Tuesday, September 21, 2010

Lovely Lottie

Rambutnya telah memutih dan kulitnya sudah keriput. Usianya memang tak muda lagi. Tapi sisa-sisa kecantikan masih tergaris di wajahnya. Mengenakan setelan batik berwarna biru, ia tampak sehat dan segar sore itu. Dengan ramah dia menyapa saya dalam bahasa Inggris, “what do you do for study?”. Saya menjawab, “journalism ”. Lalu dia berkata, “great. I was a journalist too”. Ternyata, Ia telah menjadi jurnalis sejak tahun 1954. Dari data yang saya dapat, ia merupakan jurnalis di sebuah koran bernama Indonesian Observer.Koran berbahasa Inggris ini diterbitkan oleh Herawati Diah, istri pemilik perusahaan penerbitan Merdeka Press Muhammad B.M Diah. Ia juga pernah meliput Konferensi Asia-Afrika yang diselenggarakan di Bandung pada tahun 1955.

Percakapan terpaksa harus berakhir karena kami berdua dipanggil ke ruang tengah. Sore itu, Rabu 15 September 2010, saya dan rekan-rekan dari Komunitas Aleut mengadakan pemutaran film dokumenter berjudul “Indonesia Calling”. Selain pemutaran film, kami juga kedatangan tamu dari negeri Wood, Charlotte Maramis. Ya, ia adalah perempuan yang sempat berbincang dengan saya tadi. Tante Lottie-panggilan akrab Charlotte Maramis-tidak datang sendiri. Ia ditemani Mas Votti dan Mbak Ratih Luhur, keduanya adalah orang Indonesia yang tergabung dalam AIA (Australia Indonesia Asociation)-sebuah asosiasi yang misi utamanya adalah menjalin persahabatan antara Australia dan Indonesia. Selain ke Bandung, mereka juga akan mengadakan acara serupa di beberapa kota, yakni Jakarta, Bali, dan Menado.

Tak lama kemudian, film pun diputar. Indonesia Calling merupakan film dokumenter besutan sutradara asal Australia, Joris Ivens. Film yang diproduksi tahun 1946 ini bercerita tentang pergerakan warga Indonesia di Australia untuk mencapai kemerdekaan. Warga Indonesia-yang mayoritas bekerja sebagai buruh pelayaran- meminta pihak Australia memboykot kapal-kapal Belanda yang melewati perairan Australia karena membawa persenjataan untuk melawan Indonesia. Tanpa disangka, Australia menyetujui permintaan tersebut. Selain itu, dukungan juga datang dari para buruh asal India, Malaysia, dan China. Mereka menolak menjadi ABK kapal-kapal milik Belanda. Film berdurasi 22 menit ini menyuguhkan berbagai adegan pergerakan yang dilakukan para buruh Indonesia di Australia.

Setelah selesai menonton, kami mengadakan sharing. Tante Lottie memberikan kesempatan pada kami untuk bertanya seputar film atau kehidupannya bersama sang suami, Anton Maramis. Mungkin tidak banyak yang tahu jika Tante Lottie merupakan istri dari Anton Maramis, salah satu pejuang Indonesia yang juga seorang anggota KNIPpada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Anton Maramis adalah warga Indonesia asli Menado yang bekerja sebagai buruh di perusahaan pelayaran Belanda, KPM. Pada tahun 1942, ia pergi ke Australia bersama kapal Belanda. Di Negara inilah, tepatnya di Sydney, aktivitas politiknya dimulai. Ia tergabung dalam Indonesian Club-sebuah perkumpulan serikat pekerja Indonesia di Australia. Indonesian Club lambat laun menjadi sebuah wadah untuk menyalurkan aspirasi para pejuang kemerdekaan di Australia. Anton Maramis beserta rekan-rekannya mencari dukungan dari warga Australia untuk membantu perjuangan mereka. Di sanalah Anton bertemu dengan Charlotte. Namun aktivitas politiknya di Indonesian Club membuat Anton Maramis dideportasi dari Australia. pasangan ini pun terpaksa harus berpisah. Setahun setelah dideportasi, Anton Maramis kembali ke Australia dan menikahi Charlotte.

Karena anggota Aleut yang lain malu-malu kucing, saya pun memberanikan diri untuk mengajukan pendapat soal film Indonesia Calling. setelah menonton film documenter tersebut, saya baru tahu kalau ternyata warga Indonesia di Australia juga melakukan pergerakan. Selama ini, saya hanya mendengar pergerakan para pribumi yang sekolah di negeri Kincir Angin. Pengetahuan saya tentang masa pergerakan mungkin memang minim, tapi ini kali pertama saya mengetahui kenyataan tersebut. saya kemudian bertanya-tanya: kok jarang sekali ya saya membaca buku sejarah tentang pergerakan warga Indonesia di Australia? kemana saja saya selama ini? Atau memang tak ada yang peduli tentang peristiwa tersebut? Ah, entahlah. Setidaknya saya tahu sekarang. Never too old to know, right?

Sharing dilanjutkan kembali. Meskipun Tante Lottie berbicara dengan bahasa Inggris, untungnya ia mengerti bahasa Indonesia. Jadi kami tak perlu repot-repot membuka kamus untuk menerjemahkan pertanyaan-pertanyaan kami. Sang kordinator, Indra Pratama, lalu mengajukan pertanyaan pada Tante Lottie. Indra menanyakan pengalaman Tante Lottie sewaktu berpapasan muka di depan toilet dengan Chou En- Lai ketika meliput Konferensi Asia Afrika. Dengan semangat Tante Lottie menceritakan pengalamannya. Meskipun usianya sudah menginjak kepala delapan, Tante Lottie tetap ingat kejadian berpuluh-puluh tahun yang lalu. Mata hijaunya berbinar ketika Tante Lottie menceritakan masa indahnya bersama sang suami.

Bang Ridwan kemudian bertanya mengapa Tante Lottie begitu cinta terhadap Indonesia, mengalahkan kecintaan generasi muda Indonesia pada negaranya sendiri. Tante Lottie lalu menceritakan bahwa kecintaannya pada sesama berasal dari nasihat ayahnya. Bahwa kita ini sama, apapun bentuknya, seperti apapun warna kulitnya. Mendengar penjelasannya, kami langsung terharu sekaligus mendapat pencerahan.

Kecintaan Charlotte Maramis pada Indonesia tak terhenti meskipun suaminya telah berpulang ke haribaan. Sampai detik ini, ia masih memiliki kepedulian terhadap Negara kita. Salah satu wujud kepedulian Tante Lottie adalah dengan membangun sekolah bagi orang buta di Menado. Ia juga menulis buku tentang pergerakan yang dilakukan oleh suaminya serta pengalamannya selama hidup di Jakarta. Banyak sekali pengalaman dan pelajaran yang dapat saya ambil dari Tante Lottie. Sedikit banyak pasti bermanfaat bagi saya. khususnya mengenai rasa kecintaan dan bentuk kepedulian terhadap sesama. Thanks for sharing with us, Tante Lottie. Such an honour and how lovely you are =)

Thanks to Mbak Ratih and Mas Votti from AIA. Terima kasih juga untuk Mbak Kuke dan Bang Nara yang sudah mengabadikan momen-momen bersejarah ini.












Wednesday, August 4, 2010

Si Parasit

Si Parasit datang lagi.
Merongrong tubuh inang.
Menghisap jiwanya,
Mati tak mau, hidup pun segan.

Si Parasit datang lagi.
Terus meremukkan inang.
Menyerap semua tenaga,
sampai inang layu mengering.

daunnya meranggas,
akarnya kekurangan air,
tangkainya patah,
batangnya limbung,

si inang sekarat.
dasar parasit bangsat!
terkutuk kau parasit busuk!




"untuknya yang sudah tak saya anggap lagi sebagai bagian hidup"

Wednesday, July 28, 2010

Janin

“Saya tidak bisa melakukan ini,”
“Ayolah, kita sudah membicarakan ini! Kita sudah sepakat untuk melakukannya! Hari sudah semakin gelap. Ayo kita masuk! “
“Saya…saya tidak bisa. Bukan, bukan. Saya tidak mau! Ini tidak akan berhasil, sayang…Tidak akan!Apa yang kita lakukan hanya akan memperburuk keadaan. Tidak akan mengubah apapun…”
“Maria, ayolah, jangan mengacaukan semuanya!”
“Sudahlah,Muhammad. Saya mau pulang!”
“Saya mohon Maria…Ayo kita masuk!Ini demi hubungan kita…DEMI KITA!!!”
“Kamu egois! Ini bukan hanya tentang KITA. Bagimana dengan orang-orang di sekitar kita? Bagaimana reaksi orang tua kita kalau tahu saya hamil di luar nikah?”
“Tapi ini satu-satunya cara agar kita bisa bersama, Maria! Demi tuhan,kenapa kamu jadi goyah seperti ini? Kita sudah merencanakan semua, ingat? Kita sengaja menanamkan janin di rahimmu agar bisa terus bersama! Ini satu-satunya cara agar tidak ada lagi yang menghalangi hubungan kita…”
” Rencana kita? Ini rencanamu! Saya setuju karena saya tidak berpikir jernih. Tapi setelah dipikir-pikir, ini bukan satu-satunya cara. Saya tidak akan pernah memberitahu mereka,”
“Kenapa kamu berubah seperti ini?”
“Kamu mau tahu alasannya Muhammadku sayang? Kalau saya melangkahkan kaki ke sana, ke rumah orang tua saya… kalau mereka sampai tahu saya hamil, saya jamin mereka akan lebih mengutuki kita. bukan hanya kita, melainkan juga janin yang ada di dalam kandungan saya…”
“…”
“Dan apa kamu pernah memikirkan bagaimana nasib janin ini? Jika dilahirkan, sampai kapanpun dia akan dianggap sebagai anak haram! Saya tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya nanti. ..seumur hidup dia akan dihina…anak haram, anak haram! istilah itu akan terus menempel di pundaknya sampai dia mati… saya tidak sanggup… “
“…”
“kalau sampai lahir, janin ini akan kebingungan. apakah akan mengikuti ibunya pergi misa atau mengikuti ayahnya berpuasa? dia tidak akan diterima oleh kakek-nenek mereka. apalagi jika ia memilih kepercayaan yang tak sesuai dengan keyakinan mereka…dan kita akan terus bertikai seumur hidup. terus saling curiga. baik secara langsung maupun tidak, kita akan terus mengintervensinya agar mengikuti jejak keyakinan kita… “
“itu tidak akan terjadi, Maria. Kita sudah sepakat akan membiarkan janin ini yang memilih…”
“saya ragu, sayang. Sekarang saja kita sudah egois seperti ini. Buktinya, tidak ada di antara kita yang mau mengalah. Apalagi nanti, sepuluh dua puluh tahun yang akan datang? Kita pasti ingin dia mewarisi nilai-nilai keagamaan kita… “
“Saya tidak tahu harus berkata apa. yang jelas saya melakukan ini demi kita. saya mencintai kamu, Maria! Saya akan lakukan apapun agar kita bersama…”
” ah, terlambat semuanya!kita telah melakukan kesalahan…andai saja bisa kembali ke masa lalu, saya pasti tidak akan bermain api seperti ini. demi tuhan, saya mencintai kamu, Muhammad. satu-satunya hal yang bisa membuat saya tetap hidup adalah dengan mencintai kamu… “
“…”
“bukankah seharusnya cinta adalah hal terhebat yang pernah tuhan ciptakan? Bukankah cinta milik siapa saja tanpa mengenal rongga perbedaan? bukankah ia yang menyuruh kita agar mencintai dengan tulus? Bukankah semua yang ada di muka bumi adalah kuasa-Nya, rencana-Nya? Bukankah berarti pertemuan kita termasuk ke dalamnya? kenapa tuhan sungguh tak adil? Mengapa Dia membuat kita menderita, padahal Ia yang merencanakan semua ini?”
“lalu apa yang harus kita lakukan? APA? Apa saya harus dibaptis agar kita bisa bersama? Katakan, Maria!”
“JANGAN LAKUKAN ITU, MUHAMMAD! saya tidak mau kamu dicap murtad oleh kaummu.tidak ada jalan keluar…selain ini…”
“Maria kamu mau kemana?”

“Saya mencintai janin ini, kamu harus tahu itu. ”
“Maria, JANGAN GILA KAMU! ngapain kamu ke tengah jalan gitu?? Maria ada mobil di belakangmu! Maria kemarii….Mariaaa…..mariaaaa…!!!”
BRAK!!!

percakapan: egosime, realitas, dan pikiran jahat yang kerap menguasai otak

X : saya terlalu egois. salah nggak sih ?

Y: ga salah ko, egois memang udah sifat dasar manusia buatan.

X: tapi ini beda. BEDA. I have problem in here...jiwa dan otak saya. sinting. ARGH!

Y: Ya baguslah mikirin diri sendiri? daripada mikirin orang lain yang belum jelas juntrungannya. diri sendiri aja blum bener malah sok-sokan mikirin orang lain. hahahaha. mungkin seperti itu.

X: tapi saya super egois. terlalu mikirin diri sendiri tanpa pernah mikirin bagaimana dampaknya sama orang lain. di satu sisi saya harus egois. ini pelarian saya. haduuuhhh, saya ngomong apa lagi? sinting emang sinting.

Y: mungkin otak dendrit yang sudah retak. mungkin sja sekumpulan sensorik yang ingin berontak. little rebel gitu, hahahaha.

