Thursday, February 18, 2010

Celoteh Busuk: Menyerah Bukan Nama Tengah

seperti ada yang menghalangi tiap kali bergerak. sesuatu yang tak tampak,tapi merusak. tidak.tak bakal saya hentikan pergumulan ini hanya karena itu. sesak pasti selalu ada. tapi tak kan mengurangi niatku untuk meraup oksigen sebanyak mungkin. sungguh aku punya hak atas ini.aku tak akan menyerah.

Celoteh Busuk: :(

sebut saya cengeng.tapi terkadang air mata bisa sangat menenangkan pasang surut hidup.rasa aman yang berkurang tiap harinya.pandangan yang semakin buram. oh saya tak ingin terus berpaku tangan.menantikan diri saya lebur di dalam pusaran waktu. saya hanya ingin kesempatan. ataukah kesempatan juga berbayar kali ini?sungguh saya tak pernah mengharapkan fase yang satu ini. saya selalu beranggapan jika banyak hal yang bisa kita dapatkan tanpa merasa tertekan keadaan. atau ini hanya bentuk penghiburan diri saja?ah!

Wednesday, February 17, 2010

Celoteh Busuk: Teman Bicara

Saatnya berterus terang. Dibalik sikap yang terkesan MANDIRI, saya juga bisa merapuh. Meronta. Mendadak oleng. Terserang rasa yang tidak lazim. Benar,air mata terkadang bisa menenangkan. Tapi apakah itu akan membuat saya tertawa keesokan harinya?

Saya tidak ingin siapa-siapa. Saya bahkan terkadang tidak tahu kenapa saya begitu resah. Kita datang seorang diri, di liang lahat pun begitu.Tapi toh saya makhluk sosial yang kadang tak bisa menjamah semuanya sendiri.

Saya tipe manusia yang tidak bisa bercerita pada sembarang orang. Itu adalah masalah saya. Tapi saya butuh itu, butuh teman bicara. Yang semoga bisa mengerti. yang semoga bisa saling berbagi.

Celoteh Busuk: Teman Bicara

Saatnya berterus terang. Dibalik sikap yang terkesan MANDIRI, saya juga bisa merapuh. Meronta. Mendadak oleng. Terserang rasa yang tidak lazim. Benar,air mata terkadang bisa menenangkan. Tapi apakah itu akan membuat saya tertawa keesokan harinya?

Saya tidak ingin siapa-siapa. Saya bahkan terkadang tidak tahu kenapa saya begitu resah. Kita datang seorang diri, di liang lahat pun begitu.Tapi toh saya makhluk sosial yang kadang tak bisa menjamah semuanya sendiri.

Saya tipe manusia yang tidak bisa bercerita pada sembarang orang. Itu adalah masalah saya. Tapi saya butuh itu, butuh teman bicara. Yang semoga bisa mengerti. yang semoga bisa saling berbagi.

Tuesday, February 9, 2010

Cakra dan Lysa: I Remember (Edisi 2)

Pacar saya selalu bilang, jadi anak kuliahan jangan cuma kupu-kupu alias kuliah-pulang, kuliah-pulang. Dia selalu bilang kalau teori-teori, tugas-tugas, dan nilai-nilai hanya akan membantu kita sebesar dua puluh persen di kehidupan nyata. Selebihnya, nilai IPK tidak akan membantu banyak. Aktif berorganisasi, selalu memperbanyak teman, menambah wawasan di luar mata kuliah, dan terjun ke masyarakat akan membuat mata kita terbuka. Kita akan sadar kalau hidup tak akan terselesaikan hanya dengan nilai akademis sempurna di tangan.

“Percuma nilai IPK kamu 4 tapi tidak tahu cara bekerja sama, tidak punya link, dan tidak tahu seperti apa kondisi masyarakat yang sebenarnya…begitu keluar dari kampus, kamu akan kaget karena ternyata banyak hal berbeda yang tidak kamu pelajari ketika kuliah…” katanya.

“Tapi bukan berarti kamu menyepelekan nilai, Lysa…Seperti yang aku bilang, nilai memang hanya akan membantu kita sebesar 20 persen. Sisanya, kita harus cari di luar kampus.Hmm, katakanlah kamu mau mencari harta karun di hutan. Kamu nggak mau kan masuk hutan tanpa perbekalan sama sekali? Anggaplah 20 persen itu bekal sebelum kamu berusaha mencari sisanya…” lanjutnya.

Kadang saya heran. Tercipta dari apakah pacar saya itu? Di tengah kesibukannya sebagai presiden BEM di Fakultas Ekonomi, anggota aktif UKM sepak bola di kampusnya, belum lagi aktivitasnya di sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan, oh dan jangan lupa bisnis game online dan warung makan yang ia jalani bersama teman-temannya di Depok sana, Rahyang masih bisa mendapat IPK di atas 3,5! Tahun depan dia akan berangkat ke Jepang selama satu tahun untuk student exchange.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Seringnya sih gigit jari dengan semua aktivitas yang dilakukan Rahyang.

“Mumpung masih muda. Ambil kesempatan sebanyak mungkin… ” begitu katanya.

Anyway, apa yang dikatakan Rahyang memang benar. Jangan cuma jadi kupu-kupu. Apalagi kunang-kunang (kuliah-nangkring, kuliah-nangkring). Saya pun mengikuti nasihatnya. Maka, saya pun mulai aktif berorganisasi. Mengikuti kepanitiaan ini-itu. Saya juga terdaftar sebagai anggota aktif forum mahasiswa hukum se-Indonesia. Saya juga mati-matian mempertahankan IPK di atas 3,5. Saya tidak mau kalah dari Rahyang. Saya bangga punya pacar sehebat Rahyang. Dia pun harus bangga punya pacar seperti saya.

