Sunday, April 25, 2010

Dan Kamu Benar

Dan kamu benar,
ternyata aku rindu ocehan-ocehan yang tak pernah berhenti mengalir dari bibirmu.

dan kamu benar,
ternyata aku candu harum tubuhmu.
harum yang membuat nyaman sekaligus membangkitkan imaji liarku.

dan kamu benar,
ternyata aku rindu gemericing gelang kakimu ketika kau melenggang masuk ke rumahku.

dan kamu benar,
ternyata pondasi logika yang sengaja kubangun rubuh oleh perhatian tulusmu

dan kamu benar,
ternyata aku terlalu picik, terlampau bodoh,
karena menampik semua pertanda.

dan kamu benar,
ternyata aku jatuh cinta padamu.

dan kamu benar,
ternyata aku sudah terlambat.


21 april 2010, di dalam shuttle bus menuju Jakarta.

Antara Logika dan Rasa

Terkadang kita
Terlalu bersikeras
Tak pakai perasaan
Slalu berpikir logis

Terkadang kita
Terlalu terhanyut
Tak mau analisis
Slalu gunakan rasa

*mengapa kita
Tak seimbangkan saja?

Antara logika dan rasa
Mestinya seirama
Hingga kita bisa menilai
Dari berbagai sisi

ironisme

Kau adalah sosok terangkuh
Tak pernah mau akui kesalahan
Kau adalah sosok terpicik
Tak pernah mau pedulikan

Sungguh ironis,
Dibalik sikap manis

Memang tak kasat mata
Semua yang kau lakukan
Tapi pasti kau ingat
Tak kan mungkin terlupa

Jangan pernah mengira
Kau kan terbebas
Kau hanya menunggu waktu
Sebelum akhirnya
Kau terpuruk

absurd

Bergumul dengan rasa
Begitu dekat, tanpa sekat
Tapi terasing
Seperti tak pernah terwujud
Atau memang tak punya bentuk?

AH!

saya jengah,
ia amarah,
semua lengah,
tak ada jalan tengah!
ah!

kisah-kisah,
tak berarah,
enggan merekah
ah!

dulu desah,
kini resah
kita kalah
semua susah
ah!

Laila, Gadis kecil berambut ijuk

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
ia tak bersekolah,
" tak punya biaya," keluhnya.
ayahnya kuli, ibunya buruh cuci.
jangankan sekolah,bisa makan saja sudah untung.

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
sehari-hari bekerja demi membantu orang tua.
berdendang di atas gerbong kereta.
menyanyi lagu dangdut dengan tape butut.
suara cemprengnya menyeruak di sela kerumunan penumpang.

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
hasil mengamen tak lantas menjadi miliknya.
ia mesti berbagi dengan si punya tape,
"uang sewa tape," begitu katanya.
ia mesti membayar preman yang memalaknya.
kadang ia hanya membawa pulang uang receh.

Laila, gadis kecil berambut ijuk
umurnya kurang lebih delapan tahun.
kadang ia cemburu pada anak sebayanya.
memakai seragam, bermain sambil bercanda di pekarangan sekolah,
memakan es krim, membeli mainan baru...
semua keriaan masa kanak-kanak.

Laila, gadis kecil berambut ijuk
umurnya kurang lebih delapan tahun.
sayang ia tak bisa memilih,
terlalu takut untuk berontak,
tak mengelak, tak menolak.
"ya mungkin sudah nasib,"

NI Hou Ma, Petjinan Bandung?

Minggu (4/4) lalu, Komunitas Aleut kembali mengadakan tur jalan kaki (ngaleut) untuk menyingkap sisi lain sejarah Kota Bandung. Tema ngaleut kali ini adalah “Menelusuri Kawasan Pecinan”. Tema yang menarik membuat orang penasaran. Maka tak heran jika peserta yang mengikuti kegiatan tersebut cukup banyak. Ada sekitar 30 orang yang menjadi peserta tur, dari mulai mahasiswa, karyawan, guru, wartawan, bahkan sampai murid SMP.

Pukul 07.30 para peserta berkumpul di depan Gedung Merdeka jdi alan Asia Afrika. Sambil menunggu peserta lain datang, mereka pun melakukan sesi perkenalan. Setelah semua peserta berkumpul, Bang Ridwan (selanjutnya disebut BR) memberikan arahan singkat mengenai rute plesiran. Ia juga menjelaskan sejarah kedatangan etnis Tionghoa di Paris van Java.

BR memaparkan bahwa ada dua versi sejarah yang menceritakan kedatangan etnis Tionghoa di Kota Bandung. Pertama, ketika Deandles membuat post weg di Bandung. Deandles mendatangkan etnis Tionghoa dari Cirebon dan memperkerjakan mereka sebagai tukang kayu di sini. Versi kedua menjelaskan bahwa warga Tionghoa yang berada di kota kembang dulunya adalah korban Perang Dipenogoro. Mereka yang merasa terancam keselamatannya sengaja pindah ke Bandung demi mendapatkan hidup yang lebih aman dan nyaman. Saya sendiri tidak tahu versi sejarah mana yang mendekati kebenaran. Namun yang pasti, warga etnis Tionghoa sudah hidup berdampingan dengan warga Bandung asli sejak sekian lama.

BR kemudian menjelaskan bahwa Pecinan yang ada di Kota Bandung memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pecinan di kota lain. Pecinan Bandung merupakan satu-satunya perkampungan China di Indonesia yang tidak dibatasi oleh tembok. Biasanya, perkampungan China di Indonesia selalu dibatasi oleh tembok besar sehingga ada batasan yang jelas antara pemukiman pribumi dan pemukiman etnis Tionghoa. Ini merupakan kebijakan yang dibuat pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1826. Kebijakan itu menyatakan bahwa setiap etnik yang ada di satu kota harus disatukan dalam sebuah wilayah. Selain tidak ditembok, warga Tionghoa di Bandung pada zaman itu juga tidak harus memiliki surat izin ketika keluar dari perkampungan.