X: mungkin. dan ini, egoisme saya ini, selalu saya anggap sebagai bentuk pemberontakan. saya capek. saya bingung. saya nggak tau diri saya yang sebenarnya. saya merasa nggak bahagia. saya nggak tau. saya takut...

Y: aneh. disini, kamu membuat takut dirti kamu sendiri akan sesuatu yang belum pasti ke depannya. sepintar-pintarnya kamu nyari kebahagiaan, kamu nggak bakal nemuin itu. karena sebenarnya kebahagiaan itu ada disekeliling kamu. tanpa kamu sadari, kamu tidak akan pernah bahagia apabila kamu tidak pernah puas. sebenarnya ini cuma pemikiran-pemikiran kamu aja yang membuat kamu berpikir seperti itu.

X: kenapa sih saya gini? saya takut. saya selalu ngerasa nggak bahagia, sendiorian, gundah. saya kenapa sih? astagfirullah... aneh, aneh, aneh! saya nggak mau mikir gini, demi Allah. saya nggak mau suudzon sama Allah. tapi kadang saya suka nggak habis pikir kenapa Allah menghadapkan ini sama saya. kadang saya marah sama Allah. kadang saya merwasa ini yang disebut ujian untuk naik "level". nggak tau absurd gini...

Y: yang baik menurut km belum tentu baik menurut tuhan, berlaku juga sebaliknya. karena tuhan punya rahasia sendiri untuk para umatnya. itu cuma pikiran kamu aja yang ngebuat kamu berpikir seperti itu. semakin kamu berpikir seperti itu, semakin kamu yakin akan hal itu. pikiran menguasai tingkah laku pemiliknya.

X: SO WHAT IS GOING ON WITH MY MIND? kenapa saya mikirnya gini terus? saya nggak mau mikir gini terus. apa saya terlalu idealis? jadi begitu semua nggak sesuai saya jatoh ke jurang paling dalam. saya nggak terima kenyataan?atau APA? mau nangiiiss....dari dulu saya gini terus. saya nggak tau mesti gimana. ngomong sama siapa. am freak. sumpah! sinting ah!

Y: jalan keluarnya gampang kok. kalau kamu nggak mau berpikir seperti itu, ya nggak usah berpikir seperti itu. simple

X : i have problem with myself. i always know that. but i couldn't tell anyone. they will not understand. so do you. no one could. coz am the only one who know the way out. karena semua tergantung saya kan? saya cuma manusia biasa. saya bukan tipe orang yang bisa cerita tentang hal pribadi ke semua orang. tapi kadang saya butuh teman bicara. thanks for listenig. danke.

percakapan: egosime, realitas, dan pikiran jahat yang kerap menguasai otak

X : saya terlalu egois. salah nggak sih ?

Y: ga salah ko, egois memang udah sifat dasar manusia buatan.

X: tapi ini beda. BEDA. I have problem in here...jiwa dan otak saya. sinting. ARGH!

Y: Ya baguslah mikirin diri sendiri? daripada mikirin orang lain yang belum jelas juntrungannya. diri sendiri aja blum bener malah sok-sokan mikirin orang lain. hahahaha. mungkin seperti itu.

X: tapi saya super egois. terlalu mikirin diri sendiri tanpa pernah mikirin bagaimana dampaknya sama orang lain. di satu sisi saya harus egois. ini pelarian saya. haduuuhhh, saya ngomong apa lagi? sinting emang sinting.

Y: mungkin otak dendrit yang sudah retak. mungkin sja sekumpulan sensorik yang ingin berontak. little rebel gitu, hahahaha.

X: mungkin. dan ini, egoisme saya ini, selalu saya anggap sebagai bentuk pemberontakan. saya capek. saya bingung. saya nggak tau diri saya yang sebenarnya. saya merasa nggak bahagia. saya nggak tau. saya takut...

Y: itu ada disekeliling kamu. tanpa kamu sadari, kamu tidak akan pernah bahagia apabila kamu tidak pernah puas. sebenarnya ini cuma pemikiran-pemikiran kamu aja yang membuat kamu berpikir seperti itu.

X: kenapa sih saya gini? saya takut. saya selalu ngerasa nggak bahagia, sendiorian, gundah. saya kenapa sih? astagfirullah... aneh, aneh, aneh! saya nggak mau mikir gini, demi Allah. saya nggak mau suudzon sama Allah. tapi kadang saya suka nggak habis pikir kenapa Allah menghadapkan ini sama saya. kadang saya marah sama Allah. kadang saya merwasa ini yang disebut ujian untuk naik "level". nggak tau absurd gini...

Y: yang baik menurut km belum tentu baik menurut tuhan, berlaku juga sebaliknya. karena tuhan punya rahasia sendiri untuk para umatnya. itu cuma pikiran kamu aja yang ngebuat kamu berpikir seperti itu. semakin kamu berpikir seperti itu, semakin kamu yakin akan hal itu. pikiran menguasai tingkah laku pemiliknya.

X: SO WHAT IS GOING ON WITH MY MIND? kenapa saya mikirnya gini terus? saya nggak mau mikir gini terus. apa saya terlalu idealis? jadi begitu semua nggak sesuai saya jatoh ke jurang paling dalam. saya nggak terima kenyataan?atau APA? mau nangiiiss....dari dulu saya gini terus. saya nggak tau mesti gimana. ngomong sama siapa. am freak. sumpah! sinting ah!

Y: jalan keluarnya gampang kok. kalau kamu nggak mau berpikir seperti itu, ya nggak usah berpikir seperti itu. simple

X : i have problem with myself. i always know that. but i couldn't tell anyone. they will not understand. so do you. no one could. coz am the only one who know the way out. karena semua tergantung saya kan? saya cuma manusia biasa. saya bukan tipe orang yang bisa cerita tentang hal pribadi ke semua orang. tapi kadang saya butuh teman bicara. thanks for listenig. danke.

percakapan: egosime, realitas, dan pikiran jahat yang kerap menguasai otak

X : saya terlalu egois. salah nggak sih ?

Y: ga salah ko, egois memang udah sifat dasar manusia buatan.

X: tapi ini beda. BEDA. I have problem in here...jiwa dan otak saya. sinting. ARGH!

Y: Ya baguslah mikirin diri sendiri? daripada mikirin orang lain yang belum jelas juntrungannya. diri sendiri aja blum bener malah sok-sokan mikirin orang lain. hahahaha. mungkin seperti itu.

X: tapi saya super egois. terlalu mikirin diri sendiri tanpa pernah mikirin bagaimana dampaknya sama orang lain. di satu sisi saya harus egois. ini pelarian saya. haduuuhhh, saya ngomong apa lagi? sinting emang sinting.

Y: mungkin otak dendrit yang sudah retak. mungkin sja sekumpulan sensorik yang ingin berontak. little rebel gitu, hahahaha.

X: mungkin. dan ini, egoisme saya ini, selalu saya anggap sebagai bentuk pemberontakan. saya capek. saya bingung. saya nggak tau diri saya yang sebenarnya. saya merasa nggak bahagia. saya nggak tau. saya takut...

Y: itu ada disekeliling kamu. tanpa kamu sadari, kamu tidak akan pernah bahagia apabila kamu tidak pernah puas. sebenarnya ini cuma pemikiran-pemikiran kamu aja yang membuat kamu berpikir seperti itu.

X: kenapa sih saya gini? saya takut. saya selalu ngerasa nggak bahagia, sendiorian, gundah. saya kenapa sih? astagfirullah... aneh, aneh, aneh! saya nggak mau mikir gini, demi Allah. saya nggak mau suudzon sama Allah. tapi kadang saya suka nggak habis pikir kenapa Allah menghadapkan ini sama saya. kadang saya marah sama Allah. kadang saya merwasa ini yang disebut ujian untuk naik "level". nggak tau absurd gini...

Y: yang baik menurut km belum tentu baik menurut tuhan, berlaku juga sebaliknya. karena tuhan punya rahasia sendiri untuk para umatnya. itu cuma pikiran kamu aja yang ngebuat kamu berpikir seperti itu. semakin kamu berpikir seperti itu, semakin kamu yakin akan hal itu. pikiran menguasai tingkah laku pemiliknya.

X: SO WHAT IS GOING ON WITH MY MIND? kenapa saya mikirnya gini terus? saya nggak mau mikir gini terus. apa saya terlalu idealis? jadi begitu semua nggak sesuai saya jatoh ke jurang paling dalam. saya nggak terima kenyataan?atau APA? mau nangiiiss....dari dulu saya gini terus. saya nggak tau mesti gimana. ngomong sama siapa. am freak. sumpah! sinting ah!

Y: jalan keluarnya gampang kok. kalau kamu nggak mau berpikir seperti itu, ya nggak usah berpikir seperti itu. simple

X : i have problem with myself. i always know that. but i couldn't tell anyone. they will not understand. so do you. no one could. coz am the only one who know the way out. karena semua tergantung saya kan? saya cuma manusia biasa. saya bukan tipe orang yang bisa cerita tentang hal pribadi ke semua orang. tapi kadang saya butuh teman bicara. thanks for listenig. danke.

Saturday, July 17, 2010

Cakra dan Lysa: I Remember (edisi 3)

Akhir Desember, satu tahun yang lalu

PUTUS

P-U-T-U-S

Satu kata yang mungkin paling dihindari oleh mereka yang sedang memadu romansa. Atau sebaliknya, mungkin kata itulah yang paling ingin diucapkan ketika dua sejoli sedang dalam nelangsa. However, Breaking up with your oh-so-called-beloved-boyfriend/girlfriend is sucks, rite? Apalagi ketika kamu masih cinta padanya. Apalagi ketika kamu (sialnya) diputuskan karena alasan-alasan yang klise.

“Satu tahun bukan waktu yang sebentar, Lysa …aku takut kita nggak berhasil melewati ini,”

“Seingatku,selama hampir dua tahun pacaran, kita long distance. Lalu apa bedanya?”

“Aku akan ke Jepang Lysa, bukan di Depok!”

“ Apa gunanya manusia menciptakan teknologi bernama telepon dan internet? Kita kan masih bisa telepon, chatting, video call…kok kamu jadi ragu gini sih? Bukannya selama ini kamu yang selalu meyakinkanku kalau jarak bukan penghalang? ”

“Aku sedang fokus dengan kuliahku, Lysa…justru aku nggak mau nyakitin kamu. Kamu tau kan aku sibuk, banyak kegiatan. Aku takut nggak bisa menjadi pacar yang baik karena nggak bisa membagi waktu… ”

“Dan kamu baru bilang itu sekarang, setelah dua tahun kita pacaran? What a cliché! Is there any logic reason, Rahyang Sadewa??? You know what, You’re such a selfish person!”

“Yeah, I am. Sorry,”

“Ok, I got the point then…it’s over now. ”

“Am sorry, we’re still a friend, aren’t we?”

“Hmm,yeah, of course…”

Kenapa lelaki sering sekali memberi alasan klise ketika akan memutuskan pacarnya? Kalau memang sudah jenuh, bosan, jengah, tak cinta, atau suka sama perempuan lain, ya katakan saja! Apa susahnya sih? I know that most of women love white lies. But for me, knowing the truth is better. Even it will kills me.

Tapi ya sudahlah. Saya bukan tipe pemaksa. Saya tidak akan memaksa dia untuk tetap disini. Sebuah hubungan harus didasari atas kemauan dua orang. Kalau salah satu sudah tidak mau, ya mau apalagi?

Moreover, plenty of fish in the sea.

He’ll replacable.

I’ll fine without him.

Tidak percaya?

Hmm,oke, tidak semudah itu juga sih menggantikan posisi Rahyang.

Hmm baiklah, saya mengaku. Saya tidak baik-baik saja.

My two years relationship is over.

And the worst part is,

I’m still loving him.

ARGH!

Hari-hari berikutnya saya habiskan dengan mengurung diri di kamar. Terbukti, saya memang gadis sok kuat dengan tingkat kegengsian di atas rata-rata.

Januari

“ Welcome, new year! It’s time to forget the past and start a new life. What’s your resolutions then?”

“None.”

“Ayolah Licong...masa kamu nggak punya resolusi sih?”

“Memang harus punya resolusi? Memang ada peraturan yang mewajibkan manusia membuat resolusi tiap awal tahun?”

“Widih, galak amat Bu! Ya nggak ada peraturannya sih. Tapi kan dengan punya resolusi, kamu jadi punya target. Hal-hal apa saja yang akan kamu lakukan untuk memperbaiki diri dari tahun sebelumnya. It’ll be motivating you though…” jelas Teh Jingga sambil menyalakan rokok di tangannya.

“Jadi, apa resolusi kamu?” lanjut Teh Jingga.

“Tidak akan jatuh cinta untuk jangka waktu yang tidak ditentukan. There’s no such thing as love , “

Teh Jingga kemudian menatap wajah saya lekat-lekat.

“Masih keingetan Rahyang?”

“…”

“Hhh…Licong Sayang…kamu kayak nggak pernah ngerasain patah hati aja sebelumnya. Bukankah itu konsekuensi dari mencintai? Jadi jangan bilang nggak akan jatuh cinta lagi…Pamali lho!”

“Hhh..kenapa saya kemaren mau-maunya mengantarkan Rahyang ke bandara? Argh…bodohnya!”