Desember, satu tahun yang lalu.

Saya selalu suka bulan Desember. Bukan, bukan karena bulan ini saya berulang tahun (for your information, I was born on May). Banyak hari penting di bulan ini. Dari mulai peringatan hari AIDS, hari anti korupsi, hari ibu, sampai peringatan Hak Asasi Manusia. Biasanya, fakultas saya mengadakan event yang berhubungan dengan hari-hari penting itu. Ya, inilah kesempatan saya untuk ikut andil dalam kegiatan tersebut. Dan kali ini saya menjadi panitia peringatan hari HAM. Saya suka sekali menjadi bagian dari kepanitiaan ini. Selain tujuan acaranya bagus, konten acaranya juga tidak membosankan. Bukan hanya berisi seminar, talkshow, dan diskusi yang bikin kepala mumet karena pelanggaran HAM yang makin sering terjadi di negara ini, melainkan juga berisi hal-hal yang digemari anak muda pada umumnya; ada pertunjukkan musik dari band indie yang sedang populer, musikalisasi puisi, tari-tarian, pertunjukkan teater, lomba fotografi, lomba menulis essay, serta lomba mendesain kaos.

Setelah persiapan selama kurang lebih dua bulan, event peringatan HAM pun digelar pada 10 Desember. Saya masuk divisi marketing yang memang sibuk sebelum hari H. Jadi hari ini, saya lebih banyak menikmati acara ketimbang bekerja. Sambil menunggu acara selanjutnya, saya pun berjalan keluar aula. Saya berjalan ke loby, bermaksud melihat-lihat karya para finalis lomba fotografi yang dipajang di sana.

Ada sepuluh foto yang dipajang di sana. Semuanya mengusung tema yang sama:Hak Asasi Manusia. Lalu sampailah saya pada sebuah foto yang dipajang di paling kiri ruangan. Saya mengamati foto itu dengan seksama.Dari semua foto yang terpajang, saya paling suka foto ini. Sepertinya foto ini paling “bernyawa”. Dalam foto itu terdapat seorang ibu, sepertinya berumur tiga puluhan, beserta dengan dua orang anak lelaki. Si ibu menggendong seorang balita yang tengah menangis. Anak satunya lagi,yang sepertinya berumur tak lebih dari sepuluh tahun, berjalan di sebelah ibunya sambil menguap. Mungkin si anak baru bangun tidur. Dahi si ibu terluka dan mengeluarkan darah. Sepertinya si ibu baru tersungkur atau kejeduk. Entahlah. Pipi kirinya lebam, seperti baru dipukuli.Melihat foto itu, pikiran saya langsung berkelebat tak tentu arah. Mata saya tiba-tiba berkaca-kaca. Dengan mata nanar, saya melihat sebuah kertas kecil yang tertempel di bawah foto tersebut.

Judul: Escape

Karya: Cakrawala Madya Putra

“Wah, ada panitia yang lagi merhatiin foto saya. Lagi dinilai ya Mbak?” tanya sebuah suara di belakang saya.Saya kaget dan buru-buru menghapus air mata yang hampir jatuh ke pipi.

“Sayang jurinya bukan dari panitia Mas, tapi di datangkan langsung dari sekolah fotografi Darwis Triadi…” jelas saya sambil menoleh ke belakang. Saya terpaku ketika melihat sosok orang tersebut. Sepertinya orang ini tak asing. Sepertinya saya pernah melihat orang ini. Tapi dimana ya? Orang di depan saya pun sepertinya sedang mengingat-ingat. Dia mengernyitkan dahi dan menatap wajah saya lekat-lekat.

“Kayaknya saya pernah ketemu Mbak deh…Tapi dimana ya?”

“…”

“…”

Aha!

“Di travel! Novel Little Prince! Ingat?” seru saya sambil setengah berteriak.

“Oh,Iya! Benar! Mbak yang ketemu di travel! Wah, wah, wah…nggak nyangka ya bisa ketemu di sini! Mbak kuliah di Hukum ternyata?”

“Iya! Kebetulan sekali ya Mas…Iya, saya kuliah di sini. Mas sendiri di jurusan apa?”

“Oh, saya sih bukan kuliah di sini…saya kuliah di FSRD, ngambil DKV. Kebetulan saya tau ada lomba fotografi di sini, ya iseng aja ikutan. Kali menang kan lumayan hadiahnya…”

“OH, kamu suka fotografi ya?”

“Ya lumayan, mengisi kekosongan aja sih…”

“Ini…ini karya kamu?”

“Iya. Kenapa? Aneh ya?”

“Nggak, bagus kok. Bernyawa. Saya nggak terlalu ngerti fotografi sih…Tapi kalau saya jadi jurinya, saya pasti milih foto kamu sebagai juaranya.”

“Ah, kamu berlebihan…foto lain lebih bagus-bagus! Oh ya, saya Cakra.” ujar lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.

“Saya Lysabrina. Panggil aja Lysa,” jawab saya sambil membalas uluran tangannya.

“…”

“…”

“Eh,kok bisa dapet foto kaya gitu? Ini bukan rekayasa kan? Jangan-jangan kamu bayar orang untuk difoto kayak gitu.”