Setelah diberi uraian singkat mengenai asal mula kedatangan etnis TionghoA di Kota Bandung, para pegiat Aleut kemudian menelusuri jalan Asia Afrika. Mereka sempat berhenti di sebuah tempat di dekat kantor Pos (saya lupa nama jalannya). Di tempat itu terdapat sebuah lapangan dan beberapa garasi tua. BR megatakan bahwa pada saat pembuatan post weg, garasi ini dijadikan pos pergantian transportasi-yang ketika itu menggunakan kuda. Pos garasi ini bukan satu-satunya tempat pergantian transportasi. Pos garasi tersebut menyebar sepanjang rute pos weg. Jarak antara satu pos dengan pos lainnya sekitar 15 KM. Di sekitar pos juga selalu dibangun instal air dan penginapan (pasanggrahan) untuk peristirahatan pemerintah Hindia Belanda.

Setelah mengamati pos garasi tua, para pegiat pun melanjutkan perjalanan ke arah jalan Alkateri. BR kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah toko tua bernama Dezon NV. Dezon (dalam bahasa Belanda berarti Matahari) merupakan toko milik seorang berkebangsaan Jepang. Bila dilihat dari arsitekturnya yang bergaya art deco geometri, toko ini di bangun sekitar tahun 1925. Toko ini sudah berdiri sebelum Jepang menduduki nusantara. Konon kabarnya, toko Dezon NV berisi mata-mata dari Jepang. Entah benar atau tidak.

Para pegiat kemudian memasuki jalan Alkateri. Jalan ini diambil dari nama tuan tanah berkebangsaan Arab yang hidup di awal abad 20-an. Saya sendiri agak heran mengapa di kawasan pecinan terdapat sebuah jalan yang namanya so Arabic. Seingat saya, BR menjelaskan tentang hal ini. Tapi saya tidak sedang memerhatikan jadi ada beberapa bagian sejarah yang terlewat.

Di jalan Alkateri terdapat sebuah gang kecil bernama Gang Al Jabri. Dulu, gang ini merupakan pusat penjualan Opium di Kota Bandung. Sekarang Gang Al Jabri menjadi kios barang antik. Sayang hari itu tidak ada satu kios pun yang buka.

Pegiat terus menelusuri Jalan Alkateri. Mereka langsung terpana ketika melihat sebuah kedai kopi kecil bernama “Purnama”. Sebagian besar dari mereka sepertinya baru tahu bahwa di Alkateri terdapat sebuah warung kopi yang sudah berdiri sejak tahun 1929 itu. Warga Tionghoa tempo dulu selalu menyempatkan diri datang ke kedai kopi di waktu-waktu tertentu agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan mereka. Inilah yang coba dihadirkan di warung kopi Purnama. Maka tak heran jika di waktu-waktu tertentu, warung ini ramai oleh pengunjung. Sayang para pegiat tidak sempat memasuki warung ini karena hari semakin siang.

Ketika menelusuri Jalan Alkateri, kita akan melihat sebuah gang kecil di samping kiri dan kanan blok (1 blok terdiri dari lima rumah). Gang kecil ini disebut branhang (dari bahasa Belanda yang berarti gang kabakaran). Ketika itu, kebanyakan rumah warga Tionghoa terbuat dari kayu yang rentan terbakar. Oleh karena itu, mereka membuat sebuah gang kecil yang berfungsi sebagai tempat menyelamatkan diri jika terjadi kebakaran. Sayang saat ini branhang tidak lagi berfungsi. Bahkan orang-orang yang tak bertanggung jawab sengaja melebarkan rumahnya sampai batas branghang tersebut.

Selain warung kopi Purnama, ternyata masih banyak objek kuliner yang terdapat di jalan Alkateri, yakni; lotek pincuk Alkateri, Rondo Jahe, serta Cendol Gentong. Sayang para pegiat tidak bisa menikmati panganan itu karena mereka tutup di hari Minggu.

Mereka terus melakukan perjalanan dan akhirnya melewati Pabrik Kopi paling terkenal di Kota Bandung;Kopi Aroma. Lagi-lagi para pegiat hanya bisa gigit jari karena pabrik dan kedai kopinya tutup. Padahal di hari biasa, pemilik Pabrik selalu memberikan kesempatan bagi pengunjung yang ingin melihat proses pembuatan kopi legendaris tersebut.

Pegiat melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan, mereka bisa melihat Pasar Baru yang menjulang tinggi. Mereka melewati bangunan tersebut, menyebrang di jembatan penyebrangan, lalu kemudian berjalan lagi. BR menghentikan perjalanan dan memperlihatkan foto-foto zaman dulu. Ia kemudian memperlihatkan foto Pasar Baru zaman dulu. Saya takjub sekali melihat bangunan Pasar Baroe tempo dulu. Menurut saya, bangunan Pasar Baroe tempo dulu lebih bagus dan elegan dibandingkan bangunan yang sekarang.

Ada fakta menarik soal Pasar Baru yang sayang untuk dilewatkan. Pasar Baroe didirikan sekitar tahun 1916. Pasar ini merupakan pindahan dari pasar Ciguriang yang terbakar. Pasar Baroe juga pernah menjadi pasar paling teratur dan terbersih di Hindia Belanda. Wah, kalau dibandingkan dengan pasar baru yang sekarang , rasanya jauh berbeda ya?

Setelah diberi penjelasan seputar Pasar Baru, mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka melewati kios obat-obatan China “Babah Kuya” dan sempat menikmati Es Goyobod Kuno 49. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun malanjutkan perjalanan. Panas yang menyengat membuat para pegiat kelelahan. Mereka akhirnya beristirahat lagi sambil menikmati Cakue Osin (berdiri sejak tahun 1920).

Di dekat Cakue Osin terdapat sebuah bioskop tua. Sebenarnya bioskop ini menghadap ke Kebon Jati sehingga para pegiat hanya bisa melihat bagian belakang bangunan tersebut. Bioskop ini dulu bernama Preanger, lalu berubah nama menjadi Luxor, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Roxy. Pada tahun 1926, bioskop tersebut menayangkan film berbicara untuk pertama kalinya. Saat ini, bioskop tersebut telah beralihfungsi menjadi sebuah kantor asuransi.