“Itu membuktikan kalau kamu masih peduli sama dia,”

“Ya tapi buat apa peduli sama orang yang jelas-jelas tidak memedulikan kita lagi? Lagian kok saya mau-maunya ngikutin permintaan dia! Toh itu tidak akan membuat dia kembali sama saya… ”

“Hmm, kalau bagi teteh sih, kepedulian yang didasari oleh ketulusan sudah lebih dari cukup ketimbang terus memikirkan bagaimana cara agar orang itu peduli pada kita. Terkadang memang kita harus puas dengan memberi,tanpa pernah diberi. Tapi ya kamu juga benar. Kadang-kadang segala sesuatu harus seimbang. What we usually called: take and give…ribet ya? Hahaha… udah ah Cong, jangan sedih terus. Kita nongkrong-nongkrong aja mendingan, yuk!”

“lagi nggak mood,”

“ayolaaaahhhh….kita ngopi-ngopi di daerah Dago atas”

“kan saya nggak suka kopi,”

“Heuh kamu mah meuni sagala nggak suka. Coklat, es krim, kopi…pantes aja badan kamu kurus gitu. Ya udah lah kita sightseeing di sana…”

“Hmm…ya udah, ”

***

Selasar Art Space selalu menjadi tempat favorit Teh Jingga. Ia bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengamati lukisan dan karya seni yang dipamerkan disana, menyaksikan pertunjukkan para seniman di amphitheatre, atau sekedar menikmati city view sambil menyeruput capucinno. Sepertinya Selasar Art Space juga akan menjadi tempat favorit saya. Jujur, saya langsung jatuh hati begitu pertama kali datang ke galeri tersebut.

“Serius baru pertama kali datang ke sini?” Tanya Teh Jingga dengan tatapan tak percaya. Saya mengangguk,

“You know that am not a café person…”

“it’s not just a café. . .it’s an art gallery! You ought to come to this place since a long long time ago,”

“Haha. Udah sejak lama ingin kemari. Tapi nggak pernah ada temen…I’m not that ‘’GAUL”, you know that…”

“That’s why I invite you to this place, ”

“Thanks for inviting me then ,such an honour for me, Mrs.Jingga .. “

“Wah, kayaknya lagi ada performance di amphiteathre…lihat ke sana yuk?” seru Teh
Jingga seraya mengajak saya ke tempat tersebut. Begitu sampai kesana, kami melihat seorang perempuan tengah membacakan puisi di atas panggung.

“Rame juga penontonnya. Ada acara apa sih Teh?”

“Nggak tau. Bentar Teteh Tanya dulu,” Teh Jingga kemudian bertanya kepada orang yang duduk disebelahnya.

“Anak FSRD lagi ngadain pameran seni rupa gitu katanya di tempat ini. Pertunjukkan disini juga salah satu rangkaian acara mereka katanya…”

“Oh…”

“Mau liat pamerannya nggak? Skalian ngeceng-ngeceng sama anak FSRD…ha ha ha,” seru
Teh Jingga

“Haha. Liat pamerannya sih mau. Tapi untuk ngeceng-ngecengnya nggak deh!”

“Duh, yang lagi patah hati…plenty of fish in the sea darling, believe me…!”
Saya Cuma tersenyum simpul sambil kembali memperhatikan jalannya acara. Tiba-tiba pandangan saya terhenti pada satu titik. Mata saya terfokus pada sesosok manusia yang sedang berdiri di pinggir panggung. Saya perhatikan sosok itu lekat-lekat. Sepertinya saya tak asing dengan sosok tersebut…


YA TUHAN!

“Eh, kita pesen makan yuk…Teteh udah laper nih,” Ujar Teh Jingga seraya beranjak dari tempat tersebut.

“Hmmm, Teh toilet dimana sih? Teteh duluan aja, saya mau ke toilet dulu. Nggak apa-apa kan?”

Teh Jingga mengangguk sambil menunjukkan arah toilet. Setelah Teh Jingga pergi, saya kemudian mendekati panggung.

“Cakra?”

Lelaki itu menoleh.

“Lysa! Wow, kita ketemu lagi! Lagi ngapain di sini?”

“Hahaha, such a coincidence again! Sepupu saya lagi ingin ngopi, jadi saya temenin deh. Kamu sendiri?”

“there’s no such thing as coincidence! Fakultas saya lagi ngadain pameran seni rupa gitu. Nah, saya jadi panitia sekaligus pengisi acara. Eh, saya udah disuruh tampil nih. Kamu jangan kemana-mana ya! Jangan ngilang kayak pas lomba foto waktu itu!”
Saya mengangguk.

“Eh, beneran! Jangan kemana-mana! Saya tampil Cuma 15 menit kok,”
Saya mengangguk lagi.

Cakra naik ke atas panggung sambil membawa gitar. Bersama dengan tiga temannya, ia membawakan beberapa buah lagu secara akustik. Well, I’m starting to believe that there’s no such thing as a coincidence! Tiga kali sudah kami bertemu di tempat yang tak terduga. There must be something behind our rendezvous. Something called destiny, maybe?

Anyway, lelaki bernama Cakra itu, selain jago memotret juga ternyata mahir bermain gitar. Saya sedang terhanyut dengan penampilan Cakra dan bandnya ketika tiba-tiba ponsel saya berdering.

“Heh, kamu lagi ngapain sih? Kok ke toilet lama banget??? ”

Ya ampun, Teh Jingga!

“Eh, teteh maaafff…..saya ketemu temen disini. Dia minta saya untuk liat performance nya. Ya udah bentar lagi saya ke sana ya selesai dia manggung. Atau teteh mau kesini?”

“Oh ya udah kamu liat aja dulu. Teteh juga lagi hotspotan kok…”

“Ok Teh, makasih ya. Nanti kalau udah selesai saya langsung ke sana ya…”

Klik.

Cakra baru saja menyelesaikan lagu terakhirnya. Tak lama kemudian dia turun dari panggung dan menghampiri saya.

“Ternyata kamu anak band juga?”

“Haha. Ya begitulah. Mengisi waktu luang. Sama kayak fotografi, iseng-iseng aja. Daripada nggak ada kegiatan,”

“Kenapa nggak diseriusin aja? Seems like you’re potential in those fields”

“ Saya sama anak-anak juga lagi mau buat EP. Kalau untuk fotografi sendiri, jujur aja, saya mulai berpikir untuk menggelutinya secara serius. Apalagi setelah ikut lomba kemarin,”

“Baguslah kalau begitu! Ohya, hadiahnya dipakai buat apa? Secara dapet lima juta….hahahaha”

“Sebagian saya tabung buat beli lensa. Sebagian lagi saya kasih buat Bu Ratna,”

“Bu Ratna? Ibu kamu?”

“Bukan, bukan. Ibu Ratna itu objek yang ada di foto saya. Kamu masih inget kan foto saya? Setelah peristiwa KDRT itu, saya membawa beliau ke sebuah LSM. Beliau nggak punya saudara di Bandung. Nggak punya tempat tinggal, nggak punya kerjaan… Saya emang nggak bisa ngasih banyak. Tapi setidaknya beliau bisa menyambung hidupnya. Kadang saya ngerasa bersalah. Saya motret seseorang yang lagi kena musibah, trus saya dapet juara lagi. Seperti mendapat keuntungan di atas penderitaan orang lain, ”

“Tapi kan kamu nggak sengaja ketemu Bu Ratna? Lagian bagi Bu Ratna, mungkin kamu adalah penyelamat hidupnya…Trus gimana keadaan Bu Ratna dan anak-anaknya? Beliau tinggal dimana sekarang?”

“Bu Ratna masih tinggal di Rumah Pelangi. Dari hari itu saya belum sempat mengunjungi Bu Ratna lagi. Malah saya baru mau ngasih uang itu besok…Kamu mau ikut? Ya kali aja kamu nggak ada kegiatan. Kalau nggak salah, besok juga akan ada gathering… kamu bisa cari tau soal KDRT dan sebagainya. Nyambung juga kan sama kuliah kamu?”

“Liconnngg, udah selesai belum urusannya? Teteh sendirian nih di sana…” tiba-tiba terdengar suara Teh Jingga memanggil nama saya.

“Udah kok Teh…eh iya, kenalin ini temen saya, Cakra. Cakra, kenalin ini Jingga, sepupu saya.”

Mereka pun berkenalan.

“Hmm…ohya, Cakra, sepertinya menarik. Tapi lihat besok deh ya! Kalau gitu saya duluan ya. Terima kasih atas tawarannya,“

“Oke. Saya minta nomer handphone kamu deh,biar besok gampang kabar-kabarinya.”
Kami bertukar nomor ponsel. Setelah itu saya beranjak dari tempat tersebut. Teh Jingga langsung menginterogasi saya dengan berbagai pertanyaan.

“Kok kamu nggak cerita punya temen sekeren itu?”

“Orang baru kenal juga kok Teh…”

“Kenal dimana? ”

“Wah bingung juga nyeritainnya…” saya kemudian menjelaskan asal mula mengenal Cakra.

“Aneh bangeeet!!! Terus dia minta nomer hape kamu buat apa? Cieeeeeeeee…”

“Cie kenapa lagi ini? Dia mau ngajakin saya ke LSM besok. Ah,tapi saya nggak akan terima tawaran dia. Kenal aja belum, ”

***

Akhirnya saya menerima ajakan Cakra. He’s stranger, I know. Tapi tawarannya memang menarik. Dia mengajak saya ke tempat yang selalu saya ingin kunjungi. Dia juga terlihat seperti orang baik-baik. Selain pintar, multitalenta…

Oke,oke. Cukup!

Sebenarnya, keputusan ini juga tidak diambil sembarangan. Saya telah berkonsultasi dengan Madam Jingga mengenai hal ini. Dia malah mendukung saya dengan kata-kata mujarabnya:

“ Kapan lagi kamu jalan bareng sama lelaki keren kayak gitu! Kalau Teteh jadi kamu, udah teteh terima ajakannya langsung…”

“Terus gimana kalau sebenarnya dia adalah agen penjualan organ tubuh illegal? Gimana kalau Saya diculik terus dimutilasi? Gimana kalau jantung dan mata saya dicongkel?”

“Hush, kamu kebanyakan nonton sinetron! jangan berpikiran negatif gitu ah! Kamu tetep terima tawaran dia. Kalau ada apa-apa langsung hubungi teteh ya! Kalau dia mulai bertindak aneh-aneh, langsung teriak aja! Lari sekencang-kencangnya!”
Keesokan harinya, saya bertemu Cakra di daerah Dipati Ukur. Ia sedang menunggu di halte bis ketika saya datang. Ia mengenakan kaos hitam berlapiskan kemeja flannel, celana jeans yang bagian lututnya sobek, serta sepatu converse classic. Sambil mengucir rambut sebahunya, dia menyapa saya.

“Hei, apa kabar Lysa?” ujarnya ramah. Matanya membentuk garis horizontal ketika tertawa. Semilir wangi parfum lelaki langsung tercium begitu saya mendekatinya. Well, saya baru sadar kalau dia (ternyata) memang ganteng. Tipe lelaki sejati; manly, cuek, tapi tetap terlihat keren.

“Baik. Berangkat sekarang?”

“Boleh. Yuk!” jawab Cakra sambil mematikan rokoknya. Ia kemudian mengajak saya ke parkiran motor yang tak jauh dari halte bis.

“Perkenalkan, ini Annelis. Annelis ini pacar pertama saya,” kata Cakra sambil menunjukkan motornya.

“Hahaha”

“Kok ketawa sih? Perkenalkan diri dulu dong ke pacar saya. Kalau nggak memperkenalkan diri nanti dia ngambek lho! Kalau dia mogok kan kita yang repot… ” seru Cakra dengan tampang serius.

“Masa? Oh, oke kalau begitu. Halo Annelis, saya Lysa. Salam kenal! ”
Saya kemudian mengambil helm dari tangan Cakra dan naik ke atas motornya.

Tiba-tiba Cakra memekik,

“Haduh…siaaaaallll!!!”

“Kenapa Cakra? Ada masalah?”

“Annelis nggak mau nyala. Tuh, benar kan dugaan saya. Dia pasti ngambek!”

“Ya ampun, terus kita mesti gimana nih?”

“Kita mesti melakukan ritual supaya Annelis nggak ngambek!’

“Ritual apa?”

“Ritual Annelis. Gini nih,” Cakra lalu turun dan berjalan ke depan motornya. “Nona Annelis, Lysa ini Cuma teman hamba. Makanya nyala dong! Terima kasih Nona, kecup sayang dari hamba. Mmuaaaaccchh,” Ia kemudian membungkukan badannya dan memberi
semacam penghormatan kepada Annelis.

Saya hanya terpaku. Lebih tepatnya melongo tak percaya. Dasar kelakuan seniman. Senang berimajinasi.

“Ayo giliran kamu sekarang!”

“Jangan bercanda ah kamu! ”

“Saya nggak becanda. Kamu mau ke Rumah Pelangi sambil jalan kaki?” jawabnya dengan
tampang serius.

Akhirnya saya menuruti kata Cakra. Saya turun dari motor dan mulai melakukan Ritual Annelis.

“Jangan lupa kata kunci: Nona Annelis, hamba, dan kecup sayang!”

“Halo Nona Annelis…Hamba, Lysa…hmmm…ayo nyala dong Nona, saya…eh, Hamba janji nggak akan apa-apain pacar Nona…hmm…Kecup sayang dari…dari Lysabrina Alveriza…mmuuaaahh,” ujar saya sambil membungkukan badan.