“Hahahaha, enak aja! Haram hukumnya merekayasa foto. Semua terjadi secara kebetulan. Hmm, tapi saya rasa itu bukan kebetulan juga sih. Saya percaya kalau everything happens for a reason. Saya berada di tempat itu, hari itu, pada jam itu, lalu melihat seorang ibu membawa anak-anaknya dengan keadaan terluka, kemudian memotretnya,apakah itu sebuah kebetulan? Saya rasa tidak…Bahkan, orang yang duduk di sebelah kita ketika naik angkot pun bukan kebetulan. Semua sudah ada yang mengatur… “

“Dan apa kabar dengan pertemuan tidak sengaja kita? Dua kali pula! Apakah itu kebetulan? Saya rasa juga tidak…”

“Hahahaha. Kamu betul. Kenapa dari semua foto yang terpajang,kamu memerhatikan foto saya?”

“Iya, betul! Dan kejadian di travel itu…hahahahaha. Aneh juga ya? Nggak masuk akal!”

“Iya…”

“Eh, eh, kayaknya si MC lagi mengumumkan pemenang lomba deh…”

“Oh ya? Ya udah kita masuk ke dalem aja yuk…”

Kami pun memasuki aula. Memang benar, sang MC sedang membacakan para pemenang lomba.

“Masih ngumumin pemenang desain nih…” seru Cakra.

“Iya. Eh, foto itu, hmmm, ibu itu…dia kenapa luka-luka gitu?”

“Dipukulin suaminya.Dan hari itu dia memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Mengakhiri penderitaannya. Makanya saya memberi judul ‘escape’ pada foto tersebut…”

“KDRT…Hhh…ya, tiap perempuan punya hak untuk dihargai. Hak kesetaraan gender…”

“Termasuk HAM juga kan?”

“Ya iya dong…eh, itu, si MC lagi ngumumin pemenang foto…”

“Wah…deg-degan nih saya…”

“Hahahaha…”

Dan juara satu untuk lomba fotografi adalah…Foto dengan judul…wah, pasti kalian udah nggak sabar ya…??? Pemenangnya adalah…Ohya, sebelumnya, pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar lima juta rupiah…wah, lumayan banget kan…pemenangnya adalah…foto dengan judul...ESCAPE karya Cakrawala Madya Putra…Tepuk tangan untuk pemenang…dan untuk Cakrawala silakan naik ke atas panggung…

“Wah! Apa kata saya! Kamu menang…Selamat ya…”

“Wow, saya menang!!! Saya naik ke atas panggung dulu ya…Kamu jangan kemana-mana!”

Lelaki bernama Cakra itu pun naik ke atas panggung.

“Lysa,lo kemana aja? Gue cariin dari tadi… Eh anter gue dulu ke rumah makan…” tiba-tiba Tasya, koor Marketing saya, muncul dari arah belakang.

“Hah, ngapain?”

“Iya nih ada sedikit masalah sama rumah makan itu. Waktu kemarin kan di MOU-nya mereka deal buat ngasih makan panitia dan pengisi acara sebanyak 100 dus. Eh nggak taunya cuma dikasih 85 dus! Makanya sekarang mau protes ke rumah makan itu…Ayo cepet, gue udah kesel banget nih…”

“Hmm…ya udah deh yuk…” jawab saya setengah hati. Ah, kenapa sih harus ada masalah di tengah acara begini!Saya pun membuntuti Tasya ke arah parkiran.

Dari kejauhan saya melihat Cakra menerima hadiah dan berfoto bersama.

Tak lama berselang, Cakra turun dari panggung. Ia kemudian berjalan ke tempat ia dan Lysa berdiri tadi. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan perempuan bernama Lysa itu. Namun ketika sampai ke tempat semula, orang yang dicari sudah tidak ada. “Oh, mungkin Lysa sedang ke toilet,” pikir Cakra. Semenit, dua menit, lima menit ia menunggu, tapi Lysa tidak juga kembali ke tempat itu. Ia pun mencari ke seluruh aula.Tapi perempuan itu benar-benar hilang. Entah pergi kemana.

Monday, February 8, 2010

Aku Rindu Suara Vespamu

Barusan aku mendengar suara knalpot vespa di depan rumah. Aku kaget. Sambil takut-takut, aku mengintip dari jendela. Jauh di dalam hatiku, aku berharap suara bising itu datang dari knalpot vespamu. Ternyata bukan. Hanya sebuah vespa lewat. Kemudian aku menutup tirai dengan hati kecewa. Ah, apa sih yang aku pikirkan? Kok bisa-bisanya aku berpikiran bahwa itu suara knalpot vespamu? Kok bisa-bisanya aku berpikiran bahwa kamu akan datang ke rumahku lagi untuk, misalnya, meminta maaf? Atau setidaknya bersilaturahmi denagan ayah ibuku? Kamu memang terlalu banyak berimajinasi, Risa! Pekikku dalam hati.
….
….
….
Sudah berapa bulan tepatnya aku tak lagi mendengar suara knalpot vespamu itu? Sepuluh bulan? Setahun? Ah, sungguh aku tak mau mengingat-ingat lagi. Tapi memori itu masih sering berputar di otakku. Aku ingat betul kapan terakhir kali ku mendengar suara knalpot vespamu. Kamu datang ke rumahku dengan vespa hitam kesayanganmu. Tak ada senyuman dan tatapan mesra seperti biasanya. Pertengkaran hebat sehari sebelumnya membuat semua hilang tanpa bekas.
Malam itu…
Malam terakhir aku melihat vespa hitam yang penuh stiker di bagian depannya itu terparkir di depan rumahku.
Malam terakhir sebelum semuanya berubah.
Hhh…

Kadang aku rindu. Bukan saja padamu. Tapi juga pada Ojes. Pada suara knalpot bisingnya yang kadang mengganggu. Pada mesin tuanya yang gampang ngadat hingga kamu harus sering bulak-balik bengkel. Aha, aku juga ingat penyakit langganan Ojes: MOGOK! Pernah suatu hari, ketika kita hendak kencan, penyakit Ojes kambuh. Alhasil, kita kencan di bengkel sambil menunggu si montir mereparasi Ojes. Dan sudah berapa kali kamu meminjam kunci inggris dan segala alat lainnya ke ayahku ketika Ojes tak bisa di starter? Tapi kamu keukeuh. Tak mau memensiunkan Ojes.