Hari semakin siang dan udara Kota Bandung semakin panas. Para pegiat Aleut kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian menyusuri jalan Kebon Jati. Di sana, mereka melihat Hotel Surabaya (berdiri sejak tahun 1886) yang tengah dibangun bagian belakangnya. Mereka kemudian berjalan ke arah Gardujati dan memasuki kawasan lokalisasi terkenal di Bnadung;Saritem.

Setelah berjalan menelusuri Saritem, mereka pun sampai di jalan Kelenteng. Mereka takjub ketika melihat sebuah kelenteng dengan ornamen dan warna khas etnis Tionghoa berdiri tegak dan kokoh. Kelenteng ini bernama Kelenteng Satya Budhi. Kelenteng ini sudah berdiri sejak tahun 1865. Semula kelenteng ini bernama Kelenteng Istana Para Dewa (Hiop). Pada tahun 1885, kelenteng ini berganti nama menjadi Than Ki Ong.

Di sebelah Kelenteng Satya Budi, terdapat sebuah Vihara bernama Budha Gaya. Dulu, sebelum Konghucu diakui, warga Tionghoa menggunakan vihara sebagai “kamuflase” peribadatan mereka. Biasanya warga Konghucu beribadat di dalam vihara supaya aman dan tidak diketahui oleh pemerintah. Setelah Konghucu diperbolehkan, maka vihara itu pun membuat bangunan baru.

Sebagian dari pegiat Aleut memasuki kelenteng Satya Budhi. Kebanyakan dari mereka baru pertama kali masuk ke kelenteng. Di sana mereka memerhatikan etnis Tionghoa yang sedang beribadah, sekaligus mengabadikan momen tersebut dalam sebuah gambar.

Kelenteng Satya Budhi merupakan tempat terakhir dari plesir edisi pecinan. Meskipun lelah terlihat dari wajah mereka, tapi hal itu terbayar oleh pengetahuan serta engalaman mengesankan yang mereka dapatkan melalui ngaleut ini. Sampai jumpa lagi di plesir berikutnya! xie-xie…

Friday, April 2, 2010

Simpanan

“Kamu sinting, Lena!”

“Lebih baik aku dibilang sinting daripada tak jujur pada diri sendiri,”

“ Aku masih tak habis pikir. Kenapa kamu memilih bersamanya?”

“Aku mencintainya,”

“Ok, let me break it down to you. You gave him oh-so-called great sex and he gave you those of branded stuffs. Then you called it, what, love??? Oh come on… ”

“ Don’t start darling. You don’t know anything…”

“ Tapi kenapa harus dengan lelaki seperti itu? Kalau tujuan kamu ingin mendapat hidup yang lebih baik, aku sanggup melakukan itu!”

“ Kenapa sih kamu terus mencampuri urusanku??? We’re over, remember?”

“ Tapi aku masih peduli sama kamu! Believe me, you deserve better!”

“ Kalau kamu peduli, kamu tidak akan berpikiran dangkal seperti mereka! Kamu tidak akan menganggap hubunganku dengannya hanya berlandaskan materi dan seks. You know me, for god’s sake! ”

“ Oke, kamu mencintainya. Mungkin juga dia. Tapi dia beristri! Bahkan anak terbesarnya seusia denganmu!!! Kamu…dimana otakmu Lena? Kamu tidak kasihan pada keluarganya? Apa kata ibumu nanti kalau tahu anaknya…”

"Sejak kapan kamu peduli dengan norma-norma? BUkannya kamu selalu bilang kalau cinta itu bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja, sekalipun harus membentur norma-norma?Ah, Cukup! I can’t stand with this anymore. Sejak kapan aku punya otak kalau soal percintaan??? Bahkan aku sudah gila ketika memutuskan berpacaran denganmu, kan? Ibuku mungkin akan sekarat jika tahu akau berpacaran dengan Mas Danu. Tapi ibuku bisa mati kalau tahu aku pernah berpacaran denganmu! ”

“…”

“Dan satu lagi, having sex with a guy 1000 times better than having sex with a girl, Marina…”

si kereta marjinal

Si kereta marjinal,
Bukan sekedar tukang antar
Setiap gerbongnya menetas cerita
Di balik bordesnya ada kehidupan
Ini bukan sembarang kereta,
Ini kereta paling istimewa

Wajah-wajah lelah penuh peluh
Berdesakan berebut oksigen
Bau ketiak campur parfum murahan menyeruak
Asap rokok tak mau kompromi
Mengepul di sana- sini

Orang lalu lalang, teriak-teriak
Menjajakan apa saja,
Asal bisa bawa pulang uang;
“Lem tikus…lem tikus…
minum…minum…minum…
tahu…tahu…tahunya mas…
jeruk, jeruk lima ribu saja…
senter, alat tulis, jam tangan,
pisau dapur,…#%$”

Dari kejauhan terdengar musik dangdut
Ada yang bernyanyi dengan nada sumbang
Kemudian meminta balas kasih,
Tak apa, asal bisa makan, katanya

Kondektur tiba memeriksa karcis,
Seribu rupiah saja harganya,
Itupun banyak yang tak beli
Malah memilih berdiri di atas gerbong


Di dalam sana, tiap orang saling curiga
Barang bawaan dipegang erat-erat
Takut penumpang sebelah copet
Yang siap mengambil dompet

Si kereta marjinal,
Meski renta tak pernah mati
Meski buruk rupa tak pernah dicela
Di dalamnya ada potret realita
Ini bukan sembarang kereta,
Ini kereta paling istimewa.

Thursday, February 18, 2010

Celoteh Busuk: Menyerah Bukan Nama Tengah

seperti ada yang menghalangi tiap kali bergerak. sesuatu yang tak tampak,tapi merusak. tidak.tak bakal saya hentikan pergumulan ini hanya karena itu. sesak pasti selalu ada. tapi tak kan mengurangi niatku untuk meraup oksigen sebanyak mungkin. sungguh aku punya hak atas ini.aku tak akan menyerah.