Cakra kemudian tertawa terbahak-bahak.

“Tuhkaaaaannn, saya dikerjain ya???”

“Hahahahahahahahaha,”

“Gini ya perlakuan kamu sama orang yang baru dikenal?”

“Maaafff……duuuh, saya kan Cuma becanda…lagian kok mau-maunya dikerjain gitu? Salah
gue? Salah temen-temen gue? Hahahaha…”

“Siaaaal!”

“Ayo ah kita berangkat, cukup becandanya.”

“Grrr…..Awas aja pembalasan saya nanti!”

***

Rumah Pelangi adalah sebuah LSM yang memfokuskan kegiatannya pada para korban KDRT. Rumah Pelangi merupakan tempat mengadu, berbagi, dan berlindung bagi para perempuan dan anak-anak yang mengalami KDRT. Di sini juga terdapat healing process bagi mereka yang mengalami trauma pasca KDRT. Setiap satu bulan sekali, Rumah Pelangi mengadakan gathering. Selain sesi sharing, gathering ini juga biasanya dimeriahkan oleh pameran dan pertunjukkan seni.

“Pamerannya macem-macem…ada pameran makanan, handycraft, macem-macem deh. Biasanya yang bikin anggota LSM. Yang beli juga mereka-mereka lagi. Meskipun Rumah Pelangi tergolong LSM kecil, tapi perkembangannya sangat masif. Bahkan Mbak Lastri pernah mengundang Menteri Pemberdayaan Wanita ke gathering lho, ”papar Cakra.

“Wow…! Mbak Lastri pemilik LSM ini?”

“Ya. Nanti saya kenalin. Kamu pasti suka ngobrol sama dia. Orangnya asyik dan inspiring,”

“Kamu kok tau banyak soal Rumah Pelangi? Kamu aktivis disini juga? Jujur, saya baru tau ada tempat seperti ini di Bandung.”

“Nggak, saya bukan aktivis Rumah Pelangi kok. Saya juga tau tempat ini dari seorang teman. Kebetulan dia pernah jadi aktivis di sini.”

“Oh memang sekarang teman kamu kemana?”

“Dia sudah pindah ke luar kota. Eh, itu Mbak Lastri. Kita kesana yuk!” kata Cakra seraya menghampiri Mbak Lastri yang sedang sibuk mendekorasi ruangan. Mbak Lastri adalah seorang wanita berusia sekitar akhir 20-an. Wajahnya ayu, rambutnya tergerai lurus sebahu, kulitnya kuning langsat, tubuhnya sintal, fashionable, dan terlihat sangat well educated. Jika bertemu Mbak Lastri di tempat lain, saya mungkin akan mengira ia seorang CEO di sebuah perusahaan besar dengan gaji puluhan juta rupiah. Bukan seorang aktivis di sebuah LSM kecil seperti ini.

“Mbak Lastri, apa kabar? ”

“Eh Cakra…sudah lama ya nggak ketemu. Baik banget, kamu sendiri gimana?”

“Baik juga…Mbak, kenalin ini temen saya, Lysa.”

Saya pun mengulurkan tangan sambil memperkenalkan diri.

“Lysa,”

Bukannya membalas uluran tangan saya, Mbak Lastri malah terpaku. Dia mengamati saya dari ujung kepala sampai ujung kaki.

“Ada apa Mbak?” Tanya saya hati-hati.

“Eh, maaf...Nggak kenapa-kenapa. Halo Lysa, saya Lastri. Salam kenal ya…kamu teman sekampus Cakra?” kata Mbak Lastri sambil membalas uluran tangan saya.

“Bukan Mbak, saya kuliah di Fakultas Hukum.”

“Lysa, kalau kamu ingin tau seputar KDRT atau hak perempuan, bisa Tanya-tanya ke Mbak Lastri lho…” terang Cakra.

“Kamu tertarik juga dengan isu KDRT, Lysa?”

“Ya, Mbak. Tapi saya masih awam. Nggak tau apa-apa soal hak perempuan, isu KDRT, dan sebagainya.”

“Ya udah, kalau kamu mau diskusi mengenai hal itu, langsung aja datang kesini…nanti kita bisa sharing. Kalau kamu mau aktif di Rumah Pelangi juga boleh banget…” kata Mbak Lastri sambil tersenyum ramah.

“Makasih, Mbak. Dengan senang hati,” jawab saya sambil membalas senyuman Mbak Lastri.

“Kalian mau ikut gathering hari ini kan?” Tanya Mbak Lastri.

“Iya, Mbak. Ohya, gimana keadaan Bu Ratna?” jawab Cakra.

“Bu Ratna baik…Lukanya udah sembuh. Bahkan beliau bikin kue kering untuk dipamerkan hari ini. Galih juga baik-baik aja. Tapi Jaka masih belum mau bicara sama orang lain. Dia suka sekali menyendiri. Takut bertemu dengan orang lain. Jaka juga dipukuli oleh ayahnya, makanya dia terlihat sangat trauma. Saya dan pengurus lain juga sudah melakukan berbagai healing. Kami juga sudah konsultasi dengan psikolog anak mengenai masalah ini. Trauma pasca KDRT memang butuh penanganan khusus…Hhh, sekali lagi, saya tak habis pikir dengan para lelaki. Kok mereka tega menyakiti anak dan istrinya sendiri?”

“Terus suaminya sendiri sekarang dimana?” Tanya Cakra lagi.

“Tak lama setelah kamu membawa Bu Ratna kesini, seorang tetangganya datang. Dia berkata kalau suami Bu Ratna marah-marah waktu tau anak dan istrinya kabur…bahkan sampai mengancam akan membunuh siapa saja yang menyembunyikan keberadaan Bu Ratna,”

“Tapi tetangganya nggak bilang kan kalau Bu Ratna disini?”

“Nggak, kok. Setelah itu suami Bu Ratna menghilang. Terakhir saya dapat kabar kalau suaminya dipenjara karena melakukan pencurian,”

“Tindak KDRT-nya sendiri tidak dipidana?”

“Tidak. Bu Ratna sendiri yang meminta kami untuk tidak memperpanjang masalah ini. Padahal, saya dan pengurus Rumah Pelangi akan melaporkan masalah ini ke pihak berwajib. Sama seperti korban KDRT lainnya, kebanyakan mereka takut melaporkan suaminya ke polisi. Mereka takut suaminya akan balas dendam ketika keluar dari penjara. Mereka berani datang ke LSM untuk mengadu saja sudah terbilang bagus. Di luar sana, masih banyak para korban KDRT yang bungkam suara. Mereka lebih baik disiksa ketimbang harus kehilangan cinta dan nafkah. Padahal KDRT adalah tindak pidana. Para korban KDRT juga sebenarnya mendapatkan perlindungan. Inilah yang terus saya sosialisasikan kepada para korban KDRT.”

Mendangar penjelasan Mbak Lastri, pikiran saya langsung melayang-layang. Melesat cepat ke alam bawah sadar. Tiba-tiba penglihatan saya kabur. Dada saya sesak. Kepala saya mendadak pusing. Saya kemudian tak sadarkan diri.

Monday, July 5, 2010

Kupanggil Namamu-WS. Rendra

Sambil menyeberangi sepi
kupanggil namamu, wanitaku
Apakah kau tak mendengarku?

Malam yang berkeluh kesah
memeluk jiwaku yang payah
yang resah
kerna memberontak terhadap rumah
memberontak terhadap adat yang latah
dan akhirnya tergoda cakrawala.

Sia-sia kucari pancaran sinar matamu.
Ingin kuingat lagi bau tubuhmu
yang kini sudah kulupa.
Sia-sia
Tak ada yang bisa kujangkau
Sempurnalah kesepianku.

Angin pemberontakan
menyerang langit dan bumi.
Dan dua belas ekor serigala
muncul dari masa silam
merobek-robek hatiku yang celaka.

Berulang kali kupanggil namamu
Di manakah engkau, wanitaku?
Apakah engkau juga menjadi masa silamku?
Kupanggil namamu.
Kupanggil namamu.
Kerna engkau rumah di lembah.
Dan Tuhan ?
Tuhan adalah seniman tak terduga
yang selalu sebagai sediakala
hanya memperdulikan hal yang besar saja.

Seribu jari dari masa silam
menuding kepadaku.
Tidak
Aku tak bisa kembali.

Sambil terus memanggil namamu
amarah pemberontakanku yang suci
bangkit dengan perkasa malam ini
dan menghamburkan diri ke cakrawala
yang sebagai gadis telanjang
membukakan diri padaku
Penuh. Dan Prawan.

Keheningan sesudah itu
sebagai telaga besar yang beku
dan aku pun beku di tepinya.
Wajahku. Lihatlah, wajahku.
Terkaca di keheningan.
Berdarah dan luka-luka
dicakar masa silamku.

Is love an art? Is love an art? based on book :The Art of loving by Eric Fromm Share

This peculiar attitude is based on several premises which either singly or combined tend to uphold it. Most people see the problem of love primarily as that of being loved rather than that of loving, of one’s capacity to love. Hence the problem to them is how to be loved, how to be lovable. In pursuit of this aim they follow several paths. One, which is especially used by men, is to be successful, to be as powerful and rich as the social margin of one’s position permits. An-other, used especially by women, is to make oneself attractive, by cultivating one’s body, dress, etc. Other ways of making, oneself attractive, used both by men and women, are to develop pleasant manners, interesting conversation, to be helpful, modest, inoffensive. Many of the ways to make oneself lovable are the same as those used to make oneself successful, “to win friends and influence people.” As a matter of fact, what most people in our culture mean by being lovable is essentially a mixture between being popular and having sex appeal.

A second premise behind the attitude that there is nothing to be learned about love is the assumption that the problem of love is the problem of an object, not the problem of a faculty. People think that to love is simple, but that to find the right object to love—or to be loved by—is difficult. This attitude has several reasons rooted in the development of modem society. One reason is the great change which occurred in the twentieth century with respect to the choice of a “love object.”



danke fur Kang Kondoi…=)

Tuhan Sembilan Senti-Taufik Ismail (Puisi Bagi Para Perokok)

Indonesia adalah sorga luar biasa ramah bagi perokok,
tapi tempat siksa tak tertahankan bagi orang yang tak merokok,
Di sawah petani merokok,
di pabrik pekerja merokok,
di kantor pegawai merokok,
di kabinet menteri merokok,
di reses parlemen anggota DPR merokok,
Di angkot Kijang penumpang merokok,
di bis kota sumpek yang berdiri yang duduk orang bertanding merokok,
di loket penjualan karcis orang merokok,
di kereta api penuh sesak orang festival merokok,
di kapal penyeberangan antar pulau penumpang merokok,
di andong Yogya kusirnya merokok, sampai kabarnya kuda andong minta
diajari pula merokok,
Negeri kita ini sungguh nirwana kayangan para dewa-dewa bagi perokok,
tapi tempat cobaan sangat berat bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai
kita,
Di pasar orang merokok,
di warung Tegal pengunjung merokok,
di restoran, di toko buku orang merokok,
di kafe di diskotik para pengunjung merokok,
Bercakap-cakap kita jarak setengah meter tak tertahankan asap rokok,
bayangkan isteri-isteri yang bertahun-tahun menderita di kamar tidur
ketika melayani para suami yang bau mulut dan hidungnya mirip asbak
rokok,
Duduk kita di tepi tempat tidur ketika dua orang bergumul saling
menularkan HIV-AIDS sesamanya,
tapi kita tidak ketularan penyakitnya.
Duduk kita disebelah orang yang dengan cueknya mengepulkan asap rokok
di kantor atau di stopan bus,
kita ketularan penyakitnya.
Nikotin lebih jahat penularannya ketimbang HIV-AIDS,
Indonesia adalah sorga kultur pengembangbiakan nikotin paling subur
di dunia, dan kita yang tak langsung menghirup sekali pun asap
tembakau itu, bisa ketularan kena,
Di puskesmas pedesaan orang kampung merokok,
di apotik yang antri obat merokok,
di panti pijat tamu-tamu disilahkan merokok,
di ruang tunggu dokter pasien merokok,
dan ada juga dokter-dokter merokok,
Istirahat main tenis orang merokok,
di pinggir lapangan voli orang merokok,
menyandang raket badminton orang merokok,
pemain bola PSSI sembunyi-sembunyi merokok,
panitia pertandingan balap mobil, pertandingan bulutangkis, turnamen
sepakbola mengemis-ngemis mencium kaki sponsor perusahaan rokok,
Di kamar kecil 12 meter kubik, sambil 'ek-'ek orang goblok merokok,
di dalam lift gedung 15 tingkat dengan tak acuh orang goblok merokok,
di ruang sidang ber-AC penuh, dengan cueknya, pakai dasi, orang-
orang goblok merokok,
Indonesia adalah semacam firdaus-jannatu- na'im sangat ramah bagi
orang perokok,
tapi tempat siksa kubur hidup-hidup bagi orang yang tak merokok,
Rokok telah menjadi dewa, berhala, tuhan baru, diam-diam menguasai
kita,
Di sebuah ruang sidang ber-AC penuh, duduk sejumlah ulama terhormat
merujuk kitab kuning dan mempersiapkan sejumlah fatwa.
Mereka ulama ahli hisap.
Haasaba, yuhaasibu, hisaaban.
Bukan ahli hisab ilmu falak,
tapi ahli hisap rokok.
Di antara jari telunjuk dan jari tengah mereka terselip berhala-
berhala kecil,
sembilan senti panjangnya,
putih warnanya,
kemana-mana dibawa dengan setia,
satu kantong dengan kalung tasbih 99 butirnya,
Mengintip kita dari balik jendela ruang sidang,
tampak kebanyakan mereka memegang rokok dengan tangan kanan,
cuma sedikit yang memegang dengan tangan kiri.
Inikah gerangan pertanda yang terbanyak kelompok ashabul yamiin dan
yang sedikit golongan ashabus syimaal?
Asap rokok mereka mengepul-ngepul di ruangan AC penuh itu.
Mamnu'ut tadkhiin, ya ustadz. Laa tasyrabud dukhaan, ya ustadz.
Kyai, ini ruangan ber-AC penuh.
Haadzihi al ghurfati malii'atun bi mukayyafi al hawwa'i.
Kalau tak tahan, di luar itu sajalah merokok.
Laa taqtuluu anfusakum. Min fadhlik, ya ustadz.
25 penyakit ada dalam khamr. Khamr diharamkan.
15 penyakit ada dalam daging khinzir (babi). Daging khinzir
diharamkan.
4000 zat kimia beracun ada pada sebatang rokok. Patutnya rokok
diapakan?
Tak perlu dijawab sekarang, ya ustadz. Wa yuharrimu 'alayhimul
khabaaith.
Mohon ini direnungkan tenang-tenang, karena pada zaman Rasulullah
dahulu, sudah ada alkohol, sudah ada babi, tapi belum ada rokok.
Jadi ini PR untuk para ulama.
Tapi jangan karena ustadz ketagihan rokok,
lantas hukumnya jadi dimakruh-makruhkan, jangan,
Para ulama ahli hisap itu terkejut mendengar perbandingan ini.
Banyak yang diam-diam membunuh tuhan-tuhan kecil yang kepalanya
berapi itu,
yaitu ujung rokok mereka.
Kini mereka berfikir. Biarkan mereka berfikir.
Asap rokok di ruangan ber-AC itu makin pengap, dan ada yang mulai
terbatuk-batuk,
Pada saat sajak ini dibacakan malam hari ini,
sejak tadi pagi sudah 120 orang di Indonesia mati karena penyakit
rokok.
Korban penyakit rokok lebih dahsyat ketimbang korban kecelakaan lalu
lintas,
lebih gawat ketimbang bencana banjir, gempa bumi dan longsor,
cuma setingkat di bawah korban narkoba,
Pada saat sajak ini dibacakan, berhala-berhala kecil itu sangat
berkuasa di negara kita,
jutaan jumlahnya,
bersembunyi di dalam kantong baju dan celana,
dibungkus dalam kertas berwarni dan berwarna,
diiklankan dengan indah dan cerdasnya,
Tidak perlu wudhu atau tayammum menyucikan diri,
tidak perlu ruku' dan sujud untuk taqarrub pada tuhan-tuhan ini,
karena orang akan khusyuk dan fana dalam nikmat lewat upacara
menyalakan api dan sesajen asap tuhan-tuhan ini,
Rabbana, beri kami kekuatan menghadapi berhala-berhala ini.