“Ojes sudah jadi bagian dari hidupku, Sa! Demi tuhan mana mungkin aku tega menjualnya…,” begitu katamu. Ya. Aku tahu Ojes sangat berarti bagimu. Aku tahu Ojes dibeli dari uang hasil keringatmu sendiri. Aku tahu kalau kamu sangat menyanyangi Ojes.Bahkan mungkin kamu lebih menyanyangi Ojes ketimbang aku. Selama tiga tahun bersamamu, kadang aku cemburu pada Ojes. Karena kamu begitu perhatian padanya. Tapi selebihnya, aku sangat berterima kasih pada Ojes. Bagaimanapun dia juga telah menjadi bagian dari kisah kita.

Ojes, kamu apa kabar? Bagaimana kondisimu sekarang? Apa masih sering mogok? Apa sekarang kamu masih mengantar Dani kemana-mana sendirian? Atau sudah adakah yang menggantikanku duduk di jok belakangmu? Oh, Sunguh aku rindu suara knalpotmu, Jes.

Friday, February 5, 2010

Para Pendekar yang (Tak Lagi )Pesimis

Saya selalu beranggapan jika persahabatan yang terjalin di sekolah menengah hanyalah short-term friendship. Ketika memasuki dunia kampus,apalagi jika tak sejurusan atau tak sekampus,persahabatan itu akan memudar. Rasa seiya sekata itu akan menguap. Wajar saya pikir. Ketika di sekolah menengah,kita pergi kemana-mana bersama. Bahkan ke toilet pun bersama-sama. Begitu kuliah,jangankan kemana-mana bareng,ketemu saja jarang. Maka intensitas memang menjadi dalih yang paling kuat atas melemahnya persahabatan tersebut.

Benarkah ini hanya soal intensitas kebersamaan yang semakin berkurang? Ataukah ada kenyataan lain? Yang paling nyata adalah adanya sahabat-sahabat baru di tempat baru sehingga kita sedikit melupakan sang kawan lama. Saya rasa banyak dari kita yang mengangguk setuju. Tak masalah saya pikir. Toh faktanya merekalah-sahabat baru itulah- yang paling sering bersama kita. Paling tahu aktivitas dan kehidupan baru kita.

Berbicara mengenai sahabat sewaktu sekolah menengah, saya jadi ingin berbagi soal ini.


Soal mereka.

Saya bertemu mereka ketika duduk di bangku SMA. Sebuah hubungan yang awalnya terjalin karena merasa senasib. Termarjinalkan. Ya,seperti yang kita tahu,remaja ketika itu hanya mau berdekatan dengan mereka yang cantik atau ganteng,kaya,dan populer. Kelak remaja-remaja itu sadar bahwa ‘persahabatan’ macam itu hanya ilusi,palsu,dan sesaat. Hey, bukan berarti kami secupu dan seterbelakang itu. Kami potensial. Hanya ketika itu-kalau kata pepatah-kami bagai mutiara yang masih tertutup dalam lumpur. Saat itu,karena begitu labilnya,kami menamai diri PENDEKAR KAUM PESIMIS. Nama itu diambil dari pernyataan seorang filsuf yang beraliran pesimistis. Namanya Walt Whiltman.

Awalnya,saya pikir persahabatan ini akan sama saja seperti persahabatan masa remaja lainnya. Kemana-mana bareng. Bahkan kalau bisa gaya dan cara berpakaian harus sama. SERAGAM.SERUPA. Oh dan jangan lupa dengan istilah ‘musuh satu orang berarti musuh semua’. Blablabla… Saya percaya dengan pernyataan yang mengatakan bahwa kedekatan seseorang dengan yang lainnya bermula dari kesamaan yang mereka miliki. Tapi bukan berarti kita harus serupa dengan sahabat kita kan?

Beruntunglah saya bertemu mereka. Kami yang luar biasa berbeda satu dengan yang lainnya. Dari mulai cara berpakaian sampai selera musik berbeda. Awalnya memang terasa janggal. Tapi kami berusaha untuk tidak membahas perbedaan itu. Di situlah kami berusaha mengerti. Berusaha memahami dan menghargai. Kelak saya sadar bahwa mungkin inilah bentuk kasih sayang kami. Dengan tidak menghilangkan perbedaan itu. Perbedaan yang mencirikan kami tetaplah seorang individu,meskipun hidup bersosialisasi. Tak jarang kami saling mentransfer perbedaan-perbedaan itu sebagai bukti penghargaan kami. Itung-itung menambah ilmu baru. Tak ada salahnya juga kan?

Lalu apa yang membuat kami cocok selain sama-sama hobi makan bakso dan nyanyi-nyanyi? Hmm,mungkin karena kami suka tertawa. Kami adalah tipe humoris yang suka mengeluarkan lelucon yang lucu. Setidaknya bagi kami. Lelucon dan guyonan -yang kadang tak dimengerti oleh orang lain saking anehnya- itulah yang mungkin mempersatukan kami. Oke. Kami memang berbeda. Tapi kalau sudah becanda,semuanya jadi nyambung. Sepertinya kami memang punya radar khusus untuk saling mengerti satu sama lain ketika sedang bercanda.