Celoteh Busuk: :(

sebut saya cengeng.tapi terkadang air mata bisa sangat menenangkan pasang surut hidup.rasa aman yang berkurang tiap harinya.pandangan yang semakin buram. oh saya tak ingin terus berpaku tangan.menantikan diri saya lebur di dalam pusaran waktu. saya hanya ingin kesempatan. ataukah kesempatan juga berbayar kali ini?sungguh saya tak pernah mengharapkan fase yang satu ini. saya selalu beranggapan jika banyak hal yang bisa kita dapatkan tanpa merasa tertekan keadaan. atau ini hanya bentuk penghiburan diri saja?ah!

Wednesday, February 17, 2010

Celoteh Busuk: Teman Bicara

Saatnya berterus terang. Dibalik sikap yang terkesan MANDIRI, saya juga bisa merapuh. Meronta. Mendadak oleng. Terserang rasa yang tidak lazim. Benar,air mata terkadang bisa menenangkan. Tapi apakah itu akan membuat saya tertawa keesokan harinya?

Saya tidak ingin siapa-siapa. Saya bahkan terkadang tidak tahu kenapa saya begitu resah. Kita datang seorang diri, di liang lahat pun begitu.Tapi toh saya makhluk sosial yang kadang tak bisa menjamah semuanya sendiri.

Saya tipe manusia yang tidak bisa bercerita pada sembarang orang. Itu adalah masalah saya. Tapi saya butuh itu, butuh teman bicara. Yang semoga bisa mengerti. yang semoga bisa saling berbagi.

Celoteh Busuk: Teman Bicara

Saatnya berterus terang. Dibalik sikap yang terkesan MANDIRI, saya juga bisa merapuh. Meronta. Mendadak oleng. Terserang rasa yang tidak lazim. Benar,air mata terkadang bisa menenangkan. Tapi apakah itu akan membuat saya tertawa keesokan harinya?

Saya tidak ingin siapa-siapa. Saya bahkan terkadang tidak tahu kenapa saya begitu resah. Kita datang seorang diri, di liang lahat pun begitu.Tapi toh saya makhluk sosial yang kadang tak bisa menjamah semuanya sendiri.

Saya tipe manusia yang tidak bisa bercerita pada sembarang orang. Itu adalah masalah saya. Tapi saya butuh itu, butuh teman bicara. Yang semoga bisa mengerti. yang semoga bisa saling berbagi.

Tuesday, February 9, 2010

Cakra dan Lysa: I Remember (Edisi 2)

Pacar saya selalu bilang, jadi anak kuliahan jangan cuma kupu-kupu alias kuliah-pulang, kuliah-pulang. Dia selalu bilang kalau teori-teori, tugas-tugas, dan nilai-nilai hanya akan membantu kita sebesar dua puluh persen di kehidupan nyata. Selebihnya, nilai IPK tidak akan membantu banyak. Aktif berorganisasi, selalu memperbanyak teman, menambah wawasan di luar mata kuliah, dan terjun ke masyarakat akan membuat mata kita terbuka. Kita akan sadar kalau hidup tak akan terselesaikan hanya dengan nilai akademis sempurna di tangan.

“Percuma nilai IPK kamu 4 tapi tidak tahu cara bekerja sama, tidak punya link, dan tidak tahu seperti apa kondisi masyarakat yang sebenarnya…begitu keluar dari kampus, kamu akan kaget karena ternyata banyak hal berbeda yang tidak kamu pelajari ketika kuliah…” katanya.

“Tapi bukan berarti kamu menyepelekan nilai, Lysa…Seperti yang aku bilang, nilai memang hanya akan membantu kita sebesar 20 persen. Sisanya, kita harus cari di luar kampus.Hmm, katakanlah kamu mau mencari harta karun di hutan. Kamu nggak mau kan masuk hutan tanpa perbekalan sama sekali? Anggaplah 20 persen itu bekal sebelum kamu berusaha mencari sisanya…” lanjutnya.

Kadang saya heran. Tercipta dari apakah pacar saya itu? Di tengah kesibukannya sebagai presiden BEM di Fakultas Ekonomi, anggota aktif UKM sepak bola di kampusnya, belum lagi aktivitasnya di sebuah LSM yang bergerak di bidang lingkungan, oh dan jangan lupa bisnis game online dan warung makan yang ia jalani bersama teman-temannya di Depok sana, Rahyang masih bisa mendapat IPK di atas 3,5! Tahun depan dia akan berangkat ke Jepang selama satu tahun untuk student exchange.

Saya cuma bisa geleng-geleng kepala. Seringnya sih gigit jari dengan semua aktivitas yang dilakukan Rahyang.

“Mumpung masih muda. Ambil kesempatan sebanyak mungkin… ” begitu katanya.

Anyway, apa yang dikatakan Rahyang memang benar. Jangan cuma jadi kupu-kupu. Apalagi kunang-kunang (kuliah-nangkring, kuliah-nangkring). Saya pun mengikuti nasihatnya. Maka, saya pun mulai aktif berorganisasi. Mengikuti kepanitiaan ini-itu. Saya juga terdaftar sebagai anggota aktif forum mahasiswa hukum se-Indonesia. Saya juga mati-matian mempertahankan IPK di atas 3,5. Saya tidak mau kalah dari Rahyang. Saya bangga punya pacar sehebat Rahyang. Dia pun harus bangga punya pacar seperti saya.

Desember, satu tahun yang lalu.

