Friday, February 5, 2010

Cakra dan Lysa: SAYA PROTES PADA TUHAN!

” Cakra, saya ingin berbincang dengan tuhan. Empat mata!”

” Ambil air wudhu, terus shalat malam” Jawab Cakra sambil terus menatap layar komputer di depannya. Sibuk mengedit lagu ciptaanya.

” Saya ragu cara itu akan efektif,”

” Kalau begitu, ambil silet, potong urat nadi kamu, saya jamin kamu akan bertemu langsung dengan tuhan!”

“Boro-boro bisa bertemu langsung! Yang ada saya langsung masuk neraka gara-gara bunuh diri!” Sungut saya kesal.

” Ya sudah, tunggu sampai Yaumul Ba’ats tiba!”

” Kelamaan!”

” Duh, habis saya tidak punya no telp atau YM tuhan…Eh, tuhan punya Facebook, Twitter, atau Skype tidak ya?” Ujar Cakra asal. Kalau sedang sibuk dengan dunianya, Cakra memang suka melantur kesana-kemari. Salah saya juga sih mengajak dia bicara di saat-saat seperti ini. Habis saya tidak tahu harus cerita sama siapa lagi selain dia…

” Cakraaaaaaaaa,saya serius!” jawab saya geram.

” Lho, kok jadi ngambek gitu? Tadi saya kan sudah memberikan alternatif jawaban paling benar dan masuk akal, eh… kamu malah ngeyel! Dikasih jawaban yang ngasal, kamu tambah ngeyel! Dasar kamu ini maunya apa sih…?” Kata Cakra sambil geleng-geleng kepala.

“Huh, dasar memang susah ngobrol serius sama kamu di saat-saat seperti ini!”

” Itu kamu tahu…Gimme 15 minutes, okay? Nanggung, lagi mixing…”

Saya kemudian menunggu. Lima, sepuluh, lima belas, dua puluh, dua lima…akhirnya tiga puluh menit kemudian Cakra baru menyelesaikan urusannya.

” Maaf, maaf…finishing touch-nya membutuhkan waktu yang sedikit lama. Tapi hasilnya keren! Kamu pasti suka lagu ciptaan saya! Tenang, kamu akan menjadi first listenerskok…Atau kamu mau jadi groupis saya? Boleh banget….hahaha”

“…”

“Duh, jangan ditekuk gitu dong mukanya…Tambah jelek tau! Hahahahaha…” Ujar Cakra seraya mengambil bungkus A Mild dari atas komputernya dan langsung duduk di samping saya. Cakra menyalakan rokok dengan lighter dan mulai menghisapnya perlahan. Saya selalu suka cara dia merokok. Gayanya ketika menghisap batang rokok dan mengeluarkan asap dari mulutnya begitu khas. Dia memang sangat menikmati saat-saat merokok.Seolah hanya ada dia dan rokok. Rokok baginya adalah barang berharga yang tidak boleh dibiarkan habis begitu saja. Saya juga selalu suka melihatnya dari samping. Gambaran lelaki sempurna! Siluet kesempurnaan fisik dipadu sifat lelakinya yang kental membuat saya takjub sekaligus heran. Tuhan pasti baru menang lotere enam milyar ketika menciptakan dia!


“Cakra, saya ingin berbincang dengan tuhan. Tidak, tidak, saya mau protes pada-Nya!” Kata saya sambil memainkan Ibanez milik Cakra.

” Karena?” Selain semakin terlihat jantan, ternyata rokok juga bisa membuat kamu kembali bersikap normal.

” Saya lelah…Kenapa saya selalu dikasih cobaan? Kok kayanya saya tidak pernah dikasih kesempatan untuk bahagia ya?”

” Namanya juga manusia, pasti selalu dikasih cobaan…”

” Tapi kok saya dikasihnya berturut-turut gitu? Bahkan cobaan yang saya hadapi seringnya datang bersamaan. Sepertinya tuhan tidak mau memberikan kesempatan bagi saya untuk berbahagia. Bahkan menghela nafas sebentar pun tidak!”

“Saya lelah…Saya tidak sanggup! Masalah keluarga,masalah finansial, masalah di kampus, masalah percintaan, masalah eksistensi dan aktualitas diri…semua datang dalam waktu bersamaan! Saya tidak sanggup, Cakra…” Lanjut saya lemah.

” Tentu kamu pernah dengar salah satu ayat Al-Insyirah yang bunyinya: Bersamaan dengan kesulitan selalu ada kemudahan? Kalau tuhan memberi kamu ujian,sekalipun terus-terusan, berarti kamu memang sanggup untuk menghadapinya! Tidak ada masalah yang tidak bisa dihadapi manusia…Tuhan sudah menjamin itu kan? “

“Ah, tumben kamu insaf dan memberi nasihat dari sudut pandang agama! Biasanya kamu kan realis…”

” People changed , Lysa…I’v told that last nite …”

” Teman-teman saya kok terlihat bahagia-bahagia saja? Kalau pun mereka punya masalah, paling-paling seputaran kecengan, jerawatan, atau berat berat yang merangkak naik! Tidak sepelik saya…Kamu juga nampak tidak pernah mengalami masalah berat…Kenapa sih semua orang selalu diberi kebahagiaan sedang saya tidak? Saya kok malang terus? Kenapa harus saya? Apa salah saya? Saya bahkan sudah menjalankan kewajiban-Nya! Tapi kenapa saya terus dirundung masalah?” Nada bicara saya meninggi. Saya rasanya ingin memuntahkan semua saat itu juga.

” Kamu tahu alasannya kenapa? Karena kamu selalu melihat ke atas dan kurang bersyukur…Buktinya, kamu mengeluh seperti ini…”

” Tapi saya…” Air mata yang sedari tadi saya tahan akhirnya tak bisa dibendung lagi. Cakra memandang saya lekat-lekat. Rokoknya sengaja ia matikan.

” Kamu tahu, manusia dan tuhan itu ibarat sedang membuat film. Tuhan sutradaranya. kita, manusia, adalah aktornya. Kita harus menuruti apa kata sang sutradara, mengikuti semua arahan dan petunjuknya. Untuk apa? Agar akting kita bagus dan natural…Supaya kita bisa mendapatkan Oscar atau Citra karena akting kita yang bagus itu. Sang sutradara bisa saja membiarkan kita akting pas-pasan, kaku, dibuat-buat…Tapi dia tidak mau aktornya hanya jadi ejekan kritikus film…”

” Ah, analogi yang bagus Cakra! Tapi sayang skenario yang tuhan beri untuk saya buruk sekali…masa saya jadi orang malang melulu? Kenapa saya tidak jadi tokoh protagonis, antagonis, atau cameo saja sekalian?”

” Tapi kalau peran itu yang membuat kamu mendapatkan penghargaan? Tuhan tentu tidak memberikan peran ke sembarang orang, kan? Justru kamu adalah aktris kesayangannya… “

” Tapi saya lelah! Saya tidak sanggup menjadi aktris kesayanganya kalau harus begini terus! Persetan dengan semua!”

” Kamu sedang emosi, Lysa…Saya tahu kondisi kamu sekarang. Saya tahu kamu sedang berada di masa sulit…Tapi setelah semua ini berhasil kamu lewati, kamu akan mengerti kenapa tuhan memberikan peran ini.. .”

“Ah, sok bijak kamu!” jawab saya sambil melengos pergi..