Kekuatan lainnya adalah kami tidak pernah mengekang. Kami tidak pernah melarang. Ya,kami memang bersahabat. Tapi bukan berarti kami hanya stuckdi sini. Bukan berarti kami tidak boleh berteman dengan yang lainnya. Bukan berarti kami berhak mencampuri setiap urusan personil kami.Silakan. Lakukan apapun yang kami mau. Kalaupun terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, itu adalah konsekuensi yang harus kami hadapi. Toh kami sudah bergerak dewasa. Tentu kami punya pertimbangan atas apa yang akan kami lakukan. (tapi belakangan ini saya sering berpikir. Kami adalah sahabat. Tak ada salahnya untuk memperingati jika ada yang salah. Mungkin mekanisme layangan bisa dicoba. Ulur setinggi mungkin. Biarkan melayang. Tarik ketika memang layangan itu akan jatuh…bagaimana dengan teori itu kawan-kawan?)

Apakah persahabatan kami seideal itu? TENTU TIDAK. Kami bukan makhluk setengah dewa. Kami juga kadang saling mengecewakan. Kadang berbeda persepsi. Seringnya kami terlalu cuek satu sama lain (karena pada dasarnya kami memang tipe cuek). Kami juga masih suka jalan-jalan,makan-makan, dan bergosip tentang lelaki.
Lalu apa yang menjadi begitu berbeda?

Seperti yang sudah dijelaskan,saya selalu beranggapan persahabatan semasa SMA hanya sesaat. Ternyata tidak. Bahwa sampai saat ini kami masih bisa keep in touch -walau berbeda universitas,bahkan sudah ada yang merit- adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi saya. Bahwa sampai sekarang mereka masih orang yang paling mengerti dan tak pernah menghakimi adalah kekuatan tersendiri bagi saya.

Lebih dari itu, persahabatan ternyata bukan soal seberapa lama kita saling mengenal. Seberapa sering intensitas pertemuan kita. Seberapa mirip kita dengan sahabat. Bagi saya,persahabatan bisa terjalin ketika kita tetap saling menghargai perbedaan. Tak saling menghakimi. dan kesediaan untuk saling berbagi di bawah atap ketulusan.





Mungkin kalian tidak pernah tahu. Tapi aku benar-benar merasa beruntung punya kalian. semoga terus seperti ini. Dan satu hal,kita bukan lagi pendekar pesimis. kita adalah pendekar POPULER NAN POTENSIAL. hahaha. para mutiara itu tak lagi tertutupi lumpur. untuk meong,peyot,chao,depong,momy fitri und our beloved niece nilam, dan anggota ‘baru’ juju brontok. selalu sukaria =p

PEDULI

peduli. satu kata yang menurut saya sangat mahal harganya. tapi masih saja ada orang-orang yang menyepelekannya. padahal kepedulian adalah sifat istimewa yang pernah tuhan berikan pada manusia.apa karena kepedulian itu tidak berbayar sehingga banyak yang tak mengaggungkannya? dianggapnya kepedulian hanya seonggok barang yang diobral di pinggir jalan. serendah itukah pemahaman mereka akan kepedulian? ada yang peduli. ada yang tidak. sial bagi mereka yang mencoba peduli pada mereka yang tak mau peduli. sayang. padahal kepedulian tak punya salah. tapi selalu dipermasalahkan.

CENAYANG

saya bukan cenayang yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di kemudian hari. dulu saya sempat kepingin jadi cenayang. bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan,bisa membaca pikiran orang, bahkan mungkin bisa bertelepati dan melakukan sejenis pelet atau guna-guna merupakan keahlian yang luar biasa. keren membayangkan kita bisa tahu lebih dulu ketimbang orang lain. ada kebanggaan tersendiri jika kita bisa mengetahui pikiran orang lain.sepertinya dunia ada di genggaman kita. selama itu pula saya selalu berpikir bahwa firasat saya kuat. saya seperti bisa membaca apa yang akan terjadi lewat intuisi yang saya miliki. kelak saya tahu bahwa semua itu hanya kebetulan semata. bukan karena gift atau six sense yang tuhan beri.

Menunggu

kapan kamu datang?

atau tidak akan pernah sama sekali?

sudah hampir habis dayaku.

menunggu sambil terus menyulam untaian harap.

aku lebih sering bicara pada cermin karena tak punya lawan bicara.

kapan kamu datang?

atau tidak akan pernah datang sama sekali?

sepucuk surat pun tak pernah kamu layangkan padaku.

atau memang kamu tidak akan pernah datang sama sekali?

kalau memang begitu,beri aku tanda.

biar aku berhenti menunggu.

Kamu dan Jaket Jeans Lusuhmu

Hey, tuan!

Sadarkah kamu bahwa jaket itu sudah tak layak pakai?

Warnanya sudah memudar. Beberapa kancingnya sudah lepas. Belum lagi tambalan perca di sana-sini. Oh, dan wanginya itu…..SUNGGUH APEK!

Tapi kamu keukeuh mempertahankan jaket jeans lusuhmu itu. Kata kamu jaket jeans itu interpretasi dari dirimu sendiri.

BAH!

Bagaimana kamu bisa berpikir jaket lusuh itu interpretasi dirimu sendiri?

Jelas-jelas jaket jeans itu adalah jaket terjelek yang pernah saya lihat. Dan saya jamin, tak ada satu pemulung pun yang mau mengambilnya.

Oh,

Apakah kamu tak mampu membeli jaket baru?

Ah, rasanya tak mungkin.

Okelah,

Saya akan memberimu jaket jeans baru.

Hitung-hitung tanda terima kasih saya pada kamu.

Dan bukankah saya belum memberi hadiah di ulang tahunmu kemarin?