Saya selalu suka bulan Desember. Bukan, bukan karena bulan ini saya berulang tahun (for your information, I was born on May). Banyak hari penting di bulan ini. Dari mulai peringatan hari AIDS, hari anti korupsi, hari ibu, sampai peringatan Hak Asasi Manusia. Biasanya, fakultas saya mengadakan event yang berhubungan dengan hari-hari penting itu. Ya, inilah kesempatan saya untuk ikut andil dalam kegiatan tersebut. Dan kali ini saya menjadi panitia peringatan hari HAM. Saya suka sekali menjadi bagian dari kepanitiaan ini. Selain tujuan acaranya bagus, konten acaranya juga tidak membosankan. Bukan hanya berisi seminar, talkshow, dan diskusi yang bikin kepala mumet karena pelanggaran HAM yang makin sering terjadi di negara ini, melainkan juga berisi hal-hal yang digemari anak muda pada umumnya; ada pertunjukkan musik dari band indie yang sedang populer, musikalisasi puisi, tari-tarian, pertunjukkan teater, lomba fotografi, lomba menulis essay, serta lomba mendesain kaos.

Setelah persiapan selama kurang lebih dua bulan, event peringatan HAM pun digelar pada 10 Desember. Saya masuk divisi marketing yang memang sibuk sebelum hari H. Jadi hari ini, saya lebih banyak menikmati acara ketimbang bekerja. Sambil menunggu acara selanjutnya, saya pun berjalan keluar aula. Saya berjalan ke loby, bermaksud melihat-lihat karya para finalis lomba fotografi yang dipajang di sana.

Ada sepuluh foto yang dipajang di sana. Semuanya mengusung tema yang sama:Hak Asasi Manusia. Lalu sampailah saya pada sebuah foto yang dipajang di paling kiri ruangan. Saya mengamati foto itu dengan seksama.Dari semua foto yang terpajang, saya paling suka foto ini. Sepertinya foto ini paling “bernyawa”. Dalam foto itu terdapat seorang ibu, sepertinya berumur tiga puluhan, beserta dengan dua orang anak lelaki. Si ibu menggendong seorang balita yang tengah menangis. Anak satunya lagi,yang sepertinya berumur tak lebih dari sepuluh tahun, berjalan di sebelah ibunya sambil menguap. Mungkin si anak baru bangun tidur. Dahi si ibu terluka dan mengeluarkan darah. Sepertinya si ibu baru tersungkur atau kejeduk. Entahlah. Pipi kirinya lebam, seperti baru dipukuli.Melihat foto itu, pikiran saya langsung berkelebat tak tentu arah. Mata saya tiba-tiba berkaca-kaca. Dengan mata nanar, saya melihat sebuah kertas kecil yang tertempel di bawah foto tersebut.

Judul: Escape

Karya: Cakrawala Madya Putra

“Wah, ada panitia yang lagi merhatiin foto saya. Lagi dinilai ya Mbak?” tanya sebuah suara di belakang saya.Saya kaget dan buru-buru menghapus air mata yang hampir jatuh ke pipi.

“Sayang jurinya bukan dari panitia Mas, tapi di datangkan langsung dari sekolah fotografi Darwis Triadi…” jelas saya sambil menoleh ke belakang. Saya terpaku ketika melihat sosok orang tersebut. Sepertinya orang ini tak asing. Sepertinya saya pernah melihat orang ini. Tapi dimana ya? Orang di depan saya pun sepertinya sedang mengingat-ingat. Dia mengernyitkan dahi dan menatap wajah saya lekat-lekat.

“Kayaknya saya pernah ketemu Mbak deh…Tapi dimana ya?”

“…”

“…”

Aha!

“Di travel! Novel Little Prince! Ingat?” seru saya sambil setengah berteriak.

“Oh,Iya! Benar! Mbak yang ketemu di travel! Wah, wah, wah…nggak nyangka ya bisa ketemu di sini! Mbak kuliah di Hukum ternyata?”

“Iya! Kebetulan sekali ya Mas…Iya, saya kuliah di sini. Mas sendiri di jurusan apa?”

“Oh, saya sih bukan kuliah di sini…saya kuliah di FSRD, ngambil DKV. Kebetulan saya tau ada lomba fotografi di sini, ya iseng aja ikutan. Kali menang kan lumayan hadiahnya…”

“OH, kamu suka fotografi ya?”

“Ya lumayan, mengisi kekosongan aja sih…”

“Ini…ini karya kamu?”

“Iya. Kenapa? Aneh ya?”

“Nggak, bagus kok. Bernyawa. Saya nggak terlalu ngerti fotografi sih…Tapi kalau saya jadi jurinya, saya pasti milih foto kamu sebagai juaranya.”

“Ah, kamu berlebihan…foto lain lebih bagus-bagus! Oh ya, saya Cakra.” ujar lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.

“Saya Lysabrina. Panggil aja Lysa,” jawab saya sambil membalas uluran tangannya.

“…”

“…”

“Eh,kok bisa dapet foto kaya gitu? Ini bukan rekayasa kan? Jangan-jangan kamu bayar orang untuk difoto kayak gitu.”

“Hahahaha, enak aja! Haram hukumnya merekayasa foto. Semua terjadi secara kebetulan. Hmm, tapi saya rasa itu bukan kebetulan juga sih. Saya percaya kalau everything happens for a reason. Saya berada di tempat itu, hari itu, pada jam itu, lalu melihat seorang ibu membawa anak-anaknya dengan keadaan terluka, kemudian memotretnya,apakah itu sebuah kebetulan? Saya rasa tidak…Bahkan, orang yang duduk di sebelah kita ketika naik angkot pun bukan kebetulan. Semua sudah ada yang mengatur… “

“Dan apa kabar dengan pertemuan tidak sengaja kita? Dua kali pula! Apakah itu kebetulan? Saya rasa juga tidak…”

“Hahahaha. Kamu betul. Kenapa dari semua foto yang terpajang,kamu memerhatikan foto saya?”

“Iya, betul! Dan kejadian di travel itu…hahahahaha. Aneh juga ya? Nggak masuk akal!”

“Iya…”

“Eh, eh, kayaknya si MC lagi mengumumkan pemenang lomba deh…”

“Oh ya? Ya udah kita masuk ke dalem aja yuk…”

Kami pun memasuki aula. Memang benar, sang MC sedang membacakan para pemenang lomba.

“Masih ngumumin pemenang desain nih…” seru Cakra.

“Iya. Eh, foto itu, hmmm, ibu itu…dia kenapa luka-luka gitu?”