Sepasang Kekasih yang Pertama Bercinta di Luar Angkasa-Frau

Direntang waktu yang berjejal dan memburai, kau berikan,
sepasang tanganmu terbuka dan membiru, enggan
Di gigir yang curam dan dunia yang tertinggal dan membeku
Sungguh, peta melesap dan udara yang terbakar jauh

Kita adalah sepasang kekasih yang pertama bercinta di luar angkasa
seperti takkan pernah pulang (yang menghilang)
Kau membias di udara dan terhempaskan cahaya
Seperti takkan pernah pulang, ketuk langkahmu menarilah di jauh permukaan
Jalan pulang yang menghilang, tertulis dan menghilang, karena kita, sebab kita, telah bercinta di luar angkasa

Mesin Penenun Hujan-Frau

Merakit mesin penenun hujan, hingga terjalin terbentuk awan
Semua tentang kebalikan, terlukis, tertulis, tergaris di wajahmu

Keputusan yang tak terputuskan, ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan, kebalikan di antara kita

Kau sakiti aku, kau gerami aku
Kau sakiti, gerami, kau benci aku
Tetapi esok nanti kau akan tersadar
Kau temukan seorang lain yang lebih baik
Dan aku kan hilang, ku kan jadi hujan
Tapi takkan lama, ku kan jadi awan

Merakit mesin penenun hujan, ketika engkau telah tunjukkan
Semua tentang kebalikan, kebalikan di antara kita

There's no such thing as coincidence (again)

all i know that everything happens for a reason.
i’m here for some reasons,
so do the people.
so do you.
we haven’t known yet,
so,enjoy the show then..

Nuansa

tubuh sintalmu yang menebarkan wangi kayu manis,
rambut kucir kudamu yang selalu memperlihatkan leher jenjang nan menggoda,
bibir penuh yang semakin seksi ketika kau menghisap rokok.
pahatan sempurna.
maha karya agung.

sadarkah kau selalu menjadi objek fantasiku?
aku dibuat orgasme hanya dengan membayangkan lekuk tubuhmu.
ah, apalagi kalau aku benar ada di sana.
menggigit cuping telingamu,
sampai kau geli
sampai kau candu.
minta lagi dan lagi.


tidak, tidak.
aku bukan lelaki brengsek yang hanya tergiur buah dadamu.
lebih dari itu, aku memang mengagumimu.
getaran-getaran yang sulit dideskripsikan datang ketika kau mendekatiku
kalimat "buterflies in my stomach" memang benar adanya.
perutku keram, sakit, mual, ketika berbicara denganmu.

Nuansa,
namamu begitu indah.
indahkah juga bila aku yang ada di sana?
sayang,aku hanya bisa memandang dari kejauhan.

nuansa sayangku,
ah betapa aku ingin memanggilmu demikian.
sayang, aku harus puas dengan memanggilmu "kakak ipar"

Celoteh Busuk: Romansa Masa Muda

romansa masa muda
melenakan
wangi yang memabukkan
bergeliat
berbinar
keluar dari cangkang
bisa suka,hati hati petaka
semoga langkah terarah
agar tak punah

Thursday, July 1, 2010

Puisi-puisi Ada Apa Dengan Cinta?

"PUISI RANGGA I"

Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karena cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
yang berdinding kelam dan kedinginan
Ada apa dengannya
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
dari mata seorang hawa
Ada apa dengan cinta

Tapi aku pasti akan kembali
dalam satu purnama
untuk mempertanyakan kembali cintanya..

Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku
Karena aku ingin kamu
Itu saja.







"PUISI RANGGA II"

Kulari ke hutan kemudian menyanyiku
kulari ke pantai kemudian teriakku
sepi, sepi dan sendiri
aku benci

Aku ngin bingar
aku mau di pasar
bosan aku dengan penat
dan enyah saja kau pekat
seperti berjelaga
jika ku sendiri

Pecahkan saja gelasnya
biar ramai
biar mengaduh sampai gaduh

Ah...ada malaikat menyulam
jaring laba-laba belang
di tembok keraton putih
kenapa tak goyangkan saja loncengnya
biar terdera

Atau aku harus lari ke hutan
belok ke pantai .........

Puisi-puisi Soe Hoek Gie

Sebuah Tanya

“akhirnya semua akan tiba
pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih berbicara selembut dahulu?
memintaku minum susu dan tidur yang lelap?
sambil membenarkan letak leher kemejaku”

(kabut tipis pun turun pelan-pelan di lembah kasih, lembah mendala wangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin)

“apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika ku dekap kau, dekaplah lebih mesra, lebih dekat”

(lampu-lampu berkelipan di jakarta yang sepi, kota kita berdua, yang tua dan terlena dalam mimpinya. kau dan aku berbicara. tanpa kata, tanpa suara ketika malam yang basah menyelimuti jakarta kita)

“apakah kau masih akan berkata, kudengar derap jantungmu. kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta?”

(haripun menjadi malam, kulihat semuanya menjadi muram. wajah2 yang tidak kita kenal berbicara dalam bahasa yang tidak kita mengerti. seperti kabut pagi itu)

“manisku, aku akan jalan terus
membawa kenangan-kenangan dan harapan-harapan
bersama hidup yang begitu biru”






(Puisi Gie)

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

Thursday, June 17, 2010

Berlindung di Pulau Tidung

Sekilas Tentang Tidung

Pulau Tidung merupakan salah satu pulau yang terdapat di kawasan Kepulauan Seribu. Pulau ini memiliki panjang sekitar 5 km dan lebar sekitar 200 m. Pulau tersebut terbagi menjadi dua bagian yakni Tidung Besar dan Tidung Kecil. Tidung besar merupakan pulau utama dengan penduduk sekitar 4000 jiwa. Menurut saya, pulau Tidung Besar sudah cukup established. Selain rumah penduduk, di pulau ini juga terdapat taman, sekolah dasar, kantor polisi, SMK, Madrasah, puskesmas, GOR, dan kantor polisi. Semua bangunan tertata apik dengan arsitektur minimalis yang saat ini sedang populer. Hampir semua jalan setapak tertutupi paving block.Dari hasil pengamatan saya, selain menjadi nelayan, banyak juga penduduk yang berprofesi sebagai pegawai pemerintahan, guru, dan tentu saja agen wisata.

Tidung Besar dan Tidung Kecil dihubungkan oleh sebuah jembatan kayu yang panjang (saya tidak tahu pasti jaraknya karena memang memiliki kesulitan dalam urusan hitung-menghitung). Suasana berbeda langsung terasa begitu memasuki Tidung Kecil. Pulau ini masih berupa hutan meskipun sudah ada jalan setapak yang terbuat dari paving block. Kawasan Tidung Kecil memang dikhususkan untuk perkembangbiakan Mangrove. Maka tak heran jika tidak ada penduduk yang tinggal di pulau tersebut.

Menurut penduduk setempat, Pulau Tidung ditemukan oleh orang Melayu ratusan tahun yang lalu. Nama “Tidung” sendiri berasal dari Bahasa Melayu yang berarti “tempat berlindung”. Konon katanya, pada zaman penjajahan, banyak pejuang yang berlindung di Tidung karena penjajah tidak bisa “melihat” pulau tersebut. Saya juga tidak mengerti kenapa si penjajah tak bisa melihat pulau itu. Maybe it was related to mystic things or something? Konon katanya lagi, di Tidung Kecil terdapat makam si penemu pulau. Sayang, saya tidak sempat mengecek lokasi makam keramat tersebut.Jadi saya tidak tahu apakah makam keramat tersebut benar adanya atau tidak.

Itulah sekilas tentang Pulau Tidung, sekarang berlanjut ke kisah perjalanan saya bersama teman-teman di pulau tersebut =)

Perjalanan dimulai =)

Perjalanan saya bersama rekan-rekan Jurnalistik ke Pulau Tidung dimulai dari Jatinangor. Senin (7/11) siang, kami pergi ke Jakarta dengan menggunakan bis Prima Jasa dari Cileunyi. Rencananya kami akan menginap satu malam di rumah seorang teman,Haffiyan, sebelum menyebrang dengan kapal laut dari Muara Angke. Jadwal keberangkatan kapal ke Pulau Tidung memang tidak sembarangan. Pada hari kerja, kapal hanya pergi satu kali sehari tiap pukul tujuh pagi. Sedangkan pada akhir pekan, kapal pergi tiga kali sehari (tapi sayang saya lupa jadwal keberangkatannya). Karena kami pergi pada hari kerja, maka menginap sehari sebelumnya di Jakarta adalah solusi tepat agar tidak ketinggalan kapal keesokan harinya. Sekitar pukul 18.00 kami sampai di rumah Haffiyan di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Pusat. Di rumah Haffiyan, kami disuguhi makan malam yang lezat oleh ibunya. Sambil menunggu rekan lainnya (yang berdomisili di Jakarta) datang, kami pun berbelanja makanan ringan di grocery store. Setelah berbelanja, kami pulang dan beristirahat karena harus bangun pagi-pagi.

Terima kasih untuk keluarga Haffiyan karena mau menampung ke-lima belas orang mahasiswa yang penuh “semangat” ini.


Biaya:

Bis Prima Jasa Cileunyi-Jakarta : Rp. 26.000,-

Bis Mayasari (terminal Pasar Rebo-rumah Haffiyan) : Rp. 2.500,-

Snack : sesuai kebutuhan


Tips :

1. Pastikan jadwal keberangkatan. Dari mulai tanggal keberangkatan sampai pulang. Jangan lupa, jadwal keberangkatan kapal harus diperhatikan baik-baik. saran saya sih, lebih baik pergi saat weekdays. Meskipun harus naik kapal laut pagi-pagi, tapi pengunjung ke Tidung tidak terlalu ramai. Kita pun bisa lebih menikmati liburan karena tidak berdesakan dengan pengunjung lain…=)

2. Jika pergi bersama teman, tentukan meeting point. Pastikan lokasi meeting point tidak terlalu jauh dari dermaga ( Muara Angke/ Tangerang). Jika naik angkutan umum, pastikan akses transportasi mudah dijangkau. Lebih aman lagi kalau kita pergi ke dermaga dengan kendaraan pribadi.