Kemudian, saya pergi mencari jaket jeans baru untukmu.

Kamu sangat berterima kasih ketika saya memberikannya padamu.

Tapi apa yang terjadi?

KAMU TAK PERNAH MEMAKAINYA!

Sialnya,

KAMU TETAP MEMAKAI JAKET JEANS LUSUH DAN APEKMU ITU!

Ah, dasar makhluk EGOIS dan KERAS KEPALA!

Apa salahnya sih mendengarkan masukan dari orang lain?

Lalu kamu berkata:

Apa mengganti jaket begitu penting?

Ya, TENTU SAJA. Apalagi dengan kondisi jaketmu yang sudah tak karuan itu.

Kamu berkata:

Tapi saya sudah nyaman memakai jaket ini. Apakah saya harus menggadaikan kenyamanan saya demi sesuatu yang baru? Demi sesuatu yang bahkan belum tentu nyaman ketika saya memakainya?

Bagaimana kamu tahu jaket itu nyaman atau tidak kalau kamu tidak mencobanya?

Kamu mejawab:

Saya rasa saya tidak perlu mencobanya. Saya sudah merasa puas dengan jaket jeans saya. Selusuh dan sejelek apapun kondisinya.

Tapi belum tentu orang akan berpendapat sama. Lihat jaketmu, sudah lusuh, apek pula!Sungguh tak enak dipandang!

Kamu berseru:

Haruskah saya memedulikan pendapat orang lain? Saya punya hak atas diri saya. Atas apa yang akan saya pakai.

Tapi sayangnya kamu tidak hidup sendiri. Kamu tidak bisa seenaknya sendiri. Lagian apa salahnya sih mencoba sesuatu yang baru? Kalau toh kamu tak menyukainya, kamu bisa menggantinya dengan yang lama. Iya kan?

Kalau pada akhirnya saya tak menyukai dan memilih untuk memakai jaket jeans saya yang dulu, kenapa saya mesti repot-repot mencoba yang baru?

Ah, kamu ini! Memang susah dikasih tahu.

SAYA CEMBURU

saya cemburu.

pada mereka yang bisa bijaksana.

saya cemburu.

pada mereka yang bisa melihat segala sesuatu dengan objektif.

saya cemburu.

pada mereka yang tak seenaknya menghakimi orang.

saya cemburu.

pada mereka yang dengan lantang berkata TIDAK ketika hak mereka akan dicuri.

saya cemburu.

pada mereka yang peduli pada semua orang.

saya cemburu.

pada mereka yang tidak mau disamakan dengan orang lain.

saya cemburu.pada mereka yang tegar dan kuat menghadapi apapapun.

saya cemburu.

pada mereka yang tidak mau jadi orang lain.

saya cemburu.

pada orang yang berani berkata

SAYA BANGGA MENJADI DIRI SAYA SENDIRI.

SENJA

saya hanya ingin melihat senja.

lengkap dengan romansa yang terkandung di dalamnya.

goresan-goresan warna yang terlukis nyata di tiap jengkalnya.

hangat.romantis.sekaligus penuh misteri.

saya ingin melihat senja.sekali lagi saja.

biar saya tahu.

tuhan pernah menciptakan sesuatu yang sempurna.

Mas, Ayo Pulang!

mas, ayo pulang!

mas,tidak lelahkah kamu?

terus mencari sesuatu yang utopis.

mas,saya kasihan sama kamu.

sepertinya kamu labil.

sepertinya kamu terus mencari tanpa tahu apa sebenarnya yang kamu cari.

mas,sudahlah!

jangan terlalu memaksakan diri.

sebaiknya kamu pulang.

siapa tahu yang kamu cari sebenarnya ada di sana.

tetapkanlah dulu tujuanmu mas sebelum pergi.

biar kamu tak kelimpungan seperti ini.

Saya Ingin Mencintai

saya ingin mencintai

bukan sesuatu yang abstrak

atau absurd seperti ini

saya ingin mencintai

sesuatu yang nyata

bukan sesuatu yang nihil

sesuatu yang memiliki massa

sesuatu yang bisa dicium wanginya

sesuatu yang bisa diraba

bukan imajiner seperti ini

saya ingin mencintai

tidak dengan cara seperti ini

Berbeda

saya terlampau skeptis sekarang. atau terlalu terjerumus hingga sulit bangkit? saya ingin menjadi berbeda. mengalami rasa yang berbeda. melihat warna yang berbeda.mencium wangi yang berbeda. saya tak mau terkurung di sini. menjadi perempuan lemah yang tak punya daya. terlalu banyak hal yang terjadi. terlalu lelah untuk sekedar menghirup udara baru. saya masih terjerembap. saya pikir akan ada yang menolong. ya.memang ada.tapi rupanya ekspektasi saya terlalu berlebihan. pada akhirnya saya memang yang harus menentukan. dan mungkin saya memang terlampau skeptis sekarang. atau terlalu terjerumus.

Logika VS Perasaan

sayangnya,saya adalah perempuan yang selalu menggunakan hati ketimbang otak. kadang bagus. melatih kepekaan.tapi kadang juga jadi merasa sesak sendiri. sayangnya saya terlalu sering mempercayai hati ketimbang otak. jadi meskipun si otak-dengan logical statementnya- sudah teriak-teriak untuk sadar dan menyudahi semua ini, saya tak akan menggubrisnya. logika mencibir saya terus.dia bilang saya makhluk paling tolol. si perasaan bilang kalau saya harus bertahan. sedikit lagi saja. karena tak ada yang tak mungkin di dunia ini. saya cuma geleng-geleng kepala. ah,tak taulah.