“Dipukulin suaminya.Dan hari itu dia memutuskan untuk keluar dari rumahnya. Mengakhiri penderitaannya. Makanya saya memberi judul ‘escape’ pada foto tersebut…”

“KDRT…Hhh…ya, tiap perempuan punya hak untuk dihargai. Hak kesetaraan gender…”

“Termasuk HAM juga kan?”

“Ya iya dong…eh, itu, si MC lagi ngumumin pemenang foto…”

“Wah…deg-degan nih saya…”

“Hahahaha…”

Dan juara satu untuk lomba fotografi adalah…Foto dengan judul…wah, pasti kalian udah nggak sabar ya…??? Pemenangnya adalah…Ohya, sebelumnya, pemenang akan mendapatkan hadiah sebesar lima juta rupiah…wah, lumayan banget kan…pemenangnya adalah…foto dengan judul...ESCAPE karya Cakrawala Madya Putra…Tepuk tangan untuk pemenang…dan untuk Cakrawala silakan naik ke atas panggung…

“Wah! Apa kata saya! Kamu menang…Selamat ya…”

“Wow, saya menang!!! Saya naik ke atas panggung dulu ya…Kamu jangan kemana-mana!”

Lelaki bernama Cakra itu pun naik ke atas panggung.

“Lysa,lo kemana aja? Gue cariin dari tadi… Eh anter gue dulu ke rumah makan…” tiba-tiba Tasya, koor Marketing saya, muncul dari arah belakang.

“Hah, ngapain?”

“Iya nih ada sedikit masalah sama rumah makan itu. Waktu kemarin kan di MOU-nya mereka deal buat ngasih makan panitia dan pengisi acara sebanyak 100 dus. Eh nggak taunya cuma dikasih 85 dus! Makanya sekarang mau protes ke rumah makan itu…Ayo cepet, gue udah kesel banget nih…”

“Hmm…ya udah deh yuk…” jawab saya setengah hati. Ah, kenapa sih harus ada masalah di tengah acara begini!Saya pun membuntuti Tasya ke arah parkiran.

Dari kejauhan saya melihat Cakra menerima hadiah dan berfoto bersama.

Tak lama berselang, Cakra turun dari panggung. Ia kemudian berjalan ke tempat ia dan Lysa berdiri tadi. Ia ingin berbagi kebahagiaan dengan perempuan bernama Lysa itu. Namun ketika sampai ke tempat semula, orang yang dicari sudah tidak ada. “Oh, mungkin Lysa sedang ke toilet,” pikir Cakra. Semenit, dua menit, lima menit ia menunggu, tapi Lysa tidak juga kembali ke tempat itu. Ia pun mencari ke seluruh aula.Tapi perempuan itu benar-benar hilang. Entah pergi kemana.

Monday, February 8, 2010

Aku Rindu Suara Vespamu

Barusan aku mendengar suara knalpot vespa di depan rumah. Aku kaget. Sambil takut-takut, aku mengintip dari jendela. Jauh di dalam hatiku, aku berharap suara bising itu datang dari knalpot vespamu. Ternyata bukan. Hanya sebuah vespa lewat. Kemudian aku menutup tirai dengan hati kecewa. Ah, apa sih yang aku pikirkan? Kok bisa-bisanya aku berpikiran bahwa itu suara knalpot vespamu? Kok bisa-bisanya aku berpikiran bahwa kamu akan datang ke rumahku lagi untuk, misalnya, meminta maaf? Atau setidaknya bersilaturahmi denagan ayah ibuku? Kamu memang terlalu banyak berimajinasi, Risa! Pekikku dalam hati.
….
….
….
Sudah berapa bulan tepatnya aku tak lagi mendengar suara knalpot vespamu itu? Sepuluh bulan? Setahun? Ah, sungguh aku tak mau mengingat-ingat lagi. Tapi memori itu masih sering berputar di otakku. Aku ingat betul kapan terakhir kali ku mendengar suara knalpot vespamu. Kamu datang ke rumahku dengan vespa hitam kesayanganmu. Tak ada senyuman dan tatapan mesra seperti biasanya. Pertengkaran hebat sehari sebelumnya membuat semua hilang tanpa bekas.
Malam itu…
Malam terakhir aku melihat vespa hitam yang penuh stiker di bagian depannya itu terparkir di depan rumahku.
Malam terakhir sebelum semuanya berubah.
Hhh…

Kadang aku rindu. Bukan saja padamu. Tapi juga pada Ojes. Pada suara knalpot bisingnya yang kadang mengganggu. Pada mesin tuanya yang gampang ngadat hingga kamu harus sering bulak-balik bengkel. Aha, aku juga ingat penyakit langganan Ojes: MOGOK! Pernah suatu hari, ketika kita hendak kencan, penyakit Ojes kambuh. Alhasil, kita kencan di bengkel sambil menunggu si montir mereparasi Ojes. Dan sudah berapa kali kamu meminjam kunci inggris dan segala alat lainnya ke ayahku ketika Ojes tak bisa di starter? Tapi kamu keukeuh. Tak mau memensiunkan Ojes.

“Ojes sudah jadi bagian dari hidupku, Sa! Demi tuhan mana mungkin aku tega menjualnya…,” begitu katamu. Ya. Aku tahu Ojes sangat berarti bagimu. Aku tahu Ojes dibeli dari uang hasil keringatmu sendiri. Aku tahu kalau kamu sangat menyanyangi Ojes.Bahkan mungkin kamu lebih menyanyangi Ojes ketimbang aku. Selama tiga tahun bersamamu, kadang aku cemburu pada Ojes. Karena kamu begitu perhatian padanya. Tapi selebihnya, aku sangat berterima kasih pada Ojes. Bagaimanapun dia juga telah menjadi bagian dari kisah kita.

Ojes, kamu apa kabar? Bagaimana kondisimu sekarang? Apa masih sering mogok? Apa sekarang kamu masih mengantar Dani kemana-mana sendirian? Atau sudah adakah yang menggantikanku duduk di jok belakangmu? Oh, Sunguh aku rindu suara knalpotmu, Jes.