3. Bawa perlengkapan pribadi sesuai dengan kebutuhan. Di Tidung terdapat banyak warung kecil. Jadi kalau makanan/peralatan mandi habis bisa dibeli di warung tersebut.


1st Day Trip : Benar-benar “Berlindung” di Pulau Tidung

Keesokan harinya, sekitar pukul lima pagi, kami pun berangkat ke Muara Angke. Karena jarak yang cukup jauh, dengan baik hati keluarga Haffiyan mengantarkan kami ke dermaga tersebut dengan menggunakan mobil pick up ! Dua mobil pick up dikerahkan untuk mengantarkan kami berenam belas.



ini adalah kali pertama saya naik pick up, di Jakarta pula! untung kami berangkat pagi-pagi jadi terbebas dari macet dan polusi kendaraan bermotor. it was totally fun! =)

Sekitar pukul enam pagi kami sampai di Muara Angke. Setelah mendaftarkan diri di seorang ABK, kami langsung menaiki kapal. Perjalanan dari Muara Angke ke Tidung memakan waktu sekitar tiga jam. Mendengar akan terombang-ambing di lautan selama tiga jam, saya langsung minum obat anti mabuk laut (saya bukan tipe orang yang gampang mabuk kendaraan, tapi antisipasi kan tidak ada salahnya =D). Pukul tujuh kami meninggalkan Muara Angke dan berlayar menuju Tidung…

Tiga jam kemudian kami sampai di Dermaga Pulau Tidung. Begitu menginjakkan kaki di Tidung, ekspetasi saya langsung berubah. Saya pikir Tidung adalah virgin island dengan suasana privasi yang kental. Ternyata di Pulau ini banyak penduduknya! Selain itu, saya juga melihat banyak sampah berserakan di sekitar pantainya. Wah, sayang sekali pemandangan secantik itu rusak karena tumpukan sampah…=(

Seorang guide sudah menunggu di dermaga. Ia kemudian mengantarkan kami ke penginapan. Tempat menginap kami bukan cottege atau hotel, melainkan rumah penduduk yang di sulap menjadi penginapan. Rumah yang kami tempati terdiri dari tiga kamar (satu tidak berkamar mandi), ruang tengah, dan ruang tamu. TV dan AC juga tersedia disini. Sayang, bagian belakang rumah menyatu dengan si pemilik. AC juga saling berbagi. Katanya sih, penginapan ini merupakan penginapan yang fasilitasnya lebih baik dibanding penginapan lain. Ya sudahlah, yang penting muat untuk 16 orang =)

Begitu sampai ke penginapan, kami baru sadar kalau tidak ada jaringan komunikasi di Pulau Tidung. Hanya ada satu tower provider di pulau ini. Sialnya, tower tersebut tersambar petir. Haha, benar-benar “berlindung” di Pulau Tidung…

Setelah beristirahat, sore harinya kami mulai berpetualang. Karena jarak dari penginapan ke pantai cukup jauh, kami pun menyewa sepeda. Jadi teringat zaman SD nih naik sepeda cinta…



perjalanan ke pantai barat.bagus kan pemandangannya…?seperti tim Laskar Pelangi. Hahaha.


Pantai Timur merupakan pantai yang menjadi objek wisata di Pulau Tidung. Kami pun bersepeda ke sana. Tapi ternyata kami salah jalan! Bukannya bersepeda ke arah timur, kami malah bersepeda ke arah barat. Kami pun berputar arah dan melanjutkan perjalanan ke arah timur. Jarak dari pantai barat ke timur lumayan jauh. Fiuh, capek juga naik sepeda…Tap langsung terbayar begitu sampai di pantai timur.




bagus banget kan pemandangannya??? Kata penduduk lokal, jembatan ini disebut “jembatan cinta”.


Kami langsung berfoto-foto di jembatan itu. Saya dan beberapa teman kemudian nekat “nyemplung” ke laut. Untung lautnya dangkal, jadi kami tak tenggelam…



it was fun =)

Setelah puas bermain di pantai, kami pun pulang ke penginapan. Rencananya, besok kami akan snorkelling di pantai ini.

Biaya

Kapal Muara Angke-Tidung : Rp.33.000,-

Penginapan :

Rp.600.000,- / malam x 2 hari = 1.200.000 dibagi 16 orang = Rp.75.000


Makan :

Rp.15.000,-/ hari x 6 kali makan = 90.000

Sewa sepeda :

Rp.15.000,- / hari x 2 hari + uang guide Rp.2000,-/hari : Rp.34.000,-

Tips

1. kalau mabuk laut, jangan lupa untuk minum obat anti mabuk laut! Antisipasi selama perjalanan.

2. Tempat saya menginap termasuk mahal. Kabarnya sih ada penginapan yang dibandrol seharga 300 ribu per malamnya. Pandai-pandai mencari tempat penginapan (nego kalo perlu!)

3. semakin banyak orang yang ikut, semakin murah harga jatuh sewa penginapannya.

4. Menurut saya sih, harga satu kali makan terlalu mahal. Tapi memang rata-rata segitu. Jumlah waktu Makan disesuaikan dengan berapa lama kita menginap. Tinggal disesuaikan saja. Kalau jago lobby sih, sekalian kita yang memilih menunya…karena saya kemarin tidak bisa memilih menu. Jadi seperti beli kucing dalam karung. he he he.

5. Disarankan menyewa sepeda. Jarak ke pantai cukup jauh. Kalau mau ngirit sih boleh, tapi tidak tanggung kalau badan encok-encok sesudahnya…he he.



2nd day Trip : Meet Mr. Lepo


Hari kedua kami snorkeling di kawasan pantai timur. Wow, saya excited sekali! Ini kali pertama saya snorkelling di laut. Jadi agak deg-degan dan takut tenggelam. Padahal saya sudah memakai perlengkapan menyelam seperti goggle, sepatu katak, dan life jacket.




sebelum berangkat snorkelling. Lengkap dengan segala peralatan menyelam =)





berpose dulu sebelum snorkelling di laut ! foto diambil menggunakan Instax milik Andini Patricia =)

Awlnya kami akan snorkelling di Pulau Air. Saya tidak tahu seberapa jauh jarak antara Pulau Tidung dan Pulau Air. Yang pasti, kita harus menyewa kapal untuk ke Pulau Air. Namun karena masalah finasial, akhirnya kami membatalkan rencana tersebut. Padahal sebenarnya, kawasan Pulau Tidung tidak bisa dijadikan tempat snorkelling karena lautnya yang terbilang dangkal. Tapi ya sudahlah, daripada tidak sama sekali?

Sebelum beraksi di laut,kami diberi petunjuk oleh guide tentang cara snorkelling yang baik dan benar. Setelah itu, kamu pun mulai berpetualang! Kurang lebih 3 jam kami snorkeliing dan menyaksikan ekosistem yang ada di bawah laut. Wah, cantik sekali ikan-ikannya! Terumbu karang yang terdapat di dalam lautnya besar-besar. But we have to be carefull! Ada beberapa jenis ikan beracun di dalam sana. Misalnya saja ikan lepo dan bulu babi. Jika terserang ikan tersebut, kita akan mengalami kelumpuhan selama empat bulan. Wah, ngeri juga ya…

Setelah selesai snorkeliing, kami pun beristirahat di pesisir pantai. Beberapa teman (termasuk saya) memberanikan diri untuk melompat dari jembatan yang tingginya lima meter ke laut yang memiliki kedalaman lebih dari tiga meter. Awalnya, kami takut mencoba. Bagaimana kalau tenggelam? Bagaimana kalau tidak balik lagi ke permukaan laut? Setelah beberapa teman menceburkan diri, saya pun mencobanya. satu…dua…tiga…BYURRRRR!!!!!! Wah, rasanya sulit dibayangkan! Campuran antara takut, penasaran, sekaligus menyenangkan! Rasanya seperti mau bunuh diri saja! Hahahaha. Untungnya saya pakai pelampung, jadi ketakutan akan tenggelam dapat diminimalisir.

Sedang asyik beristirahat, tiba-tiba salah satu teman saya, Indah, meringis kesakitan. Ternyata telapak kakinya terkena racun ikan Lepo! Wah, kami langsung panik! Racun ikan Lepo kan bisa menyebabkan kelumpuhan! Guide kami mengatakan bahwa Indah terkena serangan racun ikan lepo jenis tembaga. Tapi ia meyakinkan kalau Indahtidak akan kenapa-apa. Ia menjelaskan bahwa ikan lepo terdiri dari berbagai jenis. Ikan Lepo jenis tembaga bisa dibilang memiliki racun yang tidak terlalu berbahaya. Indah kemudian di bawa ke puskesmas terdekat. Untung ia segera dibawa ke puskesmas. Kalau tidak, racunnyamungkin akan menyebar ke seluruh tubuh dan menyerang jantung… :(



akibat terserang ikan lepo. Telapak kakinya sampai dibelek agar racun ikannya bisa dikeluarkan =(

Kami kemudain bertanya pada Indah:

“lho kok bisa terkena serangan ikan Lepo? Bukannya lo pakai sepatu katak ya?”

Ternyata, sepatu katak milik Indah kebesaran. Jadi ketika snorkelling, sepatunya lepas dan menginjak sesuatu. Awalnya, ia pikir menginjak terumbu karang. Ternyata, ia menginjak ikan lepo itu…

Tak lama kemudia kami pun bergegas pulang. Sore harinya, kami kembali ke pantai barat untuk melihat sunset. Sayang, langit hari itu ditutupi oleh awan sehingga mataharinya tak terlihat…




foto edisi persahabatan menggunakan self timer camera.

Matahari pun tenggelam, saatnya kembali ke penginapan…=)


Biaya

sewa alat snorkelling = Rp.35.000,-

sewa kapal * = Rp. 400.000,-

Tips

1. pastikan kita menggunakan perlengkapan menyelam dengan lengkap! Pastikan juga peralatan tersebut tidak rusak.

2. pilih sepatu katak yang ukurannya pas dengan kaki supaya tidak copot ketika snorkelling

3. Jangan lupa pakai sunblock agar kulit tidak terbakar. Labih baik lagi kalau pakai baju penyelam

4. hati-hati terhadap ikan lepo dan bulu babi! Jika terserang ikan jenis tersebut jangan panik! Langsung hubungi tour guide karena dia akan langsung menolong kita.

4. ciri-ciri terserang ikan lepo : kulit akan menjadi kebiruan setelah terserang ikan tersebut.

5. Ayo coba lompat dari jembatan setinggi 5 km! try everyting, at least once in your life…karena mengalahkan rasa takut adalah hal yang paling meyenangkan =)

3rd day trip: Time to go home =(


Kami meninggalkan Tidung sekitar pukul tujuh pagi, masih dengan menggunakan kapal. Perjalanan pulang lebih cepat setengah jam dari pada keberangkatan. Saya mendapat pengalaman baru dan cerita baru lagi dari perjalanan ke Tidung. Sekian catatan perjalanan kali ini, sampai jumpa lagi diperjalanan berikutnya…=)

all pictures are captured by Bagus Dwi Cahyo, Lalitya Hayuningtyas, Haekal Adzani, Ihsan Sitorus, and Anju Christian. Thanks for capturing those of memorable moments. cheers =)

Sunday, May 30, 2010

Secangkir Kopi Pahit.

secangkir kopi yang kau beri,
jangan kau anggap sebagai obat penangkas kantuk.
mata tak pernah lagi mengantuk
menyaksikan ampas tersisa dalam cangkir.

secangkir kopi yang kau beri,
bukan sogokan yang akan melegakan haus.
karena rasa manisnya tersamar
bahkan tak terasa sama sekali.

jangan kau beri lagi,
secangkir kopi lainnya.
lidah kelu,tenggorokan kering,
karena pahitnya tetap tertinggal.


-untuknya yang "memaksaku" meminum"kopi pahit"

Sunday, May 9, 2010

Dialog Ambang Pintu

“tok tok tok…!!!”

ia membuka pintu.

“Hei kamu, saya pikir siapa. Ayo masuk!”

Dia tak bergeming.

Ia mengernyitkan dahi. Bingung.

“Kamu kenapa? Ada masalah? Ayo masuk, di luar dingin! Nanti kamu sakit,”

Dia kemudian berkata,

“saya mau pamit,”

Ia semakin tak menegrti.

“Pamit? Memang kamu mau pergi kemana?”

“Ke tempat dimana saya tidak bisa mencium wangi kamu lagi. Ke tempat dimana saya bisa bernafas lega. selama ini saya selalu merasa sesak ketika berada di dekat kamu,”

“saya tidak mengerti! Kamu kenapa? Kamu sakit? Ada masalah? Ada yang mengganggu kamu? Bilang sama saya! Ada apa?” kata ia seraya membelai wajah perempuan di depannya.

“Cukup! Berhenti bersikap baik pada saya!” seru dia setengah berteriak.

Ia kaget. Ia melepaskan tangannya dari wajah itu.

Keduanya saling memandang.

“sikap baik kamu hanya akan menyulitkan saya…Ah, saya buang-buang waktu di sini. saya harus pergi,” ujar dia sembari beranjak meninggalkan tempat itu.

“sikap baik saya yang mana yang menyulitkan kamu?”

Dia berhenti. Berbalik arah dan menatap wajah ia lekat-lekat.

“Kamu tahu sendiri jawabannya,”

“saya tidak tahu…”

“kamu tahu!”

“saya tidak tahu!”