Saya Takut

oke.tulisan ini memang akan kemana-mana dan ngawur. jadi jangan salahkan jika setiap alineanya tak berkesinambungan. akhir-akhir ini pikiran saya kacau. mood swing is comin.entahlah.terlalu banyak hal-hal yang harus dipikirkan. sayangnya otak saya hanya ada satu.jadi tak bisa dibagi-bagi. apa yang saya inginkan? apa yang saya takutkan?bagaimana dengan masa depan saya?kira-kira begitulah pertanyaan yang sering muncul belakangan ini. hmm,apa pertanyaan ini selalu muncul pada perempuan yang akan menginjak kepala dua?ketakutan dan keraguan akan hidupnya di masa depan?saya takut. sangat takut. saya punya ekspektasi begitu besar terhadap diri saya sendiri.juga ekspetasi besar pada tuhan. juga lingkungan. juga tiap-tiap elemen yang akan mendukung kehidupan masa depan saya. tapi bagaimana jika ekspetasi itu tak tercapai?apa yang harus saya lakukan?akan kemana saya?

Cakra dan Lysa : I Remember (edisi 1)

September, setahun yang lalu

Saya Lysabrina Alveriza. Usia saya hampir menginjak 20 tahun. Saya mahasiswi fakultas hukum di sebuah universitas negeri di daerah Dipati Ukur, Bandung. Semester ganjil baru saja dimulai. Dosen-dosen pun tak lagi memberikan kesempatan bagi kami untuk berleha-leha. The holiday is over, let’s back to the reality. Let’s face the world with those of assignments, exams, and blablabla. Welcome to the third semester. Some people say, this is the truly hell. Watch out, you’ll be burned!!! (and today I realized that third semester was just gate to the truly hell. Well, the next semester is 1000 times hotter than that)

“Semester satu-dua sih Cuma pemanasan aja. Kalian masih adaptasi dari masa SMA ke masa perkuliahan. Nggak ada apa-apanya itu mah…” begitu kata seorang senior.

Baru beberapa minggu kuliah, kami sudah disuguhi berbagai tugas. Dari mulai melihat dan melaporkan proses persidangan di pengadilan, mempelajari hukum-hukum yang berlaku secara internasional, menganalisis perbedaan hukum syariat islam dengan hukum positif, dan sebagainya.

Tugas pulalah yang menyebabkan saya berada di sini. Di sebuah travel agent. Bukan untuk jalan-jalan. Beberapa jam lagi saya akan pergi ke Jakarta. Saya harus mewawancarai seorang pengacara terkenal di sana. Saya juga harus meninjau sebuah law firm dan menganalisis kinerja perusahaan mereka.

Sama sekali bukan tugas yang menyenangkan. Tapi apa lacur, saya tetap harus melakukan ini. Demi nilai A (atau setidaknya B). Demi IPK. Demi liburan yang sebisa mungkin tak terganggu Semester Pendek. Demi lulus tak lebih dari lima tahun. Demi masa depan gemilang nan cemerlang.

Sialnya lagi, saya harus berangkat seorang diri dari Bandung. Sebenarnya tugas ini dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari tiga orang. Tapi kedua teman saya tak bisa pergi bersama-sama. Satu orang datang belakangan karena harus menghadiri acara keluarga terlebih dahulu. Seorang lagi sedang pulang kampung ke rumahnya di Jakarta. Jadi kami akan langsung bertemu di sana.

Sambil menunggu mobil datang, saya membunuh waktu dengan membaca buku. Membaca telah menjadi hobi saya sejak kecil. Yes, maybe I’m sort of book worm. Saya membaca segala jenis buku. Dari mulai komik sampai buku filsafat. Dari mulai novel percintaan sampai novel bertemakan perang. Saya termasuk orang yang percaya pada pepatah klise, “buku adalah jendela dunia.” Lewat buku Tetralogi Bumi Manusia saya tahu kehidupan masyarakat Indonesia sebelum merdeka. Lewat buku Jakarta Undercover saya tahu bagaimana realita kehidupan metropolitan. Lewat komik Conan saya tahu bagaimana menyingkap misteri sebuah pembunuhan. Lewat novel Ayat-Ayat CInta saya belajar ketulusan cinta dan keikhlasan. Lewat buku Pengantar Ilmu Hukum saya banyak tahu soal hukum. Se-“kacangan” apapun bukunya, pasti ada pelajaran yang dapat diambil dari buku tersebut. Kita jadi tahu bagaimana membuat buku yang bagus karena sudah ada contoh yang kurang bagus. Hahahaha. Becanda!

Saya mengeluarkan Le Petite Prince dari dalam tas. Buku ini tampak lecek. Sampul plastiknya kusam. Begitu membuka halaman pertama, ada tanda tangan saya yang sudah tak jelas wujudnya di pojok kanan bawah halaman. Adik saya tanpa sengaja pernah menumpahkan susu ke buku tersebut. Alhasil, tanda tangan saya jadi luntur. Buku favorit saya pun jadi kumel. Saya kesal sekali waktu itu. Sampai menangis sejadi-jadinya. Akhirnya ibu membelikan saya buku yang sama. Buku itu sekarang berada di tempat yang aman dan tak kan pernah ketumpahan susu lagi.

Saya suka sekali buku ini. Sudah puluhan kali saya membacanya. Tapi saya tak pernah bosan. Buku ini sudah seperti sahabat saya sendiri. Setiap kali akan berpergian jauh, buku ini selalu menemani. Kadang saya merasa seperti Si Pangeran Kecil yang tinggal sendiri di sebuah planet dan hanya ditemani setangkai bunga mawar. Kadang saya merasa seperti si pilot yang terdampar di padang pasir.

