duri tanaman tersebut. Untunglah saya memakai jaket sehingga terhindar dari “sengatan” Tereupteup.
Setelah melakukan pendakian selama kurang lebih tiga jam, akhirnya kami sampai di Curug Gentong. Ternyata air terjunnya tidak seperti yang saya bayangkan. Air terjunnya tidak luas. Jadi kami tidak leluasa untuk bergerak. Untuk mencapai Curug Gentong saja, kami mesti melewati jembatan yang terbuat dari batang pohon yang ditelentangkan. Ngeriiii… Teh Cici saja sampai menangis ketika melewati jembatan itu.
Ketika memasukkan kaki ke dalam air, saya langsung merinding. Airnya dingin banget! Mirip dengan air yang didinginkan dalam kulkas. Boro-boro mau berenang di curug itu, alih-alih saya malah kedinginan. Setelah beristirahat sejenak, kami pun bergegas pulang karena hari sudah menjelang sore. Langit juga sudah terlihat mendung. Melewati turunan dan tanjakan terjal lagi, melewati tanaman Tereupteup yang menakutkan itu lagi, serta menyusuri sungai yang airnya dingin seperti es lagi. Jujur, saya benar puntang-panting ketika mengikuti perjalanan ini. Pertama, karena kondisi fisik saya memang sedang kurang fit (kurang tidur dan kurang makan). Kedua, karena saya sudah lama tidak naik gunung. Dan ketiga, jalurnya terjal (bahkan pemandunya bilang kalau kami lah orang pertama yang melewati jalur tersebut) sehingga beberapa kali saya terperosok. Keempat, karena saya tidak membawa cukup bekal uang dan makanan sehingga saya merasa puntang-panting sekali. Namun setidaknya, meskipun puntang- panting, saya tetap merasa bangga karena bisa menaklukan Puntang hari itu.