“Kamu seharusnya tahu!”

“Bagaimana saya bisa tahu kalau kamu tidak pernah memberi tahu?”

“Bagaimana saya bisa memberi tahu kalau kamu tidak pernah memberi saya kesempatan untuk memberi tahu?”

“Kok jadi berputar-putar sih? Ada apa sih ini sebenarnya? maksud kamu mau pergi itu kenapa? memang ada yang salah dengan saya? Kalau kamu keberatan dengan sikap saya selama ini, fine! Tapi jelaskan dulu kenapa kamu merasa seperti itu…saya, saya tidak paham… “

“…”

“…”

Dia menghela nafas. Tak lama kemudian dia berkata,

” Kamu egois. Kamu ingin saya selalu ada di sini. Menjadi penyemangat ketika kamu jatuh. Menjadi sandaran ketika kamu tidur…Tapi tidak pernah ada sedikitpun ruang untuk saya di sana. Hati dan pikiranmu hanya untuk perempuan yang menjadi obsesimu itu. Tak pernah ada saya di sana. Tiap sentuhan dan pelukan yang kamu beri, apa artinya? Tidak ada, kan? Demi tuhan, saya bukan robot. Saya masih punya perasaan, saya masih perempuan biasa. “

“Tapi…” belum sempat ia melanjutkan pembicaraanya, dia telah memotong.

“Saya belum selesai bicara, tolong jangan potong kalimat saya! Hhh… Pasti kamu akan berkata;’lalu kenapa kamu mau? saya tidak pernah memaksa kamu,’…Ya, itu juga yang menjadi pertanyaan saya selama kita bersama. Katakanlah, kepedulian yang terlampau besarlah yang membuat saya terus bertahan di sini. Lalu kemudian saya sadar. Untuk apa saya tetap disini, bersikeras untuk sesuatu yang tak mungkin saya dapatkan? Saya tidak pernah menyesal, sungguh. Saya anggap itu sebagai bentuk kepedulian saya, wujud nyata sebagai makhluk sosial. Sisanya, saya memilih untuk tidak terlibat dalam hidup kamu lagi. Biar tak ada lagi sakit. Biar tak ada lagi beban. Kamu pun bebas, terlepas. “

Dia memeluk ia erat.

“Saya tidak menginginkan apapun, sungguh. Bahkan dalam kasus ini, keinginan saya sudah tak penting lagi. Tapi jika kamu masih memiliki sedikit penghargaan pada perempuan ini, tolong hargai sikap saya. Jangan hubungi saya lagi, terima kasih.” Ujarnya sambil meninggalkan kos-kosan lelaki itu.

Ia hanya terpaku di ambang pintu kamarnya. Tak tahu mesti berbuat apa.

Tuesday, May 4, 2010

Cerita-cerita : Memori Altar

Bangunan ini begitu megah dan sakral. Jendelanya tinggi, dilapisi kepingan mozaik yang memantulkan warna indah. Di dalamnya, puluhan bangku yang terbuat dari kayu Mahoni berderet rapi. Bangku-bangku tersebut menghadap ke arah yang sama; patung sang juru selamat yang terpasung.

Tempat ini semakin cantik dengan dekorasi mawar putih dan hiasan pita berwarna biru di sekelilingnya. Karpet dengan warna senada terhampar dari pintu masuk sampai depan altar. Sepertinya ia tak sabar ingin diinjak sang mempelai yang tak lama lagi memasuki ruangan ini.

Aku berdiri di depan altar. Berdecak kagum dengan apa yang ku lihat. Sempurna. Aku jadi ingat tatapan tak percayamu ketika aku bisa menyewa katedral ini sebagai tempat pemberkatan pernikahan kita.

“Kamu serius? Sekarang kan Bulan Desember, biasanya Katedral itu tidak menerima acara pemberkatan pernikahan!”

“No, I dont. Nih, lihat buktinya…” jawabku seraya menyerahkan selembar kertas padamu. Kamu membacanya keras-keras.

” pernikahan atas nama Mario Wijaya dan Catherine Natasha. Katedral Santa Petrus, 18 Desember… I cant believe it!”

“You have to…”

“Rio…How come? Katedral itu selalu menjadi tempat impian menikahku sedari kecil…dan 18 Desember? aku akan menikah di hari ulang tahunku sendiri? For Christ’s shake…Sayang, aku…aku benar-benar speechless… “

“I will do everything for you, darling…”

Aku berjalan mengitari ruangan. Masih ada waktu setengah jam lagi sebelum pemberkatan dilaksanakan. Tamu pun belum berdatangan. Catherine, apa yang kamu pikirkan ya sekarang? Apa kamu sama gugupnya seperti aku? Huh, sungguh aku tak sabar ingin melihatmu dengan gaun pengantin rancangan desainer favoritmu itu. Sungguh aku tak sabar menyematkan cincin di jari manismu. Sungguh aku ingin segera mengumumkan pada dunia kalau kamu adalah istriku. Milikku.

Pandanganku kemudian tertuju ke pojok ruangan. Di sana terletak sebuah piano tua berwarna hitam. Setelah pemberkatan, aku akan memberikan kejutan untukmu. Aku akan bernyanyi sambil memainkan tuts-tuts piano untukmu. Ya, ya, ya. Mungkin ide ini terlihat konyol. Apalagi kamu tahu suara dan kemampuan bermain pianoku di bawah rata-rata. Apalagi jika dibandingkan dengan kemampuanmu. Tapi hari ini aku akan buktikan. Demi kamu, demi pernikahan kita. Tenang, aku tidak akan membuat tamu undangan kecewa. Kamu tak tahu kan kalau diam-diam aku les piano dan les vokal demi kesuksesan penampilanku nanti?

Kamu tidak pernah menyangka kan kalau aku yang akan menjadi pendampingmu? Pada awalnya juga aku berpikir demikian. Tapi bukan Mario namanya kalau tidak bisa mendapatkan yang ia inginkan. Prinsipku, tak ada yang tak mungkin dalam hidup ini. Termasuk untuk mendapatkan hatimu?

“Sinting kamu Mario!”

“Orang jatuh cinta kok dibilang sinting? Apa salah saya cinta sama kamu?”

“Tapi saya sudah punya tunangan! Saya sudah mau jadi istri orang…Kok kamu nekat banget sih???”

“Tapi belum kan? Selama belum ada pemberkatan, berarti saya masih bisa mendapatkan kamu!”

“Kamu gila, Mario! Kayak nggak ada perempuan lain aja di dunia ini…”

“Memang nggak ada. Saya yakin kamu adalah perempuan yang tepat untuk saya. Saya tahu itu sejak pertama kali bertemu kamu. Yang penting kan saya usaha dulu?”

“…”

Tentu kita tahu akhir ceritanya kan, Cathy? Akhirnya saya bisa mendapatkan kamu. Tidak gampang. Susah sekali malah. Apalagi saya harus menyusun strategi agar tidak seperti penghancur hubunganmu dengan mantan tunanganmu itu. And i won the battle. Hahahaha. Ini saja sudah membuktikan bahwa mantan tunanganmu itu tak pantas menjadi pendamping hidupmu. Kalau memang dia lelaki tulen, harusnya ia juga berusaha mempertahankanmu kan?

kreeeeeeeekkkk……

Aku menoleh ke arah pintu. Seorang perempuan paruh baya muncul dari luar ruangan. Ternyata itu ibumu. Ibumu cantik sekali. Mirip sepertimu. Aku jadi ingat bagaimana usahaku untuk mendapatkan hati ibumu. Beliau adalah satu-satunya orang yang menentang hubungan kita. Apalagi ibumu kadung simpatik dengan mantan tunanganmu itu. Tapi sepeti yang aku bilang, aku selalu bisa mendapatkan yang aku inginkan. Perihal meluluhkan hati ibumu sih kecil. Hahahhaha.

Ibumu berjalan medekatiku. Nafasnya memburu. Jalannya tergesa-gesa. Begitu sampai di hadapanku, ibumu langsung memelukku erat.

“Ada apa bu?” tiba-tiba perasaanku tak enak.

“…”

“…”

“Nak….Nak…Catherine dan ayahnya mengalami kecelakaan…kedua nyawanya tak tertolong lagi…” ujar ibumu sambil terisak.

Kemudian semua mendadak oleng. gelap. dan aku tak sadarkan diri.

Laila, Gadis Kecil Berambut Ijuk

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
ia tak bersekolah,
” tak punya biaya,” keluhnya.
ayahnya kuli, ibunya buruh cuci.
jangankan sekolah,bisa makan saja sudah untung.

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
sehari-hari bekerja demi membantu orang tua.
berdendang di atas gerbong kereta.
menyanyi lagu dangdut dengan tape butut.
suara cemprengnya menyeruak di sela kerumunan penumpang.

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
hasil mengamen tak lantas menjadi miliknya.
ia mesti berbagi dengan si punya tape,
“uang sewa tape,” begitu katanya.
ia mesti membayar preman yang memalaknya.
kadang ia hanya membawa pulang uang receh.

Laila, gadis kecil berambut ijuk
umurnya kurang lebih delapan tahun.
kadang ia cemburu pada anak sebayanya.
memakai seragam, bermain sambil bercanda di pekarangan sekolah,
memakan es krim, membeli mainan baru…
semua keriaan masa kanak-kanak.

Laila, gadis kecil berambut ijuk
umurnya kurang lebih delapan tahun.
sayang ia tak bisa memilih,
terlalu takut untuk berontak,
tak mengelak, tak menolak.
“ya mungkin sudah nasib,”

Sajak-sajak: Mengelilingi Dunia Mu

aku ingin melihat kepingan mozaik yang tersusun indah di katedral-katedral Eropa.

aku ingin menyentuh lembut pasirmu, hei gurun-gurun di Timur Tengah.

aku ingin menyapa eksotika alam Afrika.

aku ingin bercengkrama dengan rekan satu ras di benua Asia.

aku ingin mengelilingi dunia Mu, tuhan.

Celoteh Busuk : Nyaman

Mungkin saya memang tidak penuh pesona seperti orang-orang yang pernah hadir di kehidupan kamu sebelumnya. Mungkin saya tidak sehebat orang-orang yang menjadi idolamu. Tapi saya menawarkan ini untukmu : rasa nyaman. sehingga kau tak perlu menjadi orang lain.

Sunday, April 25, 2010

Dan Kamu Benar

Dan kamu benar,
ternyata aku rindu ocehan-ocehan yang tak pernah berhenti mengalir dari bibirmu.

dan kamu benar,
ternyata aku candu harum tubuhmu.
harum yang membuat nyaman sekaligus membangkitkan imaji liarku.

dan kamu benar,
ternyata aku rindu gemericing gelang kakimu ketika kau melenggang masuk ke rumahku.

dan kamu benar,
ternyata pondasi logika yang sengaja kubangun rubuh oleh perhatian tulusmu

dan kamu benar,
ternyata aku terlalu picik, terlampau bodoh,
karena menampik semua pertanda.

dan kamu benar,
ternyata aku jatuh cinta padamu.

dan kamu benar,
ternyata aku sudah terlambat.


21 april 2010, di dalam shuttle bus menuju Jakarta.

Antara Logika dan Rasa

Terkadang kita
Terlalu bersikeras
Tak pakai perasaan
Slalu berpikir logis

Terkadang kita
Terlalu terhanyut
Tak mau analisis
Slalu gunakan rasa

*mengapa kita
Tak seimbangkan saja?

Antara logika dan rasa
Mestinya seirama
Hingga kita bisa menilai
Dari berbagai sisi

ironisme

Kau adalah sosok terangkuh
Tak pernah mau akui kesalahan
Kau adalah sosok terpicik
Tak pernah mau pedulikan

Sungguh ironis,
Dibalik sikap manis

Memang tak kasat mata
Semua yang kau lakukan
Tapi pasti kau ingat
Tak kan mungkin terlupa

Jangan pernah mengira
Kau kan terbebas
Kau hanya menunggu waktu
Sebelum akhirnya
Kau terpuruk

absurd

Bergumul dengan rasa
Begitu dekat, tanpa sekat
Tapi terasing
Seperti tak pernah terwujud
Atau memang tak punya bentuk?

AH!

saya jengah,
ia amarah,
semua lengah,
tak ada jalan tengah!
ah!

kisah-kisah,
tak berarah,
enggan merekah
ah!

dulu desah,
kini resah
kita kalah
semua susah
ah!

Laila, Gadis kecil berambut ijuk

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
ia tak bersekolah,
" tak punya biaya," keluhnya.
ayahnya kuli, ibunya buruh cuci.
jangankan sekolah,bisa makan saja sudah untung.

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
sehari-hari bekerja demi membantu orang tua.
berdendang di atas gerbong kereta.
menyanyi lagu dangdut dengan tape butut.
suara cemprengnya menyeruak di sela kerumunan penumpang.

Laila, gadis kecil berambut ijuk.
umurnya kurang lebih delapan tahun.
hasil mengamen tak lantas menjadi miliknya.
ia mesti berbagi dengan si punya tape,
"uang sewa tape," begitu katanya.
ia mesti membayar preman yang memalaknya.
kadang ia hanya membawa pulang uang receh.

Laila, gadis kecil berambut ijuk
umurnya kurang lebih delapan tahun.
kadang ia cemburu pada anak sebayanya.
memakai seragam, bermain sambil bercanda di pekarangan sekolah,
memakan es krim, membeli mainan baru...
semua keriaan masa kanak-kanak.