“Mbak, Mbak?” seru sebuah suara. Saya cuek saja. Fokus membaca.

“Mbak, Mbak yang lagi baca buku!” panggil suara itu sekali lagi. Saya menoleh.

“Saya?” jawab saya sambil menunjuk ke diri sendiri.

“Iya, Mbak. Siapa lagi?” Kata lelaki yang duduk tak jauh dari saya. Saya mengedarkan pandangan. Hanya ada lima orang di ruangan ini. Saya, lelaki yang barusan memanggil saya, seorang bapak di seberang saya yang sedang sibuk menelpon, serta sepasang kekasih yang sedang ngobrol sambil cekikikan di pojok sana.

“Mbak lagi baca Little Prince ya?” ujarnya sopan sambil tersenyum. Little Prince merupakan judul versi inggris dari Le Pettite Prince yang dibuat oleh penulis asal Prancis.

“Iya, kenapa emangnya Mas?” tanya saya. Lelaki itu langsung mengangkat buku (saya baru ngeh dia juga sedang membaca buku) yang terletak di pahanya dan memperlihatkan sampul buku tersebut.

FOR GOD’S SAKE, HE ALSO READ LE PETITE PRINCE!!!

Kami saling berpandangan dan kemudian tertawa.

“Kok saya nggak sadar Mas lagi baca buku itu ya?”

“ Mungkin karena bukunya saya lipat. Jadi sampulnya nggak keliatan…”

“Hahaha, bisa jadi. Tapi memang kadang saya cuek dengan keadaan sekitar kalau lagi asyik sendiri. Mas suka buku itu juga?”

“Saya baru baca setengahnya nih. Jadi belum bisa memutuskan saya suka atau nggak sama buku ini. But so far, it’s quite good. Banyak pelajaran yang saya dapet. Kalo Mbak gimana? ”

“Wah kalau saya sih suka banget sama buku ini. Salah satu favorit saya!”

“Pantesan lecek gitu Mbak bukunya. Pasti karena keseringan dibaca ya? Hahahaha ”

“Ya gitu deh. Ditambah saya yang jorok, jadi beginilah keadaannya. Ahahaha,”

“Hahahaha,”

“Mas udah sampe mana bacanya?”

“Saya baru baca sampai ketika si pangeran kecil ketemu raja-raja yang aneh itu,”

“Emang sih aneh. Tapi itu merepresentasikan tipe manusia yang ada di bumi. Hehehehe, ”

“Iya sih,”

Tiba-tiba seorang petugas travel mendekati kami.

“Mas naik yang ke arah Cempaka Putih ya? Mobilnya sudah datang… ” terang petugas tersebut. Lelaki itu pun mengangguk. Memasukkan buku ke dalam tas ranselnya, mengikat rambut sebahunya, kemudian bamgkit dari kursi.

“Mbak saya duluan ya. Mobilnya udah dateng ternyata,”

“Oke. Hati-hati di jalan Mas. Selamat membaca buku Little Prince-nya ya…dijamin nggak akan menyesal! Hehehehe” ujar saya sambil terkekeh.

“Makasih Mbak. Mari,” jawabnya sambil keluar ruangan.

Kelak kami tahu bahwa pertemuan itu bukanlah kebetulan semata.

Cakra dan Lysa: I Remember

I remember the way you red your books

Yes I remember

The way you tied your shoes

Yes I remember

The cake you loved the most

Yes I remember

The way you drank your coffee

I remember-Mocca

Saya ingat.

Saya ingat semua peristiwa yang kami lalui.

Saya ingat setiap kata yang pernah ia ucapkan.

Saya ingat betul wanginya.

Saya ingat betul gerak-geriknya.

Saya ingat betul caranya berbicara.

Saya ingat caranya tertawa.

Saya ingat cara merokoknya yang khas.

Saya ingat mimiknya ketika ia sedang bermain gitar.

Saya ingat ekspresinya saat hunting foto.

Saya ingat betul dengan semua ejekan yang ia tujukan pada saya.

Saya ingat betul caranya menghibur saya ketika sedang sedih; melakukan senam aneh atau menyanyikan soundtrack Doraemon dengan suara dibuat seperti orang cadel.

Saya ingat caranya mengikat rambut sebahunya.

Saya ingat kebiasaanya mencubit hidung saya ketika ia merasa gemas.

Saya ingat ekspresi seriusnya ketika berbicara tentang hidup.

Saya ingat kebiasannya yang suka narsis.

Saya ingat warna favoritnya.

Saya ingat siapa gitaris dan fotografer kesukaanya.

Saya ingat apa makanan favoritnya.

Saya ingat betul kamar kosannya yang kecil tapi nyaman.

Saya ingat tatapan matanya.

Saya ingat kebiasaannya yang selalu membuat kejutan.

Saya ingat betul pertama kali kami bertemu. Bahkan, saya masih ingat pakaian yang dikenakannya ketika itu.

Saya ingat.

SAYA INGAT!

Kenapa saya harus ingat semuanya? Sampai detil-detilnya? Apa karena dia istimewa?

Yes, he is special. He is damn precious. But just like I’ve said, in a different way. And I am really sure that rational things can’t accept this. Irrational things neither. Don’t ask me why, coz I’m still figuring out what’s happening here, inside my heart.

Lagu milik Mocca diputar berulang kali. Sambil mendengarkan lagu itu, pikiran saya melayang. Melesat masuk ke zona kenangan. Saya pun asyik bermain di dalamnya. Berharap rasa sesak ini sedikit terobati lewat kenangan yang saya miliki bersama Cakra.