Friday, February 5, 2010

Para Pendekar yang (Tak Lagi )Pesimis

Saya selalu beranggapan jika persahabatan yang terjalin di sekolah menengah hanyalah short-term friendship. Ketika memasuki dunia kampus,apalagi jika tak sejurusan atau tak sekampus,persahabatan itu akan memudar. Rasa seiya sekata itu akan menguap. Wajar saya pikir. Ketika di sekolah menengah,kita pergi kemana-mana bersama. Bahkan ke toilet pun bersama-sama. Begitu kuliah,jangankan kemana-mana bareng,ketemu saja jarang. Maka intensitas memang menjadi dalih yang paling kuat atas melemahnya persahabatan tersebut.

Benarkah ini hanya soal intensitas kebersamaan yang semakin berkurang? Ataukah ada kenyataan lain? Yang paling nyata adalah adanya sahabat-sahabat baru di tempat baru sehingga kita sedikit melupakan sang kawan lama. Saya rasa banyak dari kita yang mengangguk setuju. Tak masalah saya pikir. Toh faktanya merekalah-sahabat baru itulah- yang paling sering bersama kita. Paling tahu aktivitas dan kehidupan baru kita.

Berbicara mengenai sahabat sewaktu sekolah menengah, saya jadi ingin berbagi soal ini.


Soal mereka.

Saya bertemu mereka ketika duduk di bangku SMA. Sebuah hubungan yang awalnya terjalin karena merasa senasib. Termarjinalkan. Ya,seperti yang kita tahu,remaja ketika itu hanya mau berdekatan dengan mereka yang cantik atau ganteng,kaya,dan populer. Kelak remaja-remaja itu sadar bahwa ‘persahabatan’ macam itu hanya ilusi,palsu,dan sesaat. Hey, bukan berarti kami secupu dan seterbelakang itu. Kami potensial. Hanya ketika itu-kalau kata pepatah-kami bagai mutiara yang masih tertutup dalam lumpur. Saat itu,karena begitu labilnya,kami menamai diri PENDEKAR KAUM PESIMIS. Nama itu diambil dari pernyataan seorang filsuf yang beraliran pesimistis. Namanya Walt Whiltman.

Awalnya,saya pikir persahabatan ini akan sama saja seperti persahabatan masa remaja lainnya. Kemana-mana bareng. Bahkan kalau bisa gaya dan cara berpakaian harus sama. SERAGAM.SERUPA. Oh dan jangan lupa dengan istilah ‘musuh satu orang berarti musuh semua’. Blablabla… Saya percaya dengan pernyataan yang mengatakan bahwa kedekatan seseorang dengan yang lainnya bermula dari kesamaan yang mereka miliki. Tapi bukan berarti kita harus serupa dengan sahabat kita kan?

Beruntunglah saya bertemu mereka. Kami yang luar biasa berbeda satu dengan yang lainnya. Dari mulai cara berpakaian sampai selera musik berbeda. Awalnya memang terasa janggal. Tapi kami berusaha untuk tidak membahas perbedaan itu. Di situlah kami berusaha mengerti. Berusaha memahami dan menghargai. Kelak saya sadar bahwa mungkin inilah bentuk kasih sayang kami. Dengan tidak menghilangkan perbedaan itu. Perbedaan yang mencirikan kami tetaplah seorang individu,meskipun hidup bersosialisasi. Tak jarang kami saling mentransfer perbedaan-perbedaan itu sebagai bukti penghargaan kami. Itung-itung menambah ilmu baru. Tak ada salahnya juga kan?

Lalu apa yang membuat kami cocok selain sama-sama hobi makan bakso dan nyanyi-nyanyi? Hmm,mungkin karena kami suka tertawa. Kami adalah tipe humoris yang suka mengeluarkan lelucon yang lucu. Setidaknya bagi kami. Lelucon dan guyonan -yang kadang tak dimengerti oleh orang lain saking anehnya- itulah yang mungkin mempersatukan kami. Oke. Kami memang berbeda. Tapi kalau sudah becanda,semuanya jadi nyambung. Sepertinya kami memang punya radar khusus untuk saling mengerti satu sama lain ketika sedang bercanda.

Kekuatan lainnya adalah kami tidak pernah mengekang. Kami tidak pernah melarang. Ya,kami memang bersahabat. Tapi bukan berarti kami hanya stuckdi sini. Bukan berarti kami tidak boleh berteman dengan yang lainnya. Bukan berarti kami berhak mencampuri setiap urusan personil kami.Silakan. Lakukan apapun yang kami mau. Kalaupun terjadi sesuatu yang tidak diharapkan, itu adalah konsekuensi yang harus kami hadapi. Toh kami sudah bergerak dewasa. Tentu kami punya pertimbangan atas apa yang akan kami lakukan. (tapi belakangan ini saya sering berpikir. Kami adalah sahabat. Tak ada salahnya untuk memperingati jika ada yang salah. Mungkin mekanisme layangan bisa dicoba. Ulur setinggi mungkin. Biarkan melayang. Tarik ketika memang layangan itu akan jatuh…bagaimana dengan teori itu kawan-kawan?)

Apakah persahabatan kami seideal itu? TENTU TIDAK. Kami bukan makhluk setengah dewa. Kami juga kadang saling mengecewakan. Kadang berbeda persepsi. Seringnya kami terlalu cuek satu sama lain (karena pada dasarnya kami memang tipe cuek). Kami juga masih suka jalan-jalan,makan-makan, dan bergosip tentang lelaki.
Lalu apa yang menjadi begitu berbeda?

Seperti yang sudah dijelaskan,saya selalu beranggapan persahabatan semasa SMA hanya sesaat. Ternyata tidak. Bahwa sampai saat ini kami masih bisa keep in touch -walau berbeda universitas,bahkan sudah ada yang merit- adalah sebuah kebanggan tersendiri bagi saya. Bahwa sampai sekarang mereka masih orang yang paling mengerti dan tak pernah menghakimi adalah kekuatan tersendiri bagi saya.