Laila, gadis kecil berambut ijuk
umurnya kurang lebih delapan tahun.
sayang ia tak bisa memilih,
terlalu takut untuk berontak,
tak mengelak, tak menolak.
"ya mungkin sudah nasib,"

NI Hou Ma, Petjinan Bandung?

Minggu (4/4) lalu, Komunitas Aleut kembali mengadakan tur jalan kaki (ngaleut) untuk menyingkap sisi lain sejarah Kota Bandung. Tema ngaleut kali ini adalah “Menelusuri Kawasan Pecinan”. Tema yang menarik membuat orang penasaran. Maka tak heran jika peserta yang mengikuti kegiatan tersebut cukup banyak. Ada sekitar 30 orang yang menjadi peserta tur, dari mulai mahasiswa, karyawan, guru, wartawan, bahkan sampai murid SMP.

Pukul 07.30 para peserta berkumpul di depan Gedung Merdeka jdi alan Asia Afrika. Sambil menunggu peserta lain datang, mereka pun melakukan sesi perkenalan. Setelah semua peserta berkumpul, Bang Ridwan (selanjutnya disebut BR) memberikan arahan singkat mengenai rute plesiran. Ia juga menjelaskan sejarah kedatangan etnis Tionghoa di Paris van Java.

BR memaparkan bahwa ada dua versi sejarah yang menceritakan kedatangan etnis Tionghoa di Kota Bandung. Pertama, ketika Deandles membuat post weg di Bandung. Deandles mendatangkan etnis Tionghoa dari Cirebon dan memperkerjakan mereka sebagai tukang kayu di sini. Versi kedua menjelaskan bahwa warga Tionghoa yang berada di kota kembang dulunya adalah korban Perang Dipenogoro. Mereka yang merasa terancam keselamatannya sengaja pindah ke Bandung demi mendapatkan hidup yang lebih aman dan nyaman. Saya sendiri tidak tahu versi sejarah mana yang mendekati kebenaran. Namun yang pasti, warga etnis Tionghoa sudah hidup berdampingan dengan warga Bandung asli sejak sekian lama.

BR kemudian menjelaskan bahwa Pecinan yang ada di Kota Bandung memiliki keunikan tersendiri dibandingkan pecinan di kota lain. Pecinan Bandung merupakan satu-satunya perkampungan China di Indonesia yang tidak dibatasi oleh tembok. Biasanya, perkampungan China di Indonesia selalu dibatasi oleh tembok besar sehingga ada batasan yang jelas antara pemukiman pribumi dan pemukiman etnis Tionghoa. Ini merupakan kebijakan yang dibuat pemerintahan Hindia Belanda pada tahun 1826. Kebijakan itu menyatakan bahwa setiap etnik yang ada di satu kota harus disatukan dalam sebuah wilayah. Selain tidak ditembok, warga Tionghoa di Bandung pada zaman itu juga tidak harus memiliki surat izin ketika keluar dari perkampungan.

Setelah diberi uraian singkat mengenai asal mula kedatangan etnis TionghoA di Kota Bandung, para pegiat Aleut kemudian menelusuri jalan Asia Afrika. Mereka sempat berhenti di sebuah tempat di dekat kantor Pos (saya lupa nama jalannya). Di tempat itu terdapat sebuah lapangan dan beberapa garasi tua. BR megatakan bahwa pada saat pembuatan post weg, garasi ini dijadikan pos pergantian transportasi-yang ketika itu menggunakan kuda. Pos garasi ini bukan satu-satunya tempat pergantian transportasi. Pos garasi tersebut menyebar sepanjang rute pos weg. Jarak antara satu pos dengan pos lainnya sekitar 15 KM. Di sekitar pos juga selalu dibangun instal air dan penginapan (pasanggrahan) untuk peristirahatan pemerintah Hindia Belanda.

Setelah mengamati pos garasi tua, para pegiat pun melanjutkan perjalanan ke arah jalan Alkateri. BR kemudian menghentikan langkahnya di depan sebuah toko tua bernama Dezon NV. Dezon (dalam bahasa Belanda berarti Matahari) merupakan toko milik seorang berkebangsaan Jepang. Bila dilihat dari arsitekturnya yang bergaya art deco geometri, toko ini di bangun sekitar tahun 1925. Toko ini sudah berdiri sebelum Jepang menduduki nusantara. Konon kabarnya, toko Dezon NV berisi mata-mata dari Jepang. Entah benar atau tidak.

Para pegiat kemudian memasuki jalan Alkateri. Jalan ini diambil dari nama tuan tanah berkebangsaan Arab yang hidup di awal abad 20-an. Saya sendiri agak heran mengapa di kawasan pecinan terdapat sebuah jalan yang namanya so Arabic. Seingat saya, BR menjelaskan tentang hal ini. Tapi saya tidak sedang memerhatikan jadi ada beberapa bagian sejarah yang terlewat.

Di jalan Alkateri terdapat sebuah gang kecil bernama Gang Al Jabri. Dulu, gang ini merupakan pusat penjualan Opium di Kota Bandung. Sekarang Gang Al Jabri menjadi kios barang antik. Sayang hari itu tidak ada satu kios pun yang buka.

Pegiat terus menelusuri Jalan Alkateri. Mereka langsung terpana ketika melihat sebuah kedai kopi kecil bernama “Purnama”. Sebagian besar dari mereka sepertinya baru tahu bahwa di Alkateri terdapat sebuah warung kopi yang sudah berdiri sejak tahun 1929 itu. Warga Tionghoa tempo dulu selalu menyempatkan diri datang ke kedai kopi di waktu-waktu tertentu agar bisa bersosialisasi dengan lingkungan mereka. Inilah yang coba dihadirkan di warung kopi Purnama. Maka tak heran jika di waktu-waktu tertentu, warung ini ramai oleh pengunjung. Sayang para pegiat tidak sempat memasuki warung ini karena hari semakin siang.

Ketika menelusuri Jalan Alkateri, kita akan melihat sebuah gang kecil di samping kiri dan kanan blok (1 blok terdiri dari lima rumah). Gang kecil ini disebut branhang (dari bahasa Belanda yang berarti gang kabakaran). Ketika itu, kebanyakan rumah warga Tionghoa terbuat dari kayu yang rentan terbakar. Oleh karena itu, mereka membuat sebuah gang kecil yang berfungsi sebagai tempat menyelamatkan diri jika terjadi kebakaran. Sayang saat ini branhang tidak lagi berfungsi. Bahkan orang-orang yang tak bertanggung jawab sengaja melebarkan rumahnya sampai batas branghang tersebut.

Selain warung kopi Purnama, ternyata masih banyak objek kuliner yang terdapat di jalan Alkateri, yakni; lotek pincuk Alkateri, Rondo Jahe, serta Cendol Gentong. Sayang para pegiat tidak bisa menikmati panganan itu karena mereka tutup di hari Minggu.

Mereka terus melakukan perjalanan dan akhirnya melewati Pabrik Kopi paling terkenal di Kota Bandung;Kopi Aroma. Lagi-lagi para pegiat hanya bisa gigit jari karena pabrik dan kedai kopinya tutup. Padahal di hari biasa, pemilik Pabrik selalu memberikan kesempatan bagi pengunjung yang ingin melihat proses pembuatan kopi legendaris tersebut.

Pegiat melanjutkan perjalanan. Dari kejauhan, mereka bisa melihat Pasar Baru yang menjulang tinggi. Mereka melewati bangunan tersebut, menyebrang di jembatan penyebrangan, lalu kemudian berjalan lagi. BR menghentikan perjalanan dan memperlihatkan foto-foto zaman dulu. Ia kemudian memperlihatkan foto Pasar Baru zaman dulu. Saya takjub sekali melihat bangunan Pasar Baroe tempo dulu. Menurut saya, bangunan Pasar Baroe tempo dulu lebih bagus dan elegan dibandingkan bangunan yang sekarang.

Ada fakta menarik soal Pasar Baru yang sayang untuk dilewatkan. Pasar Baroe didirikan sekitar tahun 1916. Pasar ini merupakan pindahan dari pasar Ciguriang yang terbakar. Pasar Baroe juga pernah menjadi pasar paling teratur dan terbersih di Hindia Belanda. Wah, kalau dibandingkan dengan pasar baru yang sekarang , rasanya jauh berbeda ya?

Setelah diberi penjelasan seputar Pasar Baru, mereka pun melanjutkan perjalanan. Mereka melewati kios obat-obatan China “Babah Kuya” dan sempat menikmati Es Goyobod Kuno 49. Setelah beristirahat sejenak, mereka pun malanjutkan perjalanan. Panas yang menyengat membuat para pegiat kelelahan. Mereka akhirnya beristirahat lagi sambil menikmati Cakue Osin (berdiri sejak tahun 1920).

Di dekat Cakue Osin terdapat sebuah bioskop tua. Sebenarnya bioskop ini menghadap ke Kebon Jati sehingga para pegiat hanya bisa melihat bagian belakang bangunan tersebut. Bioskop ini dulu bernama Preanger, lalu berubah nama menjadi Luxor, sebelum akhirnya berganti nama menjadi Roxy. Pada tahun 1926, bioskop tersebut menayangkan film berbicara untuk pertama kalinya. Saat ini, bioskop tersebut telah beralihfungsi menjadi sebuah kantor asuransi.

Hari semakin siang dan udara Kota Bandung semakin panas. Para pegiat Aleut kembali melanjutkan perjalanan. Mereka kemudian menyusuri jalan Kebon Jati. Di sana, mereka melihat Hotel Surabaya (berdiri sejak tahun 1886) yang tengah dibangun bagian belakangnya. Mereka kemudian berjalan ke arah Gardujati dan memasuki kawasan lokalisasi terkenal di Bnadung;Saritem.

Setelah berjalan menelusuri Saritem, mereka pun sampai di jalan Kelenteng. Mereka takjub ketika melihat sebuah kelenteng dengan ornamen dan warna khas etnis Tionghoa berdiri tegak dan kokoh. Kelenteng ini bernama Kelenteng Satya Budhi. Kelenteng ini sudah berdiri sejak tahun 1865. Semula kelenteng ini bernama Kelenteng Istana Para Dewa (Hiop). Pada tahun 1885, kelenteng ini berganti nama menjadi Than Ki Ong.

Di sebelah Kelenteng Satya Budi, terdapat sebuah Vihara bernama Budha Gaya. Dulu, sebelum Konghucu diakui, warga Tionghoa menggunakan vihara sebagai “kamuflase” peribadatan mereka. Biasanya warga Konghucu beribadat di dalam vihara supaya aman dan tidak diketahui oleh pemerintah. Setelah Konghucu diperbolehkan, maka vihara itu pun membuat bangunan baru.

Sebagian dari pegiat Aleut memasuki kelenteng Satya Budhi. Kebanyakan dari mereka baru pertama kali masuk ke kelenteng. Di sana mereka memerhatikan etnis Tionghoa yang sedang beribadah, sekaligus mengabadikan momen tersebut dalam sebuah gambar.

Kelenteng Satya Budhi merupakan tempat terakhir dari plesir edisi pecinan. Meskipun lelah terlihat dari wajah mereka, tapi hal itu terbayar oleh pengetahuan serta engalaman mengesankan yang mereka dapatkan melalui ngaleut ini. Sampai jumpa lagi di plesir berikutnya! xie-xie…

Friday, April 2, 2010

Simpanan

“Kamu sinting, Lena!”

“Lebih baik aku dibilang sinting daripada tak jujur pada diri sendiri,”

“ Aku masih tak habis pikir. Kenapa kamu memilih bersamanya?”

“Aku mencintainya,”

“Ok, let me break it down to you. You gave him oh-so-called great sex and he gave you those of branded stuffs. Then you called it, what, love??? Oh come on… ”

“ Don’t start darling. You don’t know anything…”

“ Tapi kenapa harus dengan lelaki seperti itu? Kalau tujuan kamu ingin mendapat hidup yang lebih baik, aku sanggup melakukan itu!”

“ Kenapa sih kamu terus mencampuri urusanku??? We’re over, remember?”

“ Tapi aku masih peduli sama kamu! Believe me, you deserve better!”

“ Kalau kamu peduli, kamu tidak akan berpikiran dangkal seperti mereka! Kamu tidak akan menganggap hubunganku dengannya hanya berlandaskan materi dan seks. You know me, for god’s sake! ”

“ Oke, kamu mencintainya. Mungkin juga dia. Tapi dia beristri! Bahkan anak terbesarnya seusia denganmu!!! Kamu…dimana otakmu Lena? Kamu tidak kasihan pada keluarganya? Apa kata ibumu nanti kalau tahu anaknya…”

"Sejak kapan kamu peduli dengan norma-norma? BUkannya kamu selalu bilang kalau cinta itu bisa datang kapan saja, dimana saja, dan dengan siapa saja, sekalipun harus membentur norma-norma?Ah, Cukup! I can’t stand with this anymore. Sejak kapan aku punya otak kalau soal percintaan??? Bahkan aku sudah gila ketika memutuskan berpacaran denganmu, kan? Ibuku mungkin akan sekarat jika tahu akau berpacaran dengan Mas Danu. Tapi ibuku bisa mati kalau tahu aku pernah berpacaran denganmu! ”

“…”

“Dan satu lagi, having sex with a guy 1000 times better than having sex with a girl, Marina…”