Lebih dari itu, persahabatan ternyata bukan soal seberapa lama kita saling mengenal. Seberapa sering intensitas pertemuan kita. Seberapa mirip kita dengan sahabat. Bagi saya,persahabatan bisa terjalin ketika kita tetap saling menghargai perbedaan. Tak saling menghakimi. dan kesediaan untuk saling berbagi di bawah atap ketulusan.





Mungkin kalian tidak pernah tahu. Tapi aku benar-benar merasa beruntung punya kalian. semoga terus seperti ini. Dan satu hal,kita bukan lagi pendekar pesimis. kita adalah pendekar POPULER NAN POTENSIAL. hahaha. para mutiara itu tak lagi tertutupi lumpur. untuk meong,peyot,chao,depong,momy fitri und our beloved niece nilam, dan anggota ‘baru’ juju brontok. selalu sukaria =p

PEDULI

peduli. satu kata yang menurut saya sangat mahal harganya. tapi masih saja ada orang-orang yang menyepelekannya. padahal kepedulian adalah sifat istimewa yang pernah tuhan berikan pada manusia.apa karena kepedulian itu tidak berbayar sehingga banyak yang tak mengaggungkannya? dianggapnya kepedulian hanya seonggok barang yang diobral di pinggir jalan. serendah itukah pemahaman mereka akan kepedulian? ada yang peduli. ada yang tidak. sial bagi mereka yang mencoba peduli pada mereka yang tak mau peduli. sayang. padahal kepedulian tak punya salah. tapi selalu dipermasalahkan.

CENAYANG

saya bukan cenayang yang bisa memprediksi apa yang akan terjadi di kemudian hari. dulu saya sempat kepingin jadi cenayang. bisa tahu apa yang akan terjadi di masa depan,bisa membaca pikiran orang, bahkan mungkin bisa bertelepati dan melakukan sejenis pelet atau guna-guna merupakan keahlian yang luar biasa. keren membayangkan kita bisa tahu lebih dulu ketimbang orang lain. ada kebanggaan tersendiri jika kita bisa mengetahui pikiran orang lain.sepertinya dunia ada di genggaman kita. selama itu pula saya selalu berpikir bahwa firasat saya kuat. saya seperti bisa membaca apa yang akan terjadi lewat intuisi yang saya miliki. kelak saya tahu bahwa semua itu hanya kebetulan semata. bukan karena gift atau six sense yang tuhan beri.

Menunggu

kapan kamu datang?

atau tidak akan pernah sama sekali?

sudah hampir habis dayaku.

menunggu sambil terus menyulam untaian harap.

aku lebih sering bicara pada cermin karena tak punya lawan bicara.

kapan kamu datang?

atau tidak akan pernah datang sama sekali?

sepucuk surat pun tak pernah kamu layangkan padaku.

atau memang kamu tidak akan pernah datang sama sekali?

kalau memang begitu,beri aku tanda.

biar aku berhenti menunggu.

Kamu dan Jaket Jeans Lusuhmu

Hey, tuan!

Sadarkah kamu bahwa jaket itu sudah tak layak pakai?

Warnanya sudah memudar. Beberapa kancingnya sudah lepas. Belum lagi tambalan perca di sana-sini. Oh, dan wanginya itu…..SUNGGUH APEK!

Tapi kamu keukeuh mempertahankan jaket jeans lusuhmu itu. Kata kamu jaket jeans itu interpretasi dari dirimu sendiri.

BAH!

Bagaimana kamu bisa berpikir jaket lusuh itu interpretasi dirimu sendiri?

Jelas-jelas jaket jeans itu adalah jaket terjelek yang pernah saya lihat. Dan saya jamin, tak ada satu pemulung pun yang mau mengambilnya.

Oh,

Apakah kamu tak mampu membeli jaket baru?

Ah, rasanya tak mungkin.

Okelah,

Saya akan memberimu jaket jeans baru.

Hitung-hitung tanda terima kasih saya pada kamu.

Dan bukankah saya belum memberi hadiah di ulang tahunmu kemarin?

Kemudian, saya pergi mencari jaket jeans baru untukmu.

Kamu sangat berterima kasih ketika saya memberikannya padamu.

Tapi apa yang terjadi?

KAMU TAK PERNAH MEMAKAINYA!

Sialnya,

KAMU TETAP MEMAKAI JAKET JEANS LUSUH DAN APEKMU ITU!

Ah, dasar makhluk EGOIS dan KERAS KEPALA!

Apa salahnya sih mendengarkan masukan dari orang lain?

Lalu kamu berkata:

Apa mengganti jaket begitu penting?

Ya, TENTU SAJA. Apalagi dengan kondisi jaketmu yang sudah tak karuan itu.

Kamu berkata:

Tapi saya sudah nyaman memakai jaket ini. Apakah saya harus menggadaikan kenyamanan saya demi sesuatu yang baru? Demi sesuatu yang bahkan belum tentu nyaman ketika saya memakainya?

Bagaimana kamu tahu jaket itu nyaman atau tidak kalau kamu tidak mencobanya?

Kamu mejawab:

Saya rasa saya tidak perlu mencobanya. Saya sudah merasa puas dengan jaket jeans saya. Selusuh dan sejelek apapun kondisinya.

Tapi belum tentu orang akan berpendapat sama. Lihat jaketmu, sudah lusuh, apek pula!Sungguh tak enak dipandang!

Kamu berseru:

Haruskah saya memedulikan pendapat orang lain? Saya punya hak atas diri saya. Atas apa yang akan saya pakai.

Tapi sayangnya kamu tidak hidup sendiri. Kamu tidak bisa seenaknya sendiri. Lagian apa salahnya sih mencoba sesuatu yang baru? Kalau toh kamu tak menyukainya, kamu bisa menggantinya dengan yang lama. Iya kan?

Kalau pada akhirnya saya tak menyukai dan memilih untuk memakai jaket jeans saya yang dulu, kenapa saya mesti repot-repot mencoba yang baru?

Ah, kamu ini! Memang susah dikasih